Musi Online https://musionline.co.id 07 April 2026 @17:43 114 x dibaca 
Spekulasi Bermunculan Usai Kebakaran Makam Keramat Puyang Gunung Ibul di Prabumulih, Polisi Masih Selidiki Penyebab.
Musionline.co.id, Prabumulih - Kota Prabumulih dihebohkan oleh peristiwa kebakaran yang melanda makam keramat Puyang Ratu Pase atau yang lebih dikenal sebagai Puyang Gunung Ibul pada Minggu malam, 5 April 2026 sekitar pukul 19.00 WIB.
Insiden yang terjadi di kawasan Gunung Ibul ini langsung menyita perhatian masyarakat luas, baik warga lokal maupun netizen di media sosial.
Makam Puyang Gunung Ibul selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi yang kerap diziarahi warga, tidak hanya dari Prabumulih tetapi juga dari berbagai daerah di Sumatera Selatan.
Kebakaran tersebut menghanguskan bangunan semi permanen yang menaungi makam, meski dipastikan tidak menimbulkan korban jiwa.
Peristiwa ini dengan cepat viral di berbagai platform media sosial. Beragam spekulasi pun bermunculan dari netizen.
Sebagian mengaitkannya dengan hal-hal mistis, sementara yang lain mencoba melihat kejadian ini secara rasional sebagai musibah biasa.
Salah satu pengguna media sosial mengimbau agar masyarakat tidak langsung mengaitkan kejadian tersebut dengan hal-hal supranatural.
Di sisi lain, ada pula yang beranggapan bahwa insiden tersebut merupakan pertanda tertentu.
Tak sedikit juga warganet yang menilai kebakaran kemungkinan besar disebabkan oleh faktor kelalaian manusia, seperti puntung rokok atau api dari dupa yang tidak dipadamkan dengan baik.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kebakaran pertama kali diketahui oleh warga yang berada di sekitar kawasan Islamic Center Prabumulih.
Dari lokasi tersebut, terlihat kobaran api muncul dari area makam yang tidak jauh dari pusat kegiatan keagamaan tersebut.
Warga yang menyaksikan kejadian itu segera melaporkan kepada Ketua RW setempat, Effendi (56), serta warga lainnya.
Setelah menerima laporan, Effendi langsung menuju lokasi untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Saat tiba di tempat kejadian, api sudah membesar dan melalap bangunan pelindung makam.
Tanpa menunggu lama, laporan segera diteruskan kepada petugas pemadam kebakaran.
Tim dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Prabumulih kemudian bergerak cepat menuju lokasi dan langsung melakukan upaya pemadaman.
Berkat respons cepat tersebut, api berhasil dikendalikan sebelum menjalar lebih luas ke area hutan di sekitarnya yang dipenuhi daun kering.
Pihak kepolisian pun turut turun tangan melakukan penyelidikan. Kapolres Prabumulih melalui Kasi Humas membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa objek yang terbakar adalah bangunan semi permanen yang melindungi makam keramat Puyang Ratu Pase.
Tim Inafis bersama SPKT Polsek Prabumulih Timur telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) guna mengumpulkan bukti dan memastikan kronologi kejadian. Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan.
“Lokasi makam berada di kawasan hutan yang cukup rawan kebakaran, terutama saat musim kemarau. Ada beberapa kemungkinan penyebab, seperti puntung rokok yang dibuang sembarangan atau api dari dupa yang digunakan peziarah,” ujar pihak kepolisian.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat, khususnya para peziarah, untuk lebih berhati-hati saat berada di lokasi yang memiliki potensi risiko kebakaran tinggi.
Kebiasaan sederhana seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan dan memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi dinilai sangat krusial.
Selain itu, pemerintah daerah juga diharapkan dapat meningkatkan pengawasan di kawasan-kawasan rawan kebakaran, termasuk lokasi wisata religi seperti makam keramat.
Edukasi kepada masyarakat terkait bahaya kebakaran dan pentingnya menjaga lingkungan juga menjadi langkah preventif yang perlu diperkuat.
Kebakaran di makam Puyang Gunung Ibul tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan spiritual masyarakat setempat.
Hingga kini, kasus tersebut masih dalam penanganan aparat kepolisian untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran, sekaligus meredam spekulasi liar yang berkembang di tengah masyarakat. (***)
0 Komentar