Musi Online https://musionline.co.id 24 September 2025 @17:59 182 x dibaca 
Kasus Oknum Guru Diduga Pedofilia Gegerkan Lubuklinggau, Polisi Intensif Periksa Saksi.
Musionline.co.id, Lubuklinggau – Dunia pendidikan di Kota Lubuklinggau kembali tercoreng oleh ulah oknum tenaga pendidik.
Seorang guru Bimbingan dan Konseling (BK) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Lubuklinggau berinisial Al (31) diduga melakukan tindakan asusila terhadap siswinya sendiri berinisial P (12).
Kasus ini sontak menggegerkan masyarakat dan kini tengah diproses serius oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lubuklinggau.
Kasat Reskrim Polres Lubuklinggau, AKP M. Kurniawan, menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan langkah-langkah awal untuk mengungkap kasus yang menghebohkan ini.
Hingga Selasa (23/9/2025), penyidik telah memeriksa tiga orang saksi, termasuk saksi korban, saksi terlapor, dan saksi yang melihat langsung kejadian dugaan pencabulan tersebut.
“Kita telah mengamankan terlapor dan melakukan pemeriksaan terhadap tiga orang saksi. Hari ini juga sudah kita keluarkan surat panggilan untuk saksi-saksi lain yang mengetahui peristiwa ini,” ungkap AKP Kurniawan mewakili Kapolres Lubuklinggau, AKBP Adhitia Bagus Arjunadi.
Lebih lanjut, Kurniawan menyebut bahwa hingga saat ini baru ada satu korban yang melapor.
Namun, pihak kepolisian tidak menutup kemungkinan jumlah korban bertambah seiring dengan berjalannya proses penyelidikan.
“Korban sementara baru satu orang, tetapi tidak menutup kemungkinan ada korban lainnya. Karena itu, penyelidikan akan terus kita kembangkan,” tegasnya.
Jika seluruh unsur tindak pidana terbukti, Polres Lubuklinggau akan segera melakukan gelar perkara untuk menentukan status hukum Alam.
“Apabila bukti dan keterangan saksi sudah kuat, maka terlapor akan segera kita tetapkan sebagai tersangka,” tambah Kurniawan.
Kasus Menghebohkan Sekolah
Peristiwa dugaan pencabulan ini pertama kali terungkap pada Senin (21/9/2025).
Menurut informasi yang beredar, tindakan bejat sang guru terpergok langsung oleh beberapa teman korban di sekolah.
Kejadian itu sontak membuat heboh satu kelas bahkan menyebar ke seluruh lingkungan sekolah.
Namun, alih-alih mengambil langkah tegas, pihak sekolah justru disebut-sebut berusaha menutupi kasus tersebut.
Upaya itu akhirnya sia-sia karena kabar pencabulan malah