Musi Online | Rekreasi Sembari Belajar Sejarah Budaya di Museum Balaputra Dewa
Hut
Home        Berita        Ruang Seni Budaya

Rekreasi Sembari Belajar Sejarah Budaya di Museum Balaputra Dewa

Musi Online
https://musionline.co.id 20 July 2022 @23:17
Rekreasi Sembari Belajar Sejarah Budaya di Museum Balaputra Dewa
Pintu utama Gedung Museum Balaputra Dewa

Musionline.co.id - Setiap tempat atau daerah mempunyai kisah masa lampau, baik itu sejarah, adat dan budaya. Pun Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pasti memiliki sejarah peradaban, apalagi di kenal sebagai tempat kerajaan besar sebelum Negara Indonesia berdiri, yaitu Kerajaan Sriwijaya.

Disini, tidak akan membahas secara mendetail kisah Sriwijaya. Namun mengajak untuk sedikit belajar tentang peninggalan-peninggalan sejarah, adat dan budaya di tanah Sumatera Selatan. Tentunya, melalui koleksi benda-benda di Museum Negeri Sumsel "Balaputra Dewa".

Museum Negeri Sumatera Selatan ini adalah museum etnografi, terletak di Jalan Srijaya 1, KM 5,5 Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Menurut Kepala UPTD Museum Negeri Sumsel, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) H Chandra Amprayadi SH, nama Balaputra Dewa berasal dari raja Sriwijaya yang memerintah pada abad ke-9 Masehi dan mantan kepala dinasti Sailendra yang berpusat di sekitar Palembang. Balaputra Dewa menampilkan sejarah dan tradisi dari Provinsi Sumsel.

Museum Balaputra Dewa adalah salah satu Museum Negeri Indonesia, mewakili masing-masing Provinsi di Indonesia.

Pembangunan museum dimulai pada tahun 1978 dan bangunannya diresmikan pada tanggal 5 November 1984. Keputusan untuk nama "Balaputra Dewa" didasarkan pada India abad ke-9 berdaulat Balaputra yang tercatat dalam prasasti yang ditemukan di Nalanda, India.

Prasasti Nalanda menyebutkan hubungannya dengan membangun sebuah biara Buddha di bawah sponsornya. Kedua namanya disebutkan ditemukan di prasasti di Jawa pada abad ke-9 masehi yang berkaitan kekalahannya di Jawa atas Rakai Pikatan, seorang penguasa dari dinasti Sanjaya, yang diminta Balaputra untuk meninggalkan Jawa dan menetap di tempat yang sekarang kota Palembang, Provinsi Sumsel.

Museum Balaputra Dewa memiliki koleksi kerajinan tradisional dan artefak yang ditemukan di Provinsi Sumsel, dari zaman prasejarah hingga zaman kolonial belanda. Koleksi ini dipamerkan dalam beberapa ruang pamer dengan display yang tertata sangat rapi.

Yok, kita masuk ke Gedung Museum Balaputra Dewa.

Ketika memasuki gedung atau pintu utama berdiri megah di Museum, pada pojok kanan ruangan pengunjung akan disambut pegawai museum yang santun dan ramah. Biasanya, pegawai akan menanyakan lebih dulu keperluan pengunjung.

Untuk tiket masuk dan berkeliling di areal Museum, harga tiketnya sangat murah lho...Untuk satu orang dewasa hanya dikenakan tarif Rp2.000 dan anak-anak Rp1.000.

Nah, setelah membayar tiket masuk dan pengunjung mengutarakan niatnya. Kemudian giliran pemandu yang akan menemani berkeliling di areal Museum.

Melewati gerbang utama pintu masuk, jika memilih ruang di sebelah kiri, pengunjung akan diperlihatkan ruang pamer benda-benda yang didapatkan pihak museum dari hibah masyarakat.

Di ruang ini, beberapa koleksi hibah dari masyarakat diantaranya Keris Palembang, Pedang Palembang, Keris Siwar dan Kujur. Bahkan ada selembar kain batik hibah dari keluarga Dr AK Gani, seorang pejuang kemerdekaan Pahlawan Nasional Indonesia di Provinsi Sumsel.

Ka UPTD Museum H Chandra mengungkapkan, batik tersebut adalah milik ibu Mastura tak lain pendamping/istri Dr AK Gani disaat-saat perjuangan.

Keluar dari ruang ini, menuju ruang selanjutnya akan dihadapkan pada beberapa ruang pamer. Diantaranya, Galeri Malaka, Gedung Pamer 1 dan ruang khusus penemuan benda-benda dari sungai Musi.

Penasaran? Mari kita bahas beberapa koleksi yang ada di Museum ini.

Tempayan Kubur

Mendengar namanya saja sudah serem ya...xixixi. Kenapa disebut tempayan kubur?

Ternyata zaman dahulu kala, manusia yang hidup di zaman itu, menguburkan orang yang sudah meninggal dalam tempayan lho...

Nah, tempayan kubur ini ditemukan pada tahun 1999 oleh Tim Peneliti Arkeologi dari Balai Arkeologi Palembang di Desa Muara Betung, Kecamatan Ulu Musi, Kabupaten Empat Lawang.

Lokasi penemuan tempayan kubur ini didekat dolmen, diduga merupakan titik pusat dari penguburan.

