Musi Online | Harga Turun Buat Petani Menjerit, Ini Daftar Harga Karet di Kabupaten OKU
HDCU
Home        Berita        Seputar Musi

Harga Turun Buat Petani Menjerit, Ini Daftar Harga Karet di Kabupaten OKU

Musi Online
https://musionline.co.id 28 September 2025 @18:21
Harga Turun Buat Petani Menjerit, Ini Daftar Harga Karet di Kabupaten OKU
Harga Turun Buat Petani Menjerit, Ini Daftar Harga Karet di Kabupaten OKU.

Musionline.co.id, Ogan Komering Ulu – Para petani karet di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) kembali menghadapi kenyataan pahit. 
Harga karet yang menjadi tumpuan hidup mayoritas masyarakat pedesaan di wilayah ini pada September 2025 mengalami penurunan signifikan. 
Dari harga dwi mingguan Rp16.500 per kilogram, kini hanya tersisa Rp15.000/kg. 
Penurunan ini bukan hanya sekadar angka, melainkan pukulan telak bagi petani yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil sadapan getah karet.
Tak hanya harga yang turun, produksi karet pun ikut anjlok hingga 50 persen dibandingkan hari-hari normal. 
Cuaca ekstrem yang tak menentu, ditambah faktor umur pohon yang sudah tidak produktif lagi di sejumlah perkebunan rakyat, memperparah kondisi. 
Kombinasi penurunan harga dan hasil panen membuat petani karet menjerit, bahkan sebagian di antaranya mulai memikirkan cara lain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Berdasarkan data lapangan, harga karet mingguan saat ini bertahan di kisaran Rp12.000/kg. Untuk sistem bulanan, harga masih sedikit lebih baik, yaitu Rp14.500/kg. 
Namun angka ini tetap jauh dari harapan petani yang berharap harga karet bisa stabil di atas Rp16.000/kg agar mereka bisa bernapas lega.
Kondisi harga juga berbeda antara wilayah hulu dan hilir. Di kawasan hulu seperti Kecamatan Semidangaji, harga mingguan tercatat Rp12.000/kg. 
Sementara di kawasan hilir, misalnya Kecamatan Peninjauan dan sekitarnya, harga sedikit lebih tinggi yaitu Rp12.800/kg. 
Meski begitu, selisih harga tersebut tidak banyak membantu, sebab biaya angkut, pupuk, dan perawatan kebun tetap sama-sama tinggi.
Rustam (56), petani karet asal Peninjauan, mengaku tertekan dengan kondisi ini. 
Menurutnya, harga karet di wilayah hilir selalu lebih rendah dibandingkan daerah ulu. 
Ia mengingat betul bagaimana harga dwi mingguan pada Maret lalu sempat menyentuh Rp16.500/kg, namun kini terpaksa menerima Rp15.000/kg.
“Untuk harga mingguan sebelumnya sempat Rp14.500/kg, sekarang tinggal Rp13.500. Turun terus. Mau tidak mau kami tetap jual karena kebutuhan hidup tidak bisa ditunda,” keluh Rustam saat ditemui di kebunnya.
Sementara itu, Yuni, seorang petani perempuan di Kecamatan Lengkiti, mengungkapkan bahwa secara ekonomi kondisi petani karet tahun ini memang sedikit lebih baik dibandingkan tahun lalu, terutama saat harga sempat anjlok lebih parah. 
Namun, turunnya hasil panen menjadi kendala yang semakin dirasakan.
“Kami merasa cukup kalau harga stabil, meski panen sedikit. Tapi kalau harga turun lagi, tentu sangat memberatkan. Biaya pupuk, pestisida, dan kebutuhan rumah tangga terus naik. Sementara hasil sadapan karet tidak bisa menutupi,” kata Yuni dengan nada prihatin.
Di tengah situasi sulit ini, para petani berharap pemerintah daerah maupun pusat bisa memberikan perhatian lebih serius terhadap nasib mereka. 
Sebab, karet masih menjadi salah satu komoditas unggulan di OKU yang menopang perekonomian ribuan keluarga. 
Jika harga karet terus merosot, bukan tidak mungkin sebagian petani akan beralih profesi atau bahkan menelantarkan kebunnya.
Pengamat pertanian lokal menilai, solusi jangka panjang untuk menstabilkan harga karet antara lain melalui penguatan kelembagaan petani, membangun pabrik pengolahan karet di daerah, serta memperluas pasar ekspor. 
Selama ini, petani kecil masih sangat bergantung pada tengkulak dan pedagang perantara, sehingga mereka tidak memiliki posisi tawar yang kuat.
Selain itu, pemerintah diharapkan dapat menyalurkan program bantuan subsidi pupuk dan bibit unggul, agar petani mampu meningkatkan produktivitas kebunnya. 
Dengan demikian, meski harga turun, hasil panen yang melimpah bisa sedikit mengimbangi kerugian.
Para petani juga berharap adanya intervensi dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) maupun asosiasi industri karet nasional, agar harga karet bisa lebih terkontrol dan tidak mudah jatuh.
“Kalau bisa ada jaminan harga dasar untuk karet, seperti beras. Jadi petani tidak lagi cemas kalau harga tiba-tiba anjlok,” ujar Rustam penuh harap.
Meski berada dalam tekanan, semangat para petani karet di OKU untuk bertahan tidak surut. 
Mereka tetap menyadap setiap hari, membersihkan kebun, dan merawat pohon karet dengan harapan suatu saat harga akan kembali membaik.
Harapan itu pula yang membuat mereka tetap teguh, meski kenyataan saat ini cukup berat untuk dijalani. (***)



Tinggalkan Komentar Anda


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *



0 Komentar

Maroko
Top