Musi Online https://musionline.co.id 05 July 2026 @14:59 24 x dibaca 
UNSRI Olah Sampah Organik Jadi Kompos dan Pupuk Cair, Perkuat Komitmen Wujudkan Kampus Zero Waste.
Musionline.co.id, Ogan Ilir – Universitas Sriwijaya (UNSRI) terus mempertegas komitmennya dalam menciptakan lingkungan kampus yang hijau, bersih, dan berkelanjutan melalui program terpadu pengolahan sampah organik.
Berbagai inovasi diterapkan untuk mengurangi volume limbah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sekaligus mengubah sampah organik menjadi produk bernilai guna seperti kompos, vermikompos, pupuk organik cair (POC), hingga mulsa alami.
Program tersebut menjadi salah satu langkah strategis UNSRI dalam mendukung konsep Zero Waste Campus, yaitu sistem pengelolaan lingkungan yang mengutamakan pengurangan, pemanfaatan kembali, dan pengolahan limbah agar seminimal mungkin berakhir sebagai sampah.
Melalui Unit Pengolahan Sampah, UNSRI mengelola limbah organik yang berasal dari aktivitas sehari-hari di lingkungan kampus, seperti dedaunan kering, potongan rumput, sisa makanan dari kantin, hingga kotoran hewan.
Semua limbah tersebut diproses menggunakan berbagai metode yang ramah lingkungan sehingga menghasilkan produk yang bermanfaat untuk mendukung penghijauan kawasan kampus.
Kepala Kantor Hubungan Masyarakat (Humas) dan Protokoler UNSRI, Dr. Nurly Meilinda, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari komitmen universitas dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sekaligus membangun budaya peduli lingkungan di kalangan civitas akademika.
"UNSRI terus berupaya mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA dengan mengoptimalkan pengolahan sampah organik menjadi produk yang memiliki nilai guna. Program ini juga menjadi sarana edukasi bagi civitas akademika untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan," ujar Dr. Nurly Meilinda.
Pengomposan Konvensional Jadi Solusi Pengurangan Sampah Organik
Salah satu metode utama yang diterapkan UNSRI adalah pengomposan konvensional (composting). Metode ini memanfaatkan proses dekomposisi alami dengan bantuan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur untuk menguraikan limbah organik.
Bahan baku yang digunakan berasal dari dedaunan kering, potongan rumput, hingga kotoran hewan yang banyak dihasilkan dari aktivitas pemeliharaan ruang terbuka hijau kampus.
Melalui proses tersebut, limbah organik diubah menjadi pupuk kompos yang kaya akan unsur hara dan sangat bermanfaat untuk memperbaiki struktur tanah.
Proses pengomposan membutuhkan waktu sekitar satu bulan hingga kompos siap diaplikasikan pada taman, kebun percobaan, dan berbagai ruang terbuka hijau yang berada di lingkungan Universitas Sriwijaya.
Selain mampu mengurangi volume sampah, penggunaan kompos juga membantu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sehingga mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Vermikompos, Inovasi Pengolahan Sampah Menggunakan Cacing Tanah
Tidak hanya mengandalkan metode pengomposan biasa, UNSRI juga mengembangkan teknologi vermicomposting atau vermikompos.
Metode ini memanfaatkan cacing tanah sebagai agen biologis untuk menguraikan sampah organik menjadi pupuk berkualitas tinggi.
Dalam proses tersebut, cacing mengonsumsi bahan organik dan menghasilkan vermicast atau kascing yang memiliki kandungan unsur hara lebih tinggi dibandingkan kompos biasa.
Pupuk hasil vermikompos dikenal mampu meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur tanah, serta meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air.
Proses pembuatan vermikompos berlangsung selama tiga hingga delapan minggu hingga pupuk siap digunakan.
Menurut Dr. Nurly Meilinda, pengembangan metode ini menjadi salah satu bentuk inovasi UNSRI dalam menciptakan sistem pengelolaan limbah yang efektif sekaligus bernilai ekonomis.
