Musi Online https://musionline.co.id 14 August 2026 @19:12 13 x dibaca 
Debu dan Karhutla Mengintai Muara Enim Akibat Udara Kering, Kasus ISPA Capai Ribuan Orang.
Musionline.co.id, Muara Enim – Memasuki musim kemarau, masyarakat Kabupaten Muara Enim diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai gangguan kesehatan yang berpotensi muncul akibat perubahan kondisi lingkungan.
Udara yang semakin kering, debu yang mudah beterbangan, hingga ancaman asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian serius, terutama terhadap kesehatan saluran pernapasan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim mencatat adanya tren peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Ribuan kasus tercatat di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Muara Enim.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena musim kemarau dapat membuat udara lebih kering dan debu lebih mudah beterbangan.
Apabila kondisi ini disertai kebakaran hutan dan lahan, kualitas udara dapat semakin terganggu akibat paparan asap.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim, dr Eni Zatila, didampingi Ketua Tim Surveilans dan Imunisasi, Riana Julida, SKM, MEpid, mengatakan peningkatan kasus ISPA sepanjang Januari hingga Juli 2026 dapat dipengaruhi oleh kondisi musim kemarau serta potensi karhutla.
“Memang untuk tren kasus ISPA di Kabupaten Muara Enim ada peningkatan sepanjang Januari sampai Juli 2026. Penyebabnya bisa karena kemarau dan karhutla,” ujar Eni, Kamis, 13 Agustus 2026.
Kasus ISPA Tertinggi di Puskesmas Gelumbang
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim, kasus ISPA tertinggi sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat di wilayah kerja Puskesmas Gelumbang, dengan jumlah mencapai 1.281 kasus.
Selanjutnya, kasus ISPA juga cukup tinggi di wilayah kerja Puskesmas Teluk Lubuk, yang mencatat sebanyak 1.192 kasus. Sementara itu, Puskesmas Tanjung Enim mencatat 984 kasus.
Data tersebut menunjukkan bahwa gangguan saluran pernapasan masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian masyarakat, khususnya ketika kondisi cuaca memasuki periode kemarau.
Masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di luar rumah, terutama pengguna kendaraan bermotor, menjadi kelompok yang perlu lebih memperhatikan perlindungan terhadap saluran pernapasan.
Debu dari jalan, aktivitas kendaraan, maupun lingkungan yang kering dapat dengan mudah terhirup. Dalam kondisi tertentu, paparan polusi udara dan asap juga dapat memperburuk keluhan pada saluran pernapasan.
Karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim mengimbau masyarakat melakukan langkah pencegahan sederhana, salah satunya menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.
“Untuk mencegah ISPA, masyarakat diimbau menggunakan masker, khususnya saat berkendara dengan kendaraan bermotor, karena paparan debu dan polusi dapat mengganggu saluran pernapasan,” jelas Eni.
Karhutla Perlu Diwaspadai
Selain debu akibat kondisi udara kering, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi perhatian selama musim kemarau.
Asap yang ditimbulkan dari kebakaran dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan paparan partikel yang berpotensi mengganggu sistem pernapasan.
Kondisi ini tentunya perlu diantisipasi bersama, terutama apabila terjadi kebakaran di wilayah yang berdekatan dengan permukiman masyarakat.
Dinas Kesehatan mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi udara di lingkungan sekitar.
Apabila kualitas udara mulai terganggu akibat asap atau debu pekat, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, juga perlu mendapatkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
Kewaspadaan tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat untuk mencegah terjadinya kebakaran lahan serta mengurangi aktivitas yang dapat memperburuk kualitas udara.
Kasus Diare Juga Mengalami Peningkatan
Tidak hanya ISPA, Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim juga mencatat adanya peningkatan kasus diare sepanjang periode Januari hingga Juli 2026.
