Musi Online https://musionline.co.id 22 July 2026 @15:24 16 x dibaca 
Antisipasi Karhutla dan Kekeringan di Sumsel, Kemenhut Gelar Operasi Modifikasi Cuaca.
Musionline.co.id, Palembang – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat langkah antisipasi terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kekeringan di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dengan menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Operasi ini menjadi salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah yang dinilai rawan karhutla, terutama saat Sumsel menghadapi musim kemarau dengan kondisi cuaca yang relatif kering.
OMC di Sumatera Selatan dilaksanakan selama 12 hari, terhitung mulai 19 hingga 30 Juli 2026.
Kegiatan tersebut berposko di Pangkalan Udara (Lanud) Sri Mulyono Herlambang, Palembang, dengan melibatkan sejumlah pihak terkait untuk mendukung kelancaran operasi, mulai dari Kementerian Kehutanan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI AU, BNPB, BPBD, hingga pemerintah daerah.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan, Thomas Nifinluri, menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC di Sumatera Selatan dilakukan sebagai langkah antisipatif menyikapi kondisi iklim dan meningkatnya risiko karhutla selama musim kemarau 2026.
Menurut Thomas, kondisi kemarau yang lebih kering dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran, khususnya di wilayah yang memiliki lahan gambut dan kawasan dengan tingkat kerawanan karhutla tinggi.
Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan upaya pemadaman ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi juga mengutamakan pencegahan sejak dini.
OMC Jadi Strategi Pencegahan Karhutla
Thomas menjelaskan, paradigma pengendalian karhutla saat ini semakin diarahkan pada upaya pencegahan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memanfaatkan kondisi awan potensial melalui operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan peluang turunnya hujan.
Hujan yang dihasilkan dari proses penyemaian awan diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi pengendalian karhutla. Selain membasahi permukaan lahan yang mulai mengering, hujan juga dapat membantu menjaga kelembapan kawasan gambut dan mempertahankan Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) agar tetap berada di atas ambang kritis.
"Perubahan paradigma pengendalian karhutla yang kini berfokus pada pencegahan, salah satunya melalui intervensi modifikasi cuaca dengan memanfaatkan awan potensial untuk menginduksi hujan," terang Thomas.
Menurut dia, upaya tersebut juga diarahkan untuk mengisi kembali sumber-sumber air yang dapat digunakan dalam penanganan karhutla. Di antaranya waduk, kanal, embung, dan kolam retensi yang berperan sebagai cadangan air ketika tim pemadam melakukan operasi di lapangan.
Dengan ketersediaan air yang lebih baik, proses penanganan kebakaran diharapkan dapat dilakukan lebih cepat apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Langkah tersebut menjadi penting karena lahan yang mengalami kekeringan cenderung lebih mudah terbakar.
Kondisi ini semakin berisiko apabila kebakaran terjadi di kawasan gambut, karena api dapat menjalar dan bertahan di bawah permukaan sehingga membutuhkan waktu serta sumber daya lebih besar untuk dipadamkan.
OMC Sumsel Berlangsung 12 Hari
Thomas menyebutkan, pelaksanaan OMC di Sumatera Selatan dijadwalkan berlangsung selama 12 hari, mulai 19 hingga 30 Juli 2026. Operasi tersebut dipusatkan dari Lanud Sri Mulyono Herlambang di Palembang.
Selama dua hari awal pelaksanaan, telah dilakukan tiga sortie penerbangan untuk melakukan penyemaian awan. Wilayah yang menjadi sasaran operasi antara lain Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, dan Kota Palembang.
Penentuan wilayah sasaran penyemaian tidak dilakukan secara sembarangan. Tim terlebih dahulu melakukan pemantauan kondisi atmosfer dan pertumbuhan awan melalui citra radar. Awan konvektif yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi hujan kemudian menjadi sasaran operasi penyemaian.
Strategi ini memungkinkan pelaksanaan OMC dilakukan secara lebih terarah dengan mempertimbangkan kondisi cuaca aktual di lapangan.
Thomas mengatakan, meskipun secara umum kondisi cuaca di sejumlah wilayah Sumatera Selatan relatif kering, masih terdapat peluang hujan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca.
"Berdasarkan laporan pengamatan curah hujan dan overlay track penyemaian awan menunjukkan bahwa teridentifikasi adanya curah hujan di sekitar lokasi penyemaian OMC, terutama di wilayah OKI," tutur Thomas.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa potensi hujan masih tersedia di sekitar wilayah operasi. Kondisi ini menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas penyemaian awan selama operasi berlangsung.
