Musi Online https://musionline.co.id 10 June 2026 @19:28 23 x dibaca 
Ratusan Petani di Muara Enim Terdampak Kekeringan, 132 Hektare Sawah Belum Terairi JIAT.
Musionline.co.id, Muara Enim – Ratusan petani di Desa Tanjung Jati, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, mengeluhkan kekeringan yang melanda lahan persawahan mereka.
Sedikitnya 132 hektare sawah di kawasan ataran Lecah Paye mengalami kekurangan pasokan air, sehingga petani tidak dapat melakukan pengolahan lahan maupun penanaman padi pada musim tanam IP 200 tahun ini.
Kondisi tersebut terjadi meskipun di kawasan itu telah dibangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) pada tahun 2025.
Hingga pertengahan 2026, petani menilai jaringan irigasi tersebut belum memberikan manfaat nyata karena belum berfungsi maksimal untuk mengaliri sawah masyarakat.
Fakta Utama
Luas terdampak
132 hektare
Sawah mengalami kekeringan di Desa Tanjung Jati.
Warga terdampak
±500 KK
Sekitar 95% merupakan keluarga petani.
Kawasan Lecah Paye
±700 hektare
Mencakup Tanjung Jati, Lubuk Emplas, Muara Lawai, dan Kepur.
Potensi hasil panen
10,5 ton/ha
Rata-rata hasil panen yang diharapkan petani.
Lecah Paye Jadi Tumpuan Ratusan Keluarga
Ataran Lecah Paye merupakan kawasan pertanian seluas kurang lebih 700 hektare yang tersebar di beberapa desa, yakni Tanjung Jati, Muara Lawai, Lubuk Emplas, dan Kepur.
Dari total luas tersebut, sekitar 132 hektare berada di Desa Tanjung Jati dan menjadi salah satu sentra produksi padi masyarakat setempat.
Ketua Gapoktan Sumber Harapan Desa Tanjung Jati, Fitriansyah, mengatakan bahwa persoalan utama yang dihadapi petani saat ini adalah ketersediaan air untuk memasuki musim tanam IP 200.
"Kendala di ataran Lecah Paye ini soal pengadaan air karena sudah masuk musim tanam IP 200. Selama ini petani memanfaatkan kondisi alam dengan tadah hujan," kata Fitriansyah, Selasa (9/6/2026).
JIAT Dibangun, Manfaat Belum Dirasakan
Menurut Fitriansyah, pemerintah telah membangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) pada tahun 2025 sebagai bagian dari upaya mendukung produktivitas pertanian.
Di lapangan terdapat sedikitnya tujuh titik sumur bor JIAT, namun seluruhnya belum dapat difungsikan secara maksimal.
Akibatnya, petani tidak memperoleh pasokan air yang memadai untuk membajak sawah maupun menanam padi.
Kondisi ini dinilai ironis karena proyek tersebut diharapkan menjadi solusi atas persoalan kekeringan yang selama ini berulang terjadi di kawasan tersebut.
"Pasca pembangunan pada tahun lalu hingga saat ini belum terasa asas manfaat terhadap pertanian masyarakat. Kami juga belum menerima penjelasan secara pasti mengenai kendala yang menyebabkan jaringan tersebut belum bisa mengaliri sawah," ujarnya.
Musim Tanam Tertunda
Juni seharusnya menjadi periode penting bagi petani untuk memulai tanam padi IP 200.
Namun cuaca yang mulai memasuki musim kemarau membuat kebutuhan air semakin mendesak. Tanpa pengairan, petani terpaksa menunda pengolahan lahan.
Fitriansyah menegaskan bahwa masyarakat telah berupaya mencari solusi secara mandiri, termasuk membuat sumur bor tambahan dan berbagai upaya lain.
Namun kapasitasnya masih belum mampu memenuhi kebutuhan air untuk areal persawahan yang luas.
"Petani berharap agar JIAT yang dibangun pemerintah segera dapat difungsikan untuk mencukupi kebutuhan penanaman IP 200. Hingga saat ini masyarakat belum bisa merasakan fungsi nyata dari pembangunan tersebut," katanya.
Harapan terhadap Ketahanan Pangan
Petani di Lecah Paye juga menilai keberhasilan pengairan kawasan tersebut penting untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.
Dengan tersedianya air, produktivitas padi diharapkan dapat meningkat dan risiko gagal tanam dapat ditekan.
Berdasarkan keterangan Gapoktan, sawah di kawasan Tanjung Jati memiliki potensi hasil panen rata-rata sekitar 10,5 ton per hektare.
Oleh karena itu, keterlambatan musim tanam dikhawatirkan akan berdampak pada produksi beras dan pendapatan petani.
500 KK Bergantung pada Sawah
Fitriansyah menyebut sekitar 500 kepala keluarga (KK) menggantungkan penghidupan pada lahan sawah di kawasan tersebut. Sekitar 95 persen di antaranya merupakan keluarga petani.
"Sudah berulang kali masyarakat mengalami gagal tanam pada penanaman padi IP 200 karena kurangnya air. Karena itu kami berharap JIAT segera diaplikasikan dan benar-benar berfungsi untuk pengairan sawah masyarakat," ujarnya.
Petani Minta Penjelasan dan Percepatan
Selain meminta percepatan pengoperasian JIAT, masyarakat juga berharap ada penjelasan terbuka mengenai hambatan teknis yang menyebabkan jaringan irigasi belum berfungsi optimal.
Transparansi dinilai penting agar petani mengetahui langkah penyelesaian yang sedang dilakukan.
Hingga berita ini disusun, petani masih menunggu tindak lanjut dari pihak terkait agar sistem pengairan dapat segera dimanfaatkan.
Mereka berharap kekeringan di 132 hektare sawah Desa Tanjung Jati tidak berlarut-larut sehingga musim tanam IP 200 tetap dapat berjalan dan produksi pangan daerah tetap terjaga. (***)
0 Komentar