Ternyata, penguburan dengan menggunakan tempayan ini merupakan penguburan kedua (sekunder), karena hanya tulang-tulang tertentu saja yang masih ditemukan saat penelitian.

Di dalam tempayan kubur, juga ditemukan adanya artefak berupa periuk dan botol dari tanah liat yang kemungkinan merupakan bekal kubur.

Besarnya ukuran tempayan dan letak lokasi penguburan di dekat dolmen, mengindikasikan bahwa manusia yang dikuburkan mempunyai strata sosial lebih tinggi dibandingkan dengan rangka-rangka manusia yang dikubur secara langsung atau dimasukan kedalam tempayan yang ukurannya lebih kecil dan jauh dari dolmen.

Golok Dua Kebudayaan

Golok ini berbahan kuningan dengan hulu dan bilah yang menyatu. Ditemukan di kedalaman Sungai Musi, tepatnya di sekitar kawasan eks keraton Kerajaan Palembang, Kuto Gawang.

Pada bagian hulu yang berukir ulir kembangan menyerupai kepala perempuan (berambut panjang), terdapat ukiran timbul bermotif belah ketupat terstilir (penggabungan motif pucuk rebung/pucuk rebung ganda) dengan bunga matahari di tengahnya.

Sementara pada bagian bilah dengan sisi tajam berlekuk satu, terdapat ukiran timbul bermotif tumpal dihubungkan oleh motif sulur-suluran, sehingga membentuk ornamen rendo. Dari warnanya, tampak ornamen tersebut berbahan atau setidaknya berlapis emas.

Golok ini berbeda dengan golok pada umumnya. Golok ini memiliki pamor berukir belah ketupat terstilir dengan ornamen naga bermahkota (naga jawa) yang telah berkembang, setidaknya sejak masa Majapahit.

Dari berbagai ragam hiasnya, golok ini merupakan hasil akulturasi dua kebudayaan, yaitu Jawa dan Melayu-Palembang dengan fungsi yang lebih mengarah sebagai bagian dari ritual ataupun simbol kebesaran bagi penguasa.

Keramik Masa Kedatuan Sriwijaya

Nah, sebagian besar keramik dan fragmen keramik yang ditemukan di kedalaman Sungai Musi merujuk kepada masa Kedatuan Sriwijaya (abad VII-XIII Masehi), didominasi keramik buatan Tiongkok dari Dinasti Tang (618-907 M), Lima Dinasti dan 10 Negara (907-960 M), serta Dinasti Song (960-1279 M) yang menjadi komoditas paling diminati pada masa itu.

Keramik dan fragmen keramik masa Sriwijaya berbahan tembikar (earthenware) atau terakota dan batuan (stoneware) dengan beragam bentuk, seperti mangkuk, piring, gelas, cepuk, buli-buli, guci, teko, pasu, tempayan, vas, sendok dan cangkir.

Keramik tersebut sebagian besar tidak memiliki motif, namun dihiasi dengan guratan dan berbagai aksesoris, seperti kupingan pada guci maupun tempayan serta dilapisi glasir berwarna coklat, hijau, abu-abu, hitam dan krim. Di beberapa keramik, terdapat marking berupa tulisan beraksara Tionghoa di bagian badan (atas) dan bagian dasar.

Konon katanya, di masa Sriwijaya, keramik-keramik tersebut juga digunakan sebagai sarana ritual keagamaan dan hadiah atau upeti kepada penguasa.

Palung Batu

Palung Batu ini terbuat dari jenis batuan tufa poryxri, ditemukan di Desa Tebat Gunung, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumsel.

Ini merupakan salah satu tinggalan tradisi megalith, berfungsi untuk menyimpan tulang-belulang manusia yang sudah meninggal, juga sebagai sarana dalam prosesi upacara ritual.

Kemudi Kapal "Segede Gaban"

Kemudi kapal ini ditemukan di perairan Sungai Musi daerah Keramasan di kedalaman kisaran 35 meter dari permukaan air. Panjangnya 7,7 meter, diameter pegangan 18-30 cm, terbuat dari kayu unglen, dan beratnya sekitar satu ton.

Pada bagian bilah kemudi terdiri dari dua keping kayu (bilah satu dan dua), namun keping bagian atas (bilah dua) sudah tidak ada. Bilah satu dan dua disambung dengan pasak dan diikat tali ijuk.

Kemudi kapal ini menunjukkan ciri-ciri sebuah kapal tradisi Asia Tenggara yang berkembang pada abad 1-13 Masehi. Kemudi ini dapat dikategorikan sebagai kemudi kapal yang berukuran besar, biasa digunakan nenek moyang bangsa Indonesia untuk berdagang, berperang, dan pelayaran komersil.

Nah...itulah sedikit bahasan tentang sebagian kecil koleksi benda sejarah dan budaya di Museum Balaputra Dewa. Jangan khawatir, masih banyak koleksi yang belum diulas. Jika penasaran, datang langsung saja ya.

Setelah pengunjung keluar masuk ruang pamer, menuju areal belakang akan ditemukan rumah adat, yaitu Rumah Limas dan Rumah Lamban Ulu Ogan. Mengenai kedua rumah adat ini, akan diulas dalam tulisan terpisah. (***)


























 



Tinggalkan Komentar Anda


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *



0 Komentar

Maroko
Top