Musi Online https://musionline.co.id 18 December 2025 @17:56 189 x dibaca 
Kadiskominfo Ogan Ilir Diduga Aniaya Bawahan hingga Alami Sakit di Ulu Hati, FR Mengaku Khilaf dan Sampaikan Permintaan Maaf.
Musionline.co.id, Ogan Ilir - Kasus dugaan kekerasan yang melibatkan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Ogan Ilir berinisial FR terhadap salah satu bawahannya kembali menjadi perhatian publik.
Insiden yang disebut terjadi di lingkungan Kantor Dinas Kominfo Ogan Ilir pada Selasa, 16 Desember 2025 tersebut kini telah dilaporkan ke pihak kepolisian dan memicu beragam reaksi, baik dari internal aparatur sipil negara (ASN) maupun masyarakat luas.
Korban dalam peristiwa ini adalah seorang perempuan berinisial R, yang diketahui menjabat sebagai kepala bidang di Dinas Kominfo Ogan Ilir.
Kepada awak media, R menuturkan bahwa insiden bermula saat FR mendatangi ruang kerjanya dalam kondisi emosi yang tidak stabil.
Menurut pengakuannya, FR terlihat marah, mengoceh dengan nada tinggi, serta membanting sejumlah berkas di atas meja kerja.
Keributan tersebut bahkan terdengar hingga ke ruangan lain dan mengundang perhatian beberapa pegawai yang berada di sekitar lokasi.
Sejumlah staf disebut berusaha menenangkan dan melerai situasi yang semakin memanas.
Namun, saat R mencoba keluar dari ruangan dengan maksud menghindari konflik yang berlarut-larut, ia mengaku justru mengalami kekerasan fisik.
“Pada saat saya hendak keluar, saya merasakan tendangan di bagian perut hingga ulu hati. Rasanya sangat sakit,” ungkap R.
Ia menyebut tindakan itu terjadi meskipun beberapa pegawai lain telah mencoba menahan dan mencegah FR agar tidak bertindak lebih jauh.
Akibat kejadian tersebut, R mengaku mengalami keluhan kesehatan dan langsung memeriksakan diri ke Rumah Sakit Hermina Jakabaring untuk memastikan kondisi fisiknya.
Ia juga menegaskan bahwa peristiwa tersebut telah dilaporkan secara resmi ke Polres Ogan Ilir agar dapat diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Saya berharap persoalan ini ditangani secara profesional dan objektif, karena menyangkut keselamatan dan martabat seorang pegawai,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kominfo Ogan Ilir, FR, memberikan klarifikasi terkait tudingan tersebut.
Ia membantah telah melakukan penganiayaan terhadap bawahannya sebagaimana yang disampaikan oleh R.
Menurut FR, tidak pernah ada niat maupun tindakan kekerasan fisik dalam peristiwa tersebut.
FR menjelaskan bahwa kemarahannya saat itu dipicu oleh persoalan pekerjaan, khususnya terkait dokumen surat pertanggungjawaban yang dinilai tidak sesuai dengan bukti pendukung.
Selain itu, ia menyebut terdapat sejumlah permasalahan lain yang dianggap sebagai bentuk kelalaian dalam pelaksanaan tugas oleh R selaku kepala bidang.
“Emosi saya memang memuncak saat itu karena akumulasi masalah pekerjaan. Namun bukan berarti saya melakukan penganiayaan,” jelas FR.
Ia juga menyampaikan bahwa suasana tegang tersebut segera diredakan setelah beberapa pegawai turun tangan untuk melerai.
Lebih lanjut, FR menyinggung adanya dinamika komunikasi yang kurang harmonis antara dirinya dan R.
Ia menyebut R kerap membantah atau menjawab teguran pimpinan, sebuah sikap yang menurutnya telah berlangsung cukup lama dan dinilai tidak sejalan dengan etika kerja birokrasi.
Meski demikian, FR mengakui bahwa sebagai pimpinan, ia seharusnya mampu mengendalikan emosi dan membina bawahan dengan pendekatan yang lebih bijak. Ia pun menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas kegaduhan yang terjadi.
“Saya menyadari bahwa saya khilaf dalam meluapkan emosi. Saya menyampaikan permintaan maaf atas kejadian ini,” ucapnya.
Hingga kini, kasus tersebut masih dalam penanganan aparat kepolisian. Publik menanti langkah tegas dan transparan dari pihak berwenang serta sikap Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir dalam menyikapi persoalan yang mencoreng citra birokrasi tersebut.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya profesionalisme, pengendalian emosi, dan etika kepemimpinan dalam lingkungan pemerintahan. (***)
0 Komentar