Musi Online | Ungkap Jejak Sejarah Kota Palembang Lewat Kartu Pos Kolonial, Balwana Van Palembang 2025 Hidupkan Memori Kota Tua
HDCU
Home        Berita        Ruang Seni Budaya

Ungkap Jejak Sejarah Kota Palembang Lewat Kartu Pos Kolonial, Balwana Van Palembang 2025 Hidupkan Memori Kota Tua

Musi Online
https://musionline.co.id 23 November 2025 @13:51
Ungkap Jejak Sejarah Kota Palembang Lewat Kartu Pos Kolonial, Balwana Van Palembang 2025 Hidupkan Memori Kota Tua
Ungkap Jejak Sejarah Kota Palembang Lewat Kartu Pos Kolonial, Balwana Van Palembang 2025 Hidupkan Memori Kota Tua.

Musionline.co.id, Palembang - Kota Palembang kembali menegaskan identitasnya sebagai salah satu kota tertua di Indonesia melalui gelaran Balwana Van Palembang #2 2025, sebuah pameran sejarah yang menampilkan ratusan koleksi kartu pos dan foto langka dari masa kolonial. 
Pameran yang berlangsung pada 20–29 November 2025 di Museum SMB II Palembang, kawasan Benteng Kuto Besak (BKB), ini menjadi ruang edukasi publik yang menghubungkan generasi masa kini dengan jejak visual turunan masa lalu.
Menghadirkan lebih dari 300 kartu pos, foto, arsip visual, hingga naskah kuno, pameran tersebut menempatkan Palembang sebagai pusat kajian sejarah yang kaya akan dokumentasi visual masa kolonial. 
Melalui pameran ini, masyarakat dapat menyaksikan langsung bagaimana Palembang, dari sebuah kota pelabuhan kerajaan maritim, berevolusi menjadi pusat administrasi penting pada masa Kesultanan dan akhirnya masuk ke era kolonial Belanda, Inggris, dan Jepang.
Palembang, Kota Tua yang Jejaknya Tercatat Ribuan Tahun
Palembang dikenal luas dalam literatur sejarah sebagai kota yang memiliki peradaban tua. 
Hal ini ditegaskan melalui Prasasti Kedukan Bukit, yang menyebutkan bahwa kota ini berdiri pada 16 Juni 682 Masehi, di masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. 
Di titik inilah Palembang mulai tercatat sebagai pusat perdagangan, pelayaran, dan penyebaran agama Buddha.
Berabad-abad kemudian, peradaban Palembang mencapai masa keemasan lain melalui Kesultanan Palembang Darussalam. 
Di bawah kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, yang memerintah dalam dua periode—1803–1813 dan 1818–1821—Palembang berkembang pesat dalam aspek politik, perdagangan, ekonomi, hingga budaya. 
Peninggalan Kesultanan, mulai dari manuskrip, senjata, hingga bangunan bersejarah, masih menjadi identitas kuat kota hingga kini.
Namun masa kejayaan itu terhenti setelah pecahnya konflik dengan kolonial Belanda. Pada 1 Juli 1821, Kesultanan Palembang resmi ditaklukkan, dan pada 7 Oktober 1823, Kesultanan dihapuskan sepenuhnya. Sejak saat itu, Palembang memasuki periode kolonial yang panjang.
Kartu Pos: Jejak Komunikasi, Dokumen Visual, dan Memori Sejarah
Salah satu warisan penting era kolonial adalah kartu pos. Di masa ketika surat menjadi alat komunikasi utama, kartu pos memegang peran besar dalam penyampaian pesan singkat antarwilayah. 
Kantor Pos Belanda yang berdiri di Jalan Merdeka menjadi pusat pengiriman surat dan kartu pos dari Palembang ke berbagai daerah Nusantara.
Salah satu artefak paling menarik dalam pameran Balwana Van Palembang #2 adalah kartu pos tertua yang dikirim dari Palembang ke Batavia pada 25 Desember 1874. 
Kartu pos itu ditandatangani seorang bernama Ruth Vraud, ditulis tangan dalam bahasa Belanda, dan diberi label “Briefkaart”. 
Yang mencengangkan, waktu tempuh pengirimannya hanya lima hari saja, sebuah kecepatan luar biasa untuk era kolonial.
