Musi Online https://musionline.co.id 02 October 2025 @19:01 289 x dibaca 
Dampak Kasus Keracunan Makanan, BGN Nonaktifkan Sementara Satu Dapur MBG di Kabupaten OKU.
Musionline.co.id, Ogan Komering Ulu – Kasus keracunan makanan yang menimpa belasan siswa di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, akhirnya berbuntut panjang.
Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukaraya, Kecamatan Baturaja Timur, yang selama ini menjadi salah satu dapur utama program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Keputusan ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan OKU, Deddy Wijaya, melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas), Afua Amuri, pada Kamis (2/10/2025).
Menurutnya, penghentian sementara ini dilakukan sebagai bagian dari proses evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Ya, benar ada satu dapur MBG di OKU yang dinonaktifkan sementara. Ini untuk memastikan keamanan dan kualitas makanan tetap terjaga, karena keselamatan masyarakat, khususnya anak-anak penerima program, adalah prioritas utama,” jelas Afua.
Makanan Sedang Diuji Laboratorium
Sebagai tindak lanjut, sisa makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan kini telah dibawa ke laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Palembang untuk diuji.
Adapun sampel yang diperiksa meliputi ayam goreng, sayur, nasi, hingga muntahan siswa yang sempat menjadi korban.
“Kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan kandungan dalam makanan tersebut. Hasil inilah yang akan menjadi dasar pengambilan keputusan berikutnya,” tambah Afua.
Belasan Siswa Jadi Korban
Kasus keracunan ini bermula pada Selasa (23/9/2025) lalu. Sebanyak 12 siswa SMP Negeri 9 OKU dilaporkan mengalami gejala mual, pusing, hingga muntah setelah menyantap menu MBG yang disalurkan oleh penyedia layanan, PT Tidar Catering.
Kepala SMP Negeri 9 OKU, Yanti Yusipa, yang didampingi pengawas MBG sekolah, Rianti, membenarkan peristiwa tersebut.
Dari 12 siswa yang keracunan, dua di antaranya bahkan harus mendapatkan perawatan medis lebih lanjut dengan pemasangan infus akibat kondisi yang cukup parah.
Yang mengejutkan, Rianti mengungkapkan bahwa pada pukul 10.00 WIB di hari yang sama, pihak sekolah sebenarnya menerima pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp dari pihak pengelola MBG.
Pesan tersebut berisi permintaan agar pembagian makanan kepada siswa dibatalkan karena ada kekhawatiran beberapa menu, terutama ayam goreng, dalam kondisi tidak layak konsumsi.
“Namun, ketika pesan itu masuk, makanan sudah lebih dulu dibagikan kepada siswa. Akibatnya, sebagian anak langsung merasakan gejala setelah mengonsumsi menu tersebut,” ungkap Rianti.
Menurut informasi, masalah muncul akibat konsleting listrik di dapur PT Tidar Catering, yang menyebabkan proses penyimpanan makanan tidak maksimal. Kondisi ini berpotensi membuat ayam goreng yang disajikan menjadi cepat basi.
Kasus Serupa Juga Terjadi di SD Negeri 18 OKU
Ironisnya, kasus serupa juga dilaporkan terjadi di SD Negeri 18 OKU pada hari yang sama.
Beberapa siswa hampir menyantap ayam goreng yang ternyata mengeluarkan aroma busuk. Untungnya, guru-guru di sekolah tersebut lebih waspada sehingga makanan sempat ditarik kembali sebelum sempat dikonsumsi siswa.
“Saya mendapat laporan dari anak saya kalau sebagian ayam goreng MBG yang disajikan berbau busuk. Beruntung guru langsung menariknya kembali,” ungkap Yanti, salah seorang wali murid SD Negeri 18 OKU.
Ia menambahkan, meski tidak sampai menimbulkan korban di SD Negeri 18, peristiwa ini tetap menimbulkan keresahan di kalangan orang tua. “Kami berharap pihak terkait mengambil langkah tegas agar kasus seperti ini tidak terulang lagi di masa depan,” tegasnya.
Evaluasi dan Pengetatan Standar Higienitas
Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program MBG. Pemerintah daerah bersama BGN dan Dinas Kesehatan OKU kini tengah menyiapkan langkah evaluasi dan pengawasan lebih ketat.
Program MBG sendiri sejatinya bertujuan mulia, yaitu memastikan anak-anak usia sekolah mendapatkan asupan gizi seimbang agar tumbuh sehat dan cerdas.
Namun, jika pengelolaan dapur dan distribusi makanan tidak memenuhi standar keamanan pangan, program ini justru bisa menimbulkan risiko kesehatan.
“Ke depan, seluruh dapur penyedia MBG akan diwajibkan memiliki sistem cadangan energi agar tidak bergantung sepenuhnya pada listrik. Selain itu, sistem kontrol mutu dan uji kelayakan makanan sebelum distribusi juga akan diperketat,” kata Afua menambahkan.
Masyarakat OKU, khususnya para orang tua siswa, kini menaruh harapan besar agar evaluasi ini benar-benar dilaksanakan secara menyeluruh.
Mereka berharap kasus keracunan ini menjadi yang terakhir, sekaligus menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas penyelenggaraan MBG.
“Program ini sangat membantu, tapi kalau keamanannya tidak terjamin justru membahayakan. Kami hanya ingin anak-anak bisa makan sehat dan aman di sekolah,” ujar seorang wali murid SMPN 9 OKU.
Dengan adanya penonaktifan sementara dapur SPPG Sukaraya, masyarakat kini menanti hasil investigasi BPOM sekaligus langkah perbaikan yang lebih konkret dari pihak penyelenggara.
Keselamatan anak-anak tetap menjadi prioritas, dan kasus ini diharapkan menjadi titik balik untuk meningkatkan standar program MBG di seluruh Indonesia. (***)
0 Komentar