Musi Online https://musionline.co.id 29 September 2025 @18:37 173 x dibaca 
Peringati Hari Bahasa Isyarat Internasional, Jembatan Ampera Bersinar Biru, Prima Salam: Dukungan Nyata untuk Kesejahteraan Tunarungu.
Musionline.co.id, Palembang – Suasana Kota Palembang pada Minggu malam (28/9/2025) tampak berbeda dari biasanya.
Ikon kebanggaan masyarakat, Jembatan Ampera, yang biasanya berhiaskan cahaya merah menyala, malam itu bersinar biru.
Warna biru tersebut bukan tanpa makna, melainkan sebagai simbol solidaritas dan dukungan dalam memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII) 2025 yang jatuh setiap tanggal 29 September.
Wakil Wali Kota Palembang, Prima Salam, mengatakan langkah ini merupakan wujud nyata komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dalam mendukung Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin).
Tak hanya Jembatan Ampera, ikon kota lainnya, Kambang Iwak, juga turut diterangi cahaya biru.
“Biasanya Jembatan Ampera selalu berwarna merah, tetapi pada momen penting ini kita jadikan biru sebagai simbol solidaritas dan penghormatan bagi saudara-saudara kita dari komunitas tunarungu,” ungkap Prima Salam.
Prima juga menyampaikan apresiasi kepada komunitas Gerkatin Sumatera Selatan yang terus menginspirasi melalui berbagai kegiatan positif.
Menurutnya, kehadiran organisasi ini mampu menguatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya bahasa isyarat sebagai jembatan komunikasi yang setara.
“Selamat Hari Bahasa Isyarat Internasional 2025. Gerkatin adalah inspirasi bagi kita semua. Semoga semangat ini menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan,” tambahnya.
Ucapan Terima Kasih dari Komunitas Tunarungu
Ketua DPD Gerkatin Sumsel, Desi Ana Amelia, mengaku terharu atas perhatian yang diberikan Pemkot Palembang. Menurutnya, dukungan ini sangat berarti bagi komunitas tunarungu, bukan hanya di Palembang, tetapi juga secara luas di Sumatera Selatan.
“Kami sangat berterima kasih. Dukungan seperti ini membuat kami merasa diperhatikan, sekaligus menjadi penyemangat untuk terus memperjuangkan hak-hak komunitas tunarungu,” ujar Desi.
Gerkatin Sumsel, yang saat ini memiliki lebih dari 300 anggota dengan sekitar 175 orang tersebar di berbagai daerah di Sumsel, terus aktif dalam memperjuangkan kesetaraan.
Dalam rangka memperingati HBII tahun ini, mereka mengadakan sejumlah kegiatan seperti pawai dan sosialisasi bahasa isyarat di ruang-ruang publik.
Meski dukungan terus mengalir, Desi mengingatkan bahwa masih banyak tantangan yang dihadapi komunitas tunarungu. Salah satunya adalah keterbatasan akses terhadap pekerjaan, pendidikan inklusif, dan layanan kesehatan yang ramah disabilitas.
“Harapan kami, pemerintah tidak berhenti hanya pada simbolisasi. Kami ingin ada lebih banyak program nyata, seperti pelatihan kerja, beasiswa pendidikan, hingga layanan kesehatan dengan fasilitas bahasa isyarat,” jelasnya.
Menurut Desi, Hari Bahasa Isyarat Internasional yang diperingati secara global pada 23–29 September setiap tahunnya seharusnya menjadi momentum refleksi.
“Bahasa isyarat bukan hanya alat komunikasi, tetapi hak asasi manusia. Semua orang berhak untuk bisa berkomunikasi dengan setara,” tegasnya.
Dukungan yang Diharapkan Berlanjut
Pemkot Palembang sendiri menyatakan komitmennya untuk terus mendukung komunitas tunarungu, tidak hanya dalam perayaan simbolis tetapi juga dalam kebijakan jangka panjang.
Prima Salam menegaskan, pemerintah terbuka untuk bekerja sama dengan organisasi masyarakat, termasuk Gerkatin, dalam merancang program-program pemberdayaan.
“Semoga dengan sinergi yang baik, ke depan Palembang bisa menjadi kota yang lebih inklusif, ramah terhadap penyandang disabilitas, dan memberi kesempatan yang sama untuk semua warganya,” tutup Prima Salam.
Malam itu, cahaya biru di Jembatan Ampera bukan sekadar pemandangan indah. Ia menjadi simbol pengingat bahwa setiap warga, termasuk tunarungu, adalah bagian penting dari masyarakat yang perlu mendapat ruang, perhatian, dan kesempatan yang setara. (***)
0 Komentar