Musi Online https://musionline.co.id 26 November 2025 @18:01 139 x dibaca 
Dua Pantomimer Palembang Meriahkan JakMime Fest 2025, Tampil Memukau dan Jadi Sumber Inspirasi di Kota Tua Jakarta.
Msionline.co.id, Jakarta - Kemeriahan Jakarta Mime Festival (JakMime Fest) 2025 yang digelar pada 25–26 November 2025 di kawasan bersejarah Taman Fatahillah, Kota Tua Jakarta, menjadi momentum penting bagi para seniman pantomim dari seluruh Indonesia.
Dari puluhan penampil yang hadir, dua pantomimer asal Palembang—Saleh dan Bebeg—berhasil mencuri perhatian ribuan pengunjung lewat gaya ekspresif, humor segar, dan teknik mime yang matang.
Keduanya hadir sebagai perwakilan Palembang Mime Club, komunitas pantomim yang konsisten melahirkan talenta baru di Sumatera Selatan.
Penampilan Saleh dan Bebeg bukan hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi banyak pengunjung bahwa seni tanpa kata memiliki kekuatan kuat dalam menyampaikan pesan, membangkitkan emosi, hingga menciptakan interaksi sosial yang hangat.
Representasi Palembang di Panggung Nasional
Sebagai seniman yang telah malang melintang di berbagai agenda seni, mulai dari Palembang, Jambi, Bogor, Bandung, Yogyakarta hingga Jakarta, kehadiran Saleh dan Bebeg menjadi bukti bahwa Palembang memiliki tradisi seni pertunjukan yang terus berkembang.
Kiprah mereka memperlihatkan bahwa pantomim tak hanya berkembang di kota-kota besar Jawa, tetapi juga di daerah lain yang memiliki ruang kreatif sama kuatnya.
“Kami bangga bisa membawa nama Palembang di panggung nasional, apalagi tampil di ruang publik ikonik seperti Kota Tua,” ujar Bebeg setelah penampilan mereka.
Menurutnya, tampil di hadapan wisatawan lokal dan mancanegara memberikan tantangan sekaligus kesempatan untuk memperluas jejaring seni.
Kota Tua Berubah Menjadi Panggung Kreatif
Gelaran JakMime Fest tahun ini menghadirkan suasana berbeda di Kota Tua. Kawasan bersejarah yang biasanya dipadati wisatawan berubah menjadi ruang apresiasi seni terbuka, di mana pertunjukan mime, atraksi teatrikal, dan aksi panggung interaktif menyatu dengan bangunan kolonial yang menjadi ciri khasnya.
Pengunjung dari berbagai usia—anak-anak, remaja, hingga orang dewasa—terlihat larut dalam setiap gerakan para mimer. Seni pantomim yang mengandalkan bahasa tubuh, ekspresi, dan visual terbukti mampu menarik perhatian tanpa perlu satu kata pun diucapkan.
Keunikan ini pula yang membuat pantomim menjadi semakin relevan di era digital. Menurut Septian Dwi Cahyo, maestro pantomim Indonesia sekaligus Ketua Asosiasi Seniman Pantomim Indonesia (ASPI), seni pantomim memiliki keunggulan universal yang membuatnya mudah diterima siapa saja.
“Dalam arus hiburan cepat dan digital, pantomim menawarkan pengalaman visual yang mendalam, menyentuh, dan tetap relevan untuk semua generasi,” ujarnya.
Tema “Funtomime” Buka Ruang Eksplorasi Baru
JakMime Fest 2025 mengusung tema “Funtomime – Fun with Mime”, sebuah konsep kreatif garapan Septian Dwi Cahyo. Tema ini memperluas batas pantomim dengan menghadirkan perpaduan lintas disiplin seni, seperti:
seni tari
teater
musik dan puisi
seni magic
budaya tradisional
multimedia dan desain kostum
Melalui pendekatan ini, festival berhasil menarik perhatian banyak kalangan, terutama generasi muda yang gemar dengan hiburan kreatif berbasis visual.
Rangkaian kegiatan festival meliputi:
pertunjukan panggung besar
street performance di titik-titik strategis Kota Tua
workshop dan edukasi seni
kolaborasi komunitas, seniman daerah, sekolah seni, hingga desainer busana profesional
Program-program tersebut sekaligus mempertegas peran Jakarta sebagai kota yang ramah terhadap seni pertunjukan, dan berpotensi menjadi barometer perkembangan pantomim di Asia Tenggara.
Saleh dan Bebeg Tampilkan Karakter Lokal yang Menarik
Dalam penampilan mereka, Saleh dan Bebeg memadukan teknik mime modern dengan karakter humor khas Palembang. Gerakan yang detail, penggambaran situasi yang jenaka, dan interaksi spontan dengan penonton membuat aksi mereka cepat viral di media sosial pengunjung.
Penyelenggara memberikan apresiasi khusus kepada keduanya karena mampu menghadirkan nuansa kearifan lokal Palembang ke dalam pertunjukan mime yang universal. Hal ini membuktikan bahwa seniman daerah memiliki kontribusi besar dalam memperkaya ragam artistik nasional.
“Kami ingin membuktikan bahwa pantomim di Palembang tidak kalah kualitas. Semoga makin banyak seniman daerah ikut festival seperti ini,” ujar Saleh.
Pantomim Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kreatif
Selain sebagai hiburan, pantomim kini mulai masuk ke ranah ekonomi kreatif modern. Dengan sentuhan teknologi dan digitalisasi, seni tanpa kata ini berpotensi berkembang melalui:
konten visual kreatif
workshop dan pelatihan seni
produksi pertunjukan profesional
kegiatan edukasi dan pariwisata budaya
Dalam konteks itulah JakMime Fest menjadi wadah penting untuk mempertemukan para pelaku seni, komunitas, dan pemerintah.
“Dengan ruang apresiasi yang luas, pantomim bisa menjadi medium untuk mengungkapkan identitas budaya dan kreativitas bangsa,” tutup Septian.
Festival yang Diharapkan Jadi Agenda Tahunan
Keberhasilan penyelenggaraan JakMime Fest 2025 tidak lepas dari dukungan Pemprov DKI Jakarta, ASPI, komunitas seni, serta partisipasi seniman dari berbagai daerah termasuk Palembang. Publik pun berharap festival ini dapat menjadi agenda tahunan yang memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat seni pertunjukan nasional.
Keikutsertaan Saleh dan Bebeg menjadi catatan penting bahwa pantomim Indonesia terus berkembang, tidak hanya di pusat kota besar, tetapi juga melalui kontribusi seniman daerah yang penuh kreativitas.
Dengan kolaborasi yang semakin luas dan apresiasi masyarakat yang meningkat, masa depan seni pantomim di Indonesia tampak semakin cerah dan menjanjikan. (***)
0 Komentar