Belajar dari Pelaksanaan OMC di Riau
Pelaksanaan OMC di Sumatera Selatan juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat mitigasi karhutla di wilayah rawan kebakaran.
Sebelumnya, Kementerian Kehutanan telah melaksanakan OMC di Provinsi Riau bekerja sama dengan BMKG. Operasi tersebut menjadi salah satu contoh penerapan pendekatan pencegahan dengan memanfaatkan kondisi atmosfer untuk meningkatkan curah hujan dan membasahi wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.
Kementerian Kehutanan sendiri telah menempatkan OMC sebagai salah satu bagian dari strategi pengendalian karhutla yang lebih luas.
Langkah tersebut berjalan bersama pemantauan hotspot, patroli pencegahan, kesiapan pemadaman darat dan udara, pengelolaan lahan gambut, serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran secara melanggar ketentuan.
Di tingkat nasional, BMKG juga mencatat bahwa OMC digunakan dalam berbagai kegiatan, termasuk pembasahan gambut dan penanganan karhutla.
Data operasi BMKG mencatat pelaksanaan kegiatan OMC di sejumlah wilayah Indonesia sepanjang 2026 dengan tujuan yang antara lain berkaitan dengan pembasahan gambut dan penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci
Thomas menegaskan bahwa keberhasilan OMC tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Operasi tersebut membutuhkan kerja sama lintas sektor, terutama dalam menentukan lokasi sasaran penyemaian, memantau perkembangan cuaca, memastikan keselamatan penerbangan, hingga mengevaluasi dampak operasi.
Karena itu, Kementerian Kehutanan menyampaikan apresiasi terhadap dukungan BMKG, TNI AU, BNPB, BPBD, serta jajaran Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan pemerintah daerah lainnya.
Kolaborasi tersebut dinilai penting karena pengendalian karhutla memiliki tantangan yang kompleks.
Selain faktor cuaca dan kondisi lahan, keberhasilan pencegahan juga bergantung pada kesiapan personel, sarana prasarana, kecepatan deteksi dini, serta kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.
Pemerintah juga terus mendorong agar seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin.
Kondisi Sumatera Selatan sebagai salah satu wilayah yang memiliki kawasan gambut luas membuat langkah pencegahan menjadi sangat penting. Ketika lahan gambut mengalami kekeringan, potensi kebakaran dapat meningkat dan proses pemadaman menjadi lebih sulit.
Keselamatan dan Pemantauan Tetap Diutamakan
Dalam pelaksanaan OMC, Thomas juga mengingatkan pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP), terutama terkait keselamatan penerbangan dan proses penyemaian bahan.
Menurutnya, seluruh tahapan operasi harus dilaksanakan secara terukur, aman, dan berdasarkan hasil analisis kondisi cuaca. Pemantauan terhadap dampak penyemaian juga perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan target operasi benar-benar sesuai dengan wilayah yang membutuhkan pembasahan.
"Selama operasi berlangsung, penting untuk memperkuat sinergi dan komunikasi, utamakan keselamatan dengan mematuhi SOP keselamatan penerbangan dan penyemaian bahan, serta optimasi dan pemantauan dampak untuk memastikan target semai sesuai pada wilayah gambut yang rawan," pungkas Thomas.
Operasi Modifikasi Cuaca di Sumatera Selatan diharapkan mampu menjadi salah satu instrumen penting dalam menghadapi ancaman karhutla dan kekeringan selama musim kemarau 2026.
Namun, OMC bukan satu-satunya solusi. Pencegahan karhutla tetap membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, dunia usaha, masyarakat, hingga kelompok masyarakat peduli api.
Dengan pengawasan yang lebih ketat, deteksi dini yang cepat, kesiapan pemadaman, pengelolaan lahan gambut, serta dukungan operasi modifikasi cuaca, pemerintah berharap risiko karhutla di Sumatera Selatan dapat ditekan.
Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya menjaga kualitas lingkungan, melindungi ekosistem gambut, mencegah gangguan kesehatan akibat asap kebakaran, serta memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan selama musim kemarau.
Bagi masyarakat, kewaspadaan tetap menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak meninggalkan sumber api di kawasan rawan, serta segera melaporkan apabila menemukan kebakaran menjadi langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar.
Melalui sinergi dan pencegahan yang dilakukan sejak dini, ancaman karhutla di Sumatera Selatan diharapkan dapat dikendalikan sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih luas. (***)
0 Komentar