Musi Online https://musionline.co.id 29 April 2026 @15:27 14 x dibaca 
Pasien RS AR Bunda Prabumulih Diduga Bunuh Diri di Kamar Mandi, Manajemen Sampaikan Duka Mendalam.
Musionline.co.id, Prabumulih – Suasana duka dan kepanikan menyelimuti Rumah Sakit AR Bunda Prabumulih setelah seorang pasien rawat inap ditemukan meninggal dunia di kamar mandi ruang perawatan.
Peristiwa tragis ini terjadi pada Selasa pagi, 28 April 2026, sekitar pukul 05.00 WIB dan langsung menjadi perhatian masyarakat luas.
Korban diketahui bernama Marsidi (63), warga Jalan Gurati, Kelurahan Prabujaya, Kecamatan Prabumulih Timur.
Ia merupakan pasien yang tengah menjalani masa pemulihan pasca operasi yang dilakukan beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 24 April 2026.
Saat kejadian, korban dirawat di ruang Ibnu Sina, yakni ruang rawat inap kelas III.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa ini pertama kali diketahui oleh anak korban, Yadi Hartono, yang saat itu sedang menjaga ayahnya di ruang perawatan.
Pagi itu, sekitar pukul 05.00 WIB, Yadi terbangun dan mendapati tempat tidur ayahnya kosong.
Merasa khawatir, ia kemudian berusaha mencari ke sekitar ruangan. Kecurigaan muncul ketika pintu kamar mandi di dalam ruang perawatan tertutup rapat dari dalam.
Yadi mencoba membuka pintu, namun tidak mendapat respons.
Dalam kondisi panik, ia kemudian meminta bantuan petugas keamanan rumah sakit serta keluarga pasien lain yang berada di sekitar lokasi.
Setelah beberapa saat, mereka memutuskan untuk mendobrak pintu kamar mandi.
Saat pintu berhasil dibuka, suasana seketika berubah menjadi histeris. Korban ditemukan dalam kondisi tergantung dengan leher terjerat kain berwarna cokelat. Korban dipastikan telah meninggal dunia di lokasi kejadian.
Penanganan Awal dan Proses Penyelidikan
Pihak rumah sakit yang menerima laporan langsung bergerak cepat dengan menghubungi aparat kepolisian.
Tidak lama kemudian, tim Inafis dari Polres Prabumulih tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Jenazah korban kemudian dievakuasi untuk dilakukan visum guna memastikan penyebab pasti kematian.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi serta pihak terkait.
Kasi Humas Polres Prabumulih, AKP Baratanata SE, menyampaikan bahwa pihaknya belum dapat memberikan kesimpulan final terkait penyebab kematian.
“Kami masih melakukan penyelidikan dan mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi serta pihak terkait. Untuk penyebab pasti kematian, kita tunggu hasil visum,” ujarnya.
Meski dugaan awal mengarah pada tindakan bunuh diri, aparat menegaskan bahwa semua kemungkinan masih terbuka hingga hasil penyelidikan resmi diumumkan.
Peristiwa ini terjadi di kamar mandi dalam ruang rawat inap Ibnu Sina RS AR Bunda Prabumulih pada Selasa, 28 April 2026, sekitar pukul 05.00 WIB.
Namun, dugaan sementara menyebutkan kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 04.00 WIB saat pasien berada di dalam kamar mandi.
Dari keterangan pihak rumah sakit, korban sebenarnya menunjukkan perkembangan kondisi yang cukup baik pasca operasi.
Bahkan, pada hari keempat masa perawatan, tim medis telah merencanakan pasien untuk mulai melakukan aktivitas ringan seperti belajar berjalan secara bertahap.
Hal ini disampaikan oleh Humas RS AR Bunda Prabumulih, Martini. Ia menjelaskan bahwa secara medis kondisi pasien tidak menunjukkan tanda-tanda memburuk.
“Pada hari keempat ini, pasien sebenarnya sudah dijadwalkan untuk mulai belajar berjalan, baik hari ini atau besok, tergantung kondisi terakhirnya,” jelasnya.
Namun, di tengah proses pemulihan tersebut, terjadi peristiwa yang tidak terduga. Pihak rumah sakit mengaku sangat terkejut karena kejadian serupa belum pernah terjadi sebelumnya.
“Terus terang, kami juga sangat terkejut karena kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di sini. Kami berharap ke depan tidak ada lagi kejadian serupa,” tambah Martini.
Sikap Manajemen Rumah Sakit
Direktur RS AR Bunda Prabumulih, dr Harry Wahyudhy Utama, menegaskan bahwa seluruh tim medis telah menjalankan tugas secara maksimal sesuai standar pelayanan kesehatan.
“Kami sudah berupaya maksimal dalam memberikan pelayanan kesehatan, mulai dari tindakan operasi hingga masa pemulihan. Bahkan, malam sebelum kejadian, kondisi pasien dalam keadaan membaik dan direncanakan pulang keesokan harinya,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kejadian ini merupakan hal yang tidak diharapkan dan berada di luar kendali pihak rumah sakit. Meski demikian, manajemen tetap bertanggung jawab dengan melakukan evaluasi menyeluruh.
Sebagai bentuk empati, pihak rumah sakit turut mendampingi keluarga korban, termasuk membantu proses penanganan jenazah hingga pengantaran ke rumah duka.
Evaluasi dan Langkah Ke Depan
Peristiwa ini menjadi perhatian serius bagi manajemen rumah sakit. Evaluasi akan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sistem pengawasan pasien, peningkatan keamanan, hingga peninjauan standar operasional prosedur (SOP).
Pengawasan terhadap pasien, khususnya yang berada dalam masa pemulihan atau memiliki kondisi tertentu, akan menjadi fokus utama perbaikan ke depan.
“Kami akan terus melakukan evaluasi dan berupaya memberikan pelayanan terbaik agar kepercayaan masyarakat semakin meningkat,” tutup dr Harry.
Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi terkait peristiwa ini dan menunggu hasil resmi penyelidikan.
Kejadian ini juga menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kondisi fisik dan psikologis pasien selama menjalani perawatan.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban serta menjadi refleksi bagi semua pihak, terutama fasilitas layanan kesehatan, untuk meningkatkan kualitas pengawasan dan pelayanan. (***)
0 Komentar