Menurut Ulul Jihadan, perwakilan Komunitas Jejak Kartu Pos, kartu pos resmi pertama yang dicetak Kantor Pos Belanda muncul pada 1872. 
Namun pada tahun 1890, perusahaan swasta mulai memproduksi kartu pos bergambar, yang menampilkan berbagai sudut kota Palembang seperti dermaga sungai, kantor air ledeng (kini Kantor Pemkot Palembang), jembatan, kampung tepian sungai, hingga pasar tradisional.
“Gambar yang dipilih biasanya merepresentasikan identitas kota. Karena Palembang kota air, maka kebanyakan kartu posnya menggambarkan sungai, perahu, dermaga, dan permukiman tepian air,” jelas Ulul.
Memasuki tahun 1920, perusahaan swasta mendapatkan izin membuat Real Photo Postcard (RPPC)—kartu pos yang dicetak langsung dari foto asli. 
Jumlah produksinya sangat terbatas, biasanya hanya 3–5 lembar, sehingga kini menjadi incaran kolektor karena nilainya sangat tinggi.
Komunitas Jejak Kartu Pos telah mendata lebih dari 700 varian kartu pos kuno yang menggambarkan Palembang dan Plaju, namun secara fisik baru sekitar 130 varian yang berhasil ditemukan.
Deltiologi, Hobi Berburu Kartu Pos Langka
Dalam dunia filateli, pengumpulan kartu pos memiliki istilah khusus: Deltiologi. Banyak masyarakat yang masih salah mengartikan bahwa deltiologi sama dengan filateli, padahal keduanya berbeda.
“Deltiologi itu bagian dari filateli, tapi tidak semua filateli mempelajari kartu pos,” kata Ulul.
Komunitas Jejak Kartu Pos berbasis di Yogyakarta mengumpulkan kartu pos melalui berbagai cara, termasuk berburu ke kolektor lama, penjual barang antik, hingga bertukar antar kolektor internasional.
Pameran Balwana Van Palembang #2: Menghidupkan Memori Lewat Visual
Digelar pertama kali di Yogyakarta pada 2022, Balwana Van Palembang kini hadir langsung di kota asalnya, Palembang. Tahun ini, pameran menampilkan:
Ratusan kartu pos kuno
Arsip foto lama
Manuskrip Kesultanan
Naskah Perang Menteng
Dokumentasi langka sungai dan kampung air
Koleksi visual dari era Jepang dan Inggris
Menurut Sulaiman Amin, Kepala Dinas Kebudayaan Palembang, pameran ini adalah upaya strategis menghidupkan kembali ketertarikan masyarakat terhadap museum dan sejarah kota.
“Di Museum SMB II banyak sekali koleksi penting. Pameran ini jadi momentum agar generasi muda lebih mengenal sejarah Palembang,” ujarnya.
Museum Keliling dan Diskusi Budaya
Tidak hanya pameran statis, Balwana Van Palembang juga menghadirkan Museum Keliling, yang digelar di tiga lokasi:
Kafe Rumah Sintas
Panti Abdi Bersama
Lapas Perempuan Kelas II Palembang
Program ini memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang menikmati edukasi sejarah tanpa harus datang ke museum.
Selain itu, hadir pula sesi diskusi bersama sastrawan dan budayawan Anwar Putra Bayu, yang mengulas sastra Kesultanan Palembang dan Perang Menteng.
“Sejarah bukan untuk dibiarkan diam. Ia harus terus digali. Bahkan SMB II bukan hanya pemimpin, tetapi juga seorang sastrawan,” ujarnya.
Balwana Van Palembang #2 2025 bukan sekadar pameran seni atau arsip, tetapi momentum penting untuk menghidupkan kembali memori kota tua Palembang. 
Melalui kartu pos—yang pada masa lalu hanya menjadi media berkirim kabar—kita dapat melihat bagaimana Palembang tumbuh, berubah, dan berkembang.
Pameran ini menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya untuk dilihat, tetapi untuk dipahami, dirasakan, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (***)



Tinggalkan Komentar Anda


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *



0 Komentar

Maroko
Top