Musi Online https://musionline.co.id 25 March 2026 @15:39 19 x dibaca 
Midang Kayuagung, Tradisi Arak-arakan Lebaran yang Bikin Perantau Rindu Pulang ke Ogan Komering Ilir.
Musionline.co.id, Ogan Komering Ilir - Perayaan Idul Fitri di Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, selalu menghadirkan nuansa berbeda.
Bukan hanya hidangan khas seperti ketupat dan opor ayam yang menjadi daya tarik, tetapi juga sebuah tradisi budaya yang terus hidup dan dinanti setiap tahun, yakni Midang.
Midang merupakan tradisi arak-arakan khas masyarakat Kayuagung yang digelar dengan berjalan kaki sambil mengenakan busana adat lengkap, diiringi alunan musik tradisional.
Tradisi ini bukan sekadar pawai biasa, melainkan simbol kebersamaan, identitas budaya, dan sarana mempererat silaturahmi antarwarga.
Bagi masyarakat luar daerah, Midang mungkin terlihat seperti karnaval budaya. Namun bagi warga Kayuagung, tradisi ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Midang menjadi momentum untuk saling menyapa, memperkuat hubungan sosial, serta menjaga warisan leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Setiap tahun, Midang digelar pada hari ketiga dan keempat Idul Fitri. Sebanyak sebelas kelurahan di Kayuagung turut ambil bagian dalam tradisi ini.
Jalanan kota pun berubah menjadi panggung terbuka yang dipenuhi warna-warni busana adat, iringan musik, serta langkah kaki yang seirama, menciptakan suasana yang meriah sekaligus penuh makna.
Dalam arak-arakan tersebut, para peserta—mulai dari anak-anak hingga dewasa—tampil memukau dengan balutan busana adat khas Kayuagung seperti Maju Setakatan, Maju Inti, Bengian Inti, hingga Manjau Kahwin.
Kain songket yang berkilauan, selendang yang menjuntai indah, serta hiasan kepala yang sarat filosofi menjadi simbol kuat identitas budaya masyarakat setempat.
Rangkaian Midang biasanya diawali dengan pembawa tanda kelurahan dan bendera Merah Putih, kemudian diikuti oleh barisan anak-anak, para bujang dan gadis, hingga iringan musik tanjidor yang menghidupkan suasana. Kehadiran musik tradisional ini semakin memperkuat nuansa budaya yang kental dalam setiap langkah arak-arakan.
Secara umum, Midang terbagi menjadi dua jenis, yakni Midang Begorok dan Midang Bebuke. Midang Begorok biasanya digelar dalam acara hajatan seperti pernikahan atau khitanan, sedangkan Midang Bebuke lebih dikenal luas karena diselenggarakan saat perayaan Lebaran.
Dalam konteks adat pernikahan masyarakat Kayuagung, Midang juga memiliki peran penting.
Tradisi ini menjadi bagian dari rangkaian prosesi “mabang handak”, yaitu tahap ketika kedua calon mempelai telah mencapai kesepakatan menuju pernikahan.
Pada momen ini, pasangan calon pengantin diarak bersama para bujang dan gadis dari kedua keluarga untuk diperkenalkan kepada masyarakat luas sebagai bentuk pengakuan sosial dan adat.
Pada Senin, 23 Maret 2026, kemeriahan Midang terasa semakin istimewa dengan digelarnya Midang Morge Siwe (sembilan marga) di kawasan Pantai Love, yang berada di tepian Sungai Komering. Acara ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Edward Candra, serta Bupati OKI, Muchendi Mahzareki.
Di tengah arus mudik Lebaran, ribuan masyarakat tampak memadati lokasi acara. Tidak hanya warga lokal, para perantau yang pulang kampung juga turut larut dalam kemeriahan. Midang menjadi ajang temu kangen, tempat di mana kenangan masa lalu kembali hidup dan rasa rindu terhadap kampung halaman terobati.
Dalam sambutannya, Edward Candra menegaskan bahwa Midang Morge Siwe bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian dari warisan budaya tak benda yang harus terus dijaga. Ia menyebut bahwa tradisi ini mengandung nilai-nilai penting seperti kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan kepada leluhur.
Lebih lanjut, ia mendorong agar Midang terus dikembangkan dengan kemasan yang lebih menarik dan inovatif. Menurutnya, tradisi ini memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Sementara itu, Bupati OKI Muchendi Mahzareki menyampaikan bahwa Midang merupakan kebanggaan masyarakat Kayuagung yang telah diakui sebagai warisan budaya. Ia juga menyoroti tingginya antusiasme masyarakat, khususnya para perantau yang sengaja pulang untuk mengikuti tradisi ini.
Muchendi berharap kegiatan Midang dapat memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga ketertiban dan keselamatan selama pelaksanaan tradisi berlangsung.
Kini, Midang tidak hanya menjadi milik masyarakat Kayuagung semata. Tradisi ini telah berkembang menjadi ruang budaya terbuka yang menarik perhatian banyak orang, baik dari dalam maupun luar daerah. Lebih dari sekadar perayaan, Midang adalah simbol kuat bagaimana sebuah tradisi mampu bertahan di tengah arus modernisasi.
Bagi banyak perantau, Midang bukan hanya tontonan, tetapi juga panggilan pulang. Sebuah alasan sederhana namun penuh makna untuk kembali ke kampung halaman, merajut kembali kenangan, dan menjaga identitas budaya yang tak lekang oleh waktu. (***)
0 Komentar