Musi Online https://musionline.co.id 08 May 2025 @18:52 282 x dibaca 
Orasi Ilmiah di Universitas Sriwijaya, Kepala Karantina Sumsel Soroti Biosekuriti dan Pentingnya Sinergi.
Musionline.co.id - Kepala Karantina Sumsel Soroti Biosekuriti dan Pentingnya Sinergi dalam Orasi Ilmiah di Unsri.
Upaya memperkuat ketahanan hayati nasional kembali disuarakan oleh Kepala Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Selatan (Karantina Sumsel), Sri Endah Ekandari.
Dalam sebuah orasi ilmiah yang disampaikan di hadapan sivitas akademika Universitas Sriwijaya, Selasa (06/05/2025), Sri Endah menegaskan bahwa sistem biosekuriti nasional hanya dapat berjalan optimal apabila terdapat kolaborasi erat antara lembaga pemerintah, dunia akademik, dan masyarakat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-48 Program Studi (Prodi) Proteksi Tanaman, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya.
Orasi ilmiah yang disampaikan oleh Sri Endah bukan hanya sekadar paparan akademik, tetapi juga menjadi momentum strategis dalam memperkuat sinergi antara Karantina Sumsel dan kalangan akademisi dalam menghadapi tantangan biosekuriti nasional.
Dalam pidatonya, Sri Endah menekankan bahwa fungsi karantina jauh lebih luas dari sekadar pemeriksaan dokumen atau pengecekan fisik terhadap komoditas yang keluar-masuk wilayah Indonesia.
Ia menyebutkan bahwa karantina merupakan benteng utama negara dalam mencegah masuknya hama dan penyakit yang berpotensi merusak sektor pertanian, perikanan, dan lingkungan hidup.
"Karantina adalah garda depan dalam sistem biosekuriti nasional. Fungsi ini membutuhkan dukungan kuat dari berbagai pihak, termasuk kalangan perguruan tinggi seperti Universitas Sriwijaya," tegasnya di hadapan para dosen dan mahasiswa.
Menurut Sri Endah, di era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini, mobilitas barang dan manusia yang tinggi membuat risiko penyebaran hama dan penyakit eksotik semakin besar.
Oleh karena itu, sistem karantina harus adaptif dan responsif, serta didukung oleh riset ilmiah dan teknologi mutakhir.
Dalam kesempatan tersebut, Sri Endah juga mengungkapkan bahwa pada 25 Maret 2025, Badan Karantina Indonesia telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Universitas Sriwijaya.
Kesepakatan ini mencakup kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, serta pengabdian masyarakat.
Kerja sama tersebut bukan hanya simbolis, melainkan menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang paham terhadap isu-isu kekarantinaan, sekaligus memperkuat budaya riset dalam menangani masalah biosekuriti.
"Kami sangat mengapresiasi kontribusi dari para alumni Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas Sriwijaya yang telah bergabung dan turut aktif dalam pelaksanaan tugas-tugas karantina. Mereka adalah contoh nyata dari sinergi antara akademisi dan praktisi," ucap Sri Endah dengan penuh semangat.
Lebih lanjut, Kepala Karantina Sumsel mengajak mahasiswa dan dosen untuk tidak berhenti pada pengembangan ilmu di kelas atau laboratorium saja, tetapi juga terlibat langsung dalam penyuluhan dan edukasi masyarakat mengenai pentingnya karantina dan perlindungan hayati.
Ia menekankan bahwa masyarakat perlu diedukasi tentang pentingnya kepatuhan terhadap regulasi kekarantinaan, terutama dalam hal lalulintas komoditas pertanian dan perikanan yang rawan membawa hama penyakit berbahaya.
"Sosialisasi karantina harus menjadi bagian dari pengabdian masyarakat. Edukasi yang tepat kepada petani, nelayan, eksportir, hingga pelaku logistik sangat penting untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit sebelum produk dikirim ke luar daerah atau luar negeri," ujarnya.
Dukungan penuh terhadap kerja sama dengan institusi pendidikan tinggi juga datang dari Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M. Panggabean.
Ia menegaskan bahwa sinergi dengan perguruan tinggi merupakan salah satu pilar strategis dalam penguatan sistem kekarantinaan nasional.
Menurut Sahat, inovasi tidak bisa berjalan sendiri. Butuh dukungan dari riset ilmiah dan SDM yang kompeten untuk menjawab tantangan zaman, terutama dalam menghadapi ancaman biologis yang terus berkembang.
"Kolaborasi dengan perguruan tinggi akan memperkaya pendekatan yang kami miliki. Kami tidak hanya mendapatkan tenaga kerja terampil, tetapi juga mitra dalam penelitian dan pengembangan sistem kekarantinaan berbasis data dan teknologi," jelas Sahat dalam keterangannya beberapa waktu lalu.
Kepala Karantina Sumsel menegaskan bahwa perlindungan tanaman adalah bagian tak terpisahkan dari ketahanan pangan nasional.
Dalam konteks perubahan iklim, urbanisasi, dan degradasi lahan, tantangan terhadap ketahanan pangan menjadi semakin kompleks.
Hama dan penyakit tanaman merupakan salah satu faktor utama penyebab kerugian hasil pertanian.
Jika tidak ditangani dengan serius, bukan hanya produktivitas yang akan menurun, tetapi juga daya saing komoditas ekspor Indonesia akan terdampak.
“Biosekuriti bukan hanya urusan teknis karantina, tapi ini soal kedaulatan pangan. Jika kita tidak bisa menjaga kualitas produk pertanian kita, maka posisi Indonesia dalam perdagangan internasional bisa terganggu,” terang Sri Endah.
Dalam sesi tanya jawab, sejumlah mahasiswa menunjukkan antusiasme besar terhadap isu-isu yang diangkat.
Beberapa dari mereka menanyakan peluang magang dan keterlibatan dalam penelitian bersama Karantina Sumsel.
Sri Endah menyambut positif semangat mahasiswa tersebut dan berharap akan ada lebih banyak riset kolaboratif di masa mendatang.
Ia juga membuka peluang diskusi lebih lanjut mengenai program magang, pelatihan, hingga riset aplikatif yang dapat menunjang tugas-tugas kekarantinaan.
"Kami siap membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Dunia karantina adalah dunia yang dinamis dan penuh tantangan, cocok untuk mahasiswa yang ingin berkontribusi langsung bagi bangsa," katanya.
Menutup orasinya, Sri Endah menyampaikan harapan agar kolaborasi antara Karantina Sumsel dan Universitas Sriwijaya dapat terus berkembang dalam berbagai aspek.
Mulai dari peningkatan kapasitas SDM, penguatan riset dan inovasi, hingga peningkatan literasi masyarakat terhadap pentingnya karantina.
"Semoga langkah-langkah kecil hari ini dapat menjadi pondasi besar bagi ketahanan hayati dan kedaulatan pangan Indonesia di masa depan," pungkasnya.
Orasi ilmiah ini bukan sekadar peringatan ulang tahun sebuah prodi, tetapi momentum penting untuk menegaskan kembali peran vital sistem karantina dan pentingnya sinergi lintas sektor.
Di tengah tantangan global yang terus berubah, kekuatan kolaborasi menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian dan pangan nasional. (***)
0 Komentar