Musi Online https://musionline.co.id 13 August 2025 @18:32 273 x dibaca 
Kisruh Pengancaman Keluarga Pasien Terhadap Dokter RSUD Sekayu: Pemkab Muba Tegaskan Tenaga Medis Harus Tetap Profesional.
Musionline.co.id, Musi Banyuasin - Viral di media sosial, dugaan kasus intimidasi dan pengancaman terhadap salah satu dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, memicu keprihatinan berbagai pihak.
Peristiwa yang terjadi pada Selasa (12/8/2025) itu melibatkan keluarga pasien dan dr. Syahpri Putra Wangsa, seorang dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit tersebut.
Rekaman video berdurasi singkat yang beredar luas menunjukkan adanya ketegangan di ruang perawatan pasien.
Dalam video tersebut, terlihat adanya upaya dari pihak keluarga pasien yang diduga memaksa dokter membuka masker di dalam ruang rawat inap, yang sebenarnya memiliki aturan ketat terkait protokol kesehatan dan sterilisasi.
Potongan video itu memicu reaksi publik, baik di dunia nyata maupun di jagat maya.
Menanggapi viralnya kasus tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muba bergerak cepat. Rabu pagi (13/8/2025), Bupati Muba H. M Toha Tohet, SH melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Muba, Dr. Apriyadi MSi, mendatangi langsung RSUD Sekayu untuk mencari keterangan dari kedua belah pihak.
Kunjungan tersebut juga dihadiri oleh anggota DPRD Muba dari Komisi IV, antara lain M. Ibrahim, Aan Cipta, Ahmad Fauzie, dan Edy Haryanto. Hadir pula Asisten I Setda Muba, Ardiansyah PhD, Plt. Kepala Dinas Kominfo yang diwakili Kabid Komunikasi Publik, Kartiko Buwono SE MM, serta Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Muba, Yettria SKM MSi.
"Kita prihatin atas kejadian seperti ini, dan jangan sampai terulang," tegas Sekda Muba, Apriyadi, di hadapan awak media.
Apriyadi menekankan bahwa meskipun pelayanan di RSUD Sekayu mungkin masih memiliki kekurangan, hal tersebut tidak pernah membenarkan tindakan intimidasi atau ancaman terhadap tenaga medis.
“Mungkin pelayanan RSUD Sekayu masih kurang, tetapi tidak dibenarkan melakukan intimidasi kepada dokter. Semua masalah bisa dibicarakan secara baik-baik,” ujarnya.
Imbauan Profesionalisme Tenaga Medis
Sekda Muba juga mengingatkan seluruh tenaga medis untuk tetap memberikan pelayanan sesuai prosedur dan bersikap profesional, meskipun menghadapi tekanan atau situasi sulit.
“Kami berharap para tenaga medis di RSUD Sekayu tetap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Muba. Kami juga memohon maaf kepada semua pihak atas kejadian ini, dan berharap tidak menimbulkan kegaduhan lebih lanjut,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa Pemkab Muba akan melakukan evaluasi internal terhadap pelayanan rumah sakit, namun juga akan mengambil langkah hukum jika ada unsur kekerasan atau ancaman terhadap tenaga kesehatan.
Sikap DPRD Muba: Prihatin, tapi Tegas Menolak Kekerasan
Dari pihak legislatif, Anggota DPRD Muba Komisi IV, Edy Haryanto, mengatakan kedatangan pihaknya ke RSUD Sekayu bertujuan untuk mendengar langsung keterangan dari kedua belah pihak yang terlibat.
“Kami tidak memihak kepada siapapun, tetapi kami prihatin atas kejadian ini. Ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua,” ujarnya.
Edy juga mengungkapkan bahwa DPRD akan terus mengawasi peningkatan fasilitas dan pelayanan RSUD Sekayu. Namun, ia menegaskan bahwa segala bentuk intimidasi dan kekerasan tidak dapat dibenarkan.
“Persoalan apapun seharusnya bisa diselesaikan dengan dialog. Kekerasan hanya akan memperburuk keadaan,” tandasnya.
Dokter Syahpri Putra Wangsa, yang menjadi pihak korban dugaan intimidasi, menjelaskan bahwa saat itu ia tengah memberikan perawatan sesuai prosedur medis.
Ia menolak permintaan keluarga pasien untuk membuka masker karena ruangan perawatan memiliki aturan ketat demi mencegah risiko infeksi.
"Pada kejadian tersebut, saya dipaksa membuka masker, padahal di dalam ruangan perawatan tidak diperbolehkan demi menjaga sterilitas," ungkapnya.
Sementara dari pihak keluarga pasien, diwakili oleh Putra (anak pasien), mengaku bahwa insiden tersebut sebenarnya telah dimediasi secara internal oleh pihak RSUD Sekayu tak lama setelah kejadian. Menurutnya, ia sudah meminta maaf secara langsung kepada dokter.
“Saya akui pada saat itu saya emosi. Kami sudah dimediasi dan saling memaafkan. Tapi kami kaget karena video itu dipenggal dan diviralkan, seolah-olah kami melakukan kekerasan,” ujarnya.
Kasus ini menuai banyak komentar di media sosial. Sebagian netizen menyoroti pentingnya menjaga etika saat berinteraksi dengan tenaga kesehatan, terutama di ruang perawatan.
Ada pula yang mendesak Pemkab Muba untuk segera meningkatkan kualitas pelayanan RSUD Sekayu agar tidak menimbulkan ketegangan dengan pasien dan keluarganya di masa depan.
Viralnya potongan video ini juga memunculkan diskusi soal etika penyebaran konten di media sosial. Banyak pihak mengingatkan bahwa menyebarkan video tanpa konteks lengkap dapat memicu kesalahpahaman publik.
Pemkab Muba berjanji akan mengambil langkah-langkah untuk mencegah kejadian serupa, termasuk:
Evaluasi Standar Pelayanan RSUD Sekayu – Memastikan seluruh prosedur medis dijalankan dengan baik, serta menambah fasilitas jika diperlukan.
Peningkatan Komunikasi Dokter-Pasien – Mengadakan pelatihan komunikasi bagi tenaga medis agar lebih efektif menyampaikan informasi kepada pasien dan keluarganya.
Sosialisasi Aturan Rumah Sakit – Mempertegas aturan protokol kesehatan dan keamanan di ruang perawatan agar dipahami semua pihak.
Pendampingan Hukum bagi Tenaga Medis – Memberikan perlindungan hukum terhadap dokter dan perawat yang menjalankan tugas sesuai SOP.
Kisruh di RSUD Sekayu menjadi pengingat bahwa hubungan antara tenaga medis dan pasien harus didasari saling pengertian, rasa hormat, dan komunikasi yang baik.
Profesionalisme dari pihak medis perlu dibarengi kesadaran masyarakat untuk mematuhi prosedur demi keselamatan bersama.
Pemkab Muba berharap kejadian ini bisa menjadi momentum perbaikan pelayanan kesehatan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menghargai profesi tenaga kesehatan. (***)
0 Komentar