Musi Online https://musionline.co.id 30 May 2026 @16:37 20 x dibaca 
Masyarakat Muara Enim Keluhkan Antrean BBM Solar hingga 8 Jam di SPBU Kepur, Aktivitas Kerja Terganggu.
Musionline.co.id, Muara Enim – Keluhan masyarakat terhadap sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kembali mencuat di Kabupaten Muara Enim.
Warga mengaku harus mengantre hingga berjam-jam di SPBU Kepur, Muara Enim, bahkan mencapai tujuh sampai delapan jam demi memperoleh solar untuk kebutuhan kendaraan mereka.
Kondisi ini dikeluhkan terutama oleh pemilik kendaraan berbahan bakar solar yang menggantungkan aktivitas ekonomi sehari-hari dari kendaraan tersebut.
Panjangnya antrean membuat sebagian warga terpaksa menghentikan aktivitas kerja karena harus menunggu giliran pengisian BBM.
Salah seorang warga Muara Enim, Wawan Saputra (40), mengaku sudah mengantre sejak pagi hari namun hingga siang belum juga memperoleh solar.
Ia menyebut kondisi tersebut berdampak langsung terhadap penghasilannya karena harus meninggalkan pekerjaan.
“Saya sudah antre BBM solar dari pukul 06.00 WIB, sampai sekitar pukul 14.30 WIB masih antre dan belum dapat. Hari ini saya izin tidak bekerja,” ujar Wawan saat ditemui di area SPBU Kepur Muara Enim, Jumat, 29 Mei 2026.
Menurut Wawan, persoalan ini sebenarnya telah terjadi sejak sehari sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa pada Kamis, 28 Mei 2026, dirinya sempat mendatangi SPBU Kepur untuk membeli solar, namun stok disebut tidak tersedia sehingga ia memutuskan kembali datang keesokan harinya dengan harapan bisa memperoleh BBM lebih cepat.
Namun kenyataannya, antrean justru berlangsung sangat lama hingga berjam-jam. Wawan mengaku baru mengetahui bahwa terdapat kendala teknis pada salah satu fasilitas pengisian BBM solar di SPBU tersebut.
“Tadi saya tanya ke petugas SPBU, katanya salah satu nozel mengalami kerusakan sehingga yang berfungsi hanya satu. Sebelumnya bisa dilayani dua nozel, sekarang bergantian,” katanya.
Akibat gangguan teknis tersebut, masyarakat yang biasanya hanya menunggu sekitar dua hingga tiga jam kini harus bersabar jauh lebih lama.
Menurut pengakuan sejumlah pengantre, waktu tunggu bahkan bisa mencapai tujuh sampai delapan jam, tergantung panjang antrean dan ketersediaan pasokan.
Bagi warga yang sehari-hari bekerja sebagai sopir, pengangkut barang, pekerja lapangan, maupun pelaku usaha kecil yang menggunakan kendaraan diesel, situasi ini dinilai cukup memberatkan karena waktu produktif habis di lokasi antrean.
Wawan menilai persoalan distribusi dan pelayanan BBM solar di wilayah Muara Enim perlu mendapat perhatian lebih serius, mengingat daerah tersebut dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil energi di Sumatera Selatan.
“Kami berharap ada perhatian. Muara Enim ini dikenal sebagai daerah energi, jadi masyarakat berharap pelayanan BBM bisa lebih baik dan tidak terlalu menyulitkan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keterbatasan fasilitas pengisian BBM solar di wilayah Muara Enim. Menurutnya, jumlah SPBU yang melayani pengisian solar dinilai belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat yang cukup besar.
“Setahu kami, di kawasan kota Muara Enim jumlah SPBU terbatas dan yang melayani solar juga tidak banyak. Sementara kebutuhan masyarakat cukup tinggi, termasuk dari arah Tanjung Enim dan sekitarnya,” tambahnya.
Warga berharap adanya evaluasi terhadap ketersediaan pasokan, pelayanan, maupun fasilitas SPBU agar antrean panjang tidak terus berulang dan berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Menanggapi kondisi tersebut, pengurus SPBU Kepur, Agus, membenarkan adanya gangguan teknis yang memengaruhi pelayanan pengisian BBM solar. Ia menjelaskan bahwa salah satu nozel mengalami kendala sehingga pelayanan sementara hanya dilakukan melalui satu jalur pengisian.
Menurut Agus, pihak pengelola SPBU saat ini tengah melakukan upaya perbaikan agar pelayanan bisa kembali normal.
“Kami memang mengalami gangguan teknis pada salah satu nozel solar sehingga sementara pelayanan dilakukan satu nozel secara bergantian. Saat ini kami terus berupaya melakukan perbaikan dan berkoordinasi dengan pihak terkait agar fungsi nozel bisa kembali normal,” jelas Agus saat dikonfirmasi.
Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya waktu tunggu kendaraan yang hendak mengisi solar di SPBU Kepur.
Selain persoalan teknis, Agus juga menjelaskan bahwa ketersediaan pasokan turut memengaruhi tingkat antrean masyarakat. Menurutnya, SPBU Kepur umumnya menerima pasokan solar dari Pertamina sekitar delapan ton per hari.
“Untuk solar, pasokan harian sekitar delapan ton per hari. Kalau ada pasokan tentu kami jual sampai habis,” katanya.
Terkait kondisi pada Kamis sebelumnya saat tidak ada pelayanan solar, Agus menyebut hal itu terjadi karena SPBU tidak menerima pasokan BBM jenis solar pada hari tersebut.
“Kemarin memang tidak ada penjualan solar karena tidak ada pasokan masuk,” tambahnya.
Kondisi antrean panjang BBM solar di SPBU Kepur ini pun memunculkan harapan masyarakat agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap distribusi energi di wilayah Muara Enim. Warga berharap persoalan teknis maupun keterbatasan pasokan dapat segera diatasi sehingga pelayanan kepada masyarakat kembali berjalan lancar.
Di sisi lain, masyarakat juga berharap adanya peningkatan fasilitas pelayanan dan pengaturan distribusi yang lebih optimal agar kebutuhan BBM solar, khususnya bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari kendaraan diesel, dapat terpenuhi tanpa harus menghabiskan sebagian besar waktu hanya untuk mengantre.
Hingga berita ini ditulis, antrean kendaraan di SPBU Kepur masih terlihat cukup panjang. Sejumlah warga berharap kondisi tersebut dapat segera membaik agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak terganggu berkepanjangan. (***)
0 Komentar