Mahasiswa Jadi Penggerak Utama Program Pengelolaan Sampah
Keberhasilan program pengolahan sampah organik di UNSRI tidak hanya didukung oleh pihak universitas, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif mahasiswa.
Peran penting dijalankan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (HILMITA) Fakultas Pertanian UNSRI yang menjadi penggerak dalam berbagai kegiatan produksi kompos maupun vermikompos.
Mahasiswa secara langsung terlibat dalam proses pengumpulan bahan organik, pengolahan, pemantauan kualitas kompos hingga pemanfaatannya untuk mendukung penghijauan kampus.
"Keterlibatan mahasiswa menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dapat disinergikan dengan proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di kelas, tetapi juga menerapkan ilmu yang dimiliki secara langsung melalui kegiatan pengolahan sampah organik," kata Dr. Nurly.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman praktis mengenai pengelolaan limbah berbasis lingkungan sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam.
Sisa Makanan Kantin Diolah Menjadi Pupuk Organik Cair
Inovasi lain yang dikembangkan UNSRI adalah pemanfaatan limbah sisa makanan dari kantin-kantin di lingkungan kampus menjadi Pupuk Organik Cair (POC).
Sebelumnya, limbah makanan berpotensi menjadi sampah yang menambah beban TPA. Namun kini, seluruh sisa makanan dikumpulkan untuk difermentasi menggunakan botol galon bekas sebagai wadah pengolahan.
Melalui proses fermentasi tersebut dihasilkan pupuk organik cair yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di area kampus.
Langkah ini tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah terhadap limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.
Pemanfaatan wadah bekas dalam proses fermentasi sekaligus menjadi bentuk penerapan prinsip penggunaan kembali (reuse) dalam pengelolaan sampah.
Dedaunan Dimanfaatkan Sebagai Mulsa Alami
Selain diolah menjadi kompos dan pupuk cair, dedaunan yang berguguran di lingkungan kampus juga dimanfaatkan melalui metode direct application atau aplikasi langsung sebagai mulsa.
Pada metode ini, dedaunan tidak langsung dibuang, melainkan dibiarkan menutupi permukaan tanah di sekitar tanaman.
Mulsa alami tersebut memiliki banyak manfaat, mulai dari menjaga kelembapan tanah, mengurangi penguapan air, menekan pertumbuhan gulma, hingga meningkatkan kandungan bahan organik tanah secara alami ketika daun mengalami pelapukan.
Cara sederhana tersebut terbukti mampu mengurangi volume sampah organik sekaligus meningkatkan kualitas lahan hijau di lingkungan kampus.
Dukung UI GreenMetric dan Wujudkan Kampus Berkelanjutan
Program pengelolaan sampah organik yang dijalankan UNSRI juga menjadi bagian penting dalam mendukung pencapaian indikator UI GreenMetric, khususnya pada aspek pengelolaan limbah.
UI GreenMetric merupakan pemeringkatan internasional yang menilai komitmen perguruan tinggi dalam menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan melalui tata kelola lingkungan kampus.
Dengan berbagai inovasi yang telah dijalankan, UNSRI berharap mampu meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan sekaligus menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain di Indonesia.
"Program pengolahan sampah organik ini merupakan bagian dari upaya UNSRI mendukung pencapaian indikator UI GreenMetric, khususnya pada aspek pengelolaan limbah. Kami berharap langkah ini dapat menjadikan UNSRI sebagai role model kampus Zero Waste yang mampu menginspirasi institusi pendidikan lainnya," tutup Dr. Nurly Meilinda.
Melalui pengolahan kompos, vermikompos, pupuk organik cair, hingga pemanfaatan mulsa alami, Universitas Sriwijaya menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar kewajiban, tetapi juga peluang untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Kolaborasi antara pihak kampus, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan visi kampus hijau yang tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan internal, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat luas dalam menerapkan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. (***)
0 Komentar