Kasus diare tertinggi tercatat di wilayah kerja Puskesmas Muara Enim, yakni sebanyak 573 kasus. Berikutnya, Puskesmas Teluk Lubuk mencatat 298 kasus, sedangkan Puskesmas Tanjung Enim mencatat 294 kasus.
Menurut Eni, kondisi lingkungan selama musim kemarau juga dapat berpengaruh terhadap kebersihan makanan dan minuman. Debu yang beterbangan berpotensi mencemari makanan apabila tidak ditutup atau disimpan dengan baik.
“Diare juga trennya meningkat. Banyak makanan yang bisa terkena debu sehingga kebersihan makanan harus benar-benar diperhatikan,” katanya.
Karena itu, masyarakat diminta memastikan makanan dan minuman selalu dalam kondisi bersih serta terlindungi dari debu. Bahan makanan juga harus dicuci sebelum diolah maupun dikonsumsi.
Terapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat
Untuk mengantisipasi meningkatnya penyakit selama musim kemarau, Dinas Kesehatan Muara Enim mengingatkan masyarakat agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah sederhana seperti mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah melakukan aktivitas menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan keluarga.
Masyarakat juga dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi dan memastikan bahan makanan dicuci dengan baik sebelum dimasak. Kebersihan peralatan makan dan lingkungan rumah juga perlu diperhatikan agar tidak menjadi sumber penyakit.
Selain makanan, kualitas air minum juga harus menjadi perhatian. Air yang akan dikonsumsi sebaiknya direbus hingga mendidih untuk membantu mengurangi risiko kontaminasi bakteri.
Langkah tersebut penting dilakukan karena musim kemarau dapat menyebabkan perubahan kondisi lingkungan, termasuk ketersediaan dan kualitas air di sejumlah wilayah.
Segera Tangani Jika Mengalami Diare
Dinas Kesehatan juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan diare. Kondisi tersebut dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan sehingga berisiko menimbulkan dehidrasi apabila tidak segera ditangani.
Apabila mengalami diare, masyarakat dianjurkan segera mengganti cairan tubuh yang hilang dengan mengonsumsi oralit serta memperbanyak minum air putih.
Asupan makanan yang sesuai, termasuk pisang dan makanan bergizi lainnya, juga dapat membantu menjaga kondisi tubuh. Istirahat yang cukup menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
Apabila kondisi semakin berat, berlangsung terus-menerus, atau muncul tanda-tanda dehidrasi, masyarakat sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Waspada Debu, Asap, dan Penyakit Saat Kemarau
Peningkatan kasus ISPA dan diare menjadi pengingat bagi masyarakat Kabupaten Muara Enim untuk lebih memperhatikan kesehatan selama musim kemarau 2026.
Pencegahan dapat dilakukan mulai dari hal-hal sederhana, seperti menggunakan masker ketika berada di luar rumah, mengurangi paparan debu dan asap, menjaga kebersihan makanan, mencuci tangan dengan sabun, serta memastikan air yang diminum aman.
Masyarakat juga diharapkan ikut berperan dalam mencegah karhutla dengan tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kebakaran di lingkungan sekitar.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim dr Eni Zatila berharap masyarakat tidak mengabaikan kondisi kesehatan selama musim kemarau.
Menurutnya, kewaspadaan terhadap debu, asap karhutla, kebersihan makanan, dan kualitas air merupakan langkah penting untuk menekan risiko berbagai penyakit.
“Kami mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan menjaga kesehatan diri serta keluarga. Dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta mengurangi paparan debu dan asap, risiko penyakit dapat diminimalkan,” pungkasnya.
Dengan meningkatnya kasus ISPA hingga mencapai ribuan kasus di sejumlah wilayah kerja puskesmas, kesadaran masyarakat menjadi salah satu kunci menghadapi musim kemarau.
Upaya menjaga kesehatan tidak hanya dilakukan ketika gejala penyakit muncul, tetapi perlu dimulai melalui tindakan pencegahan sejak dini. (***)
0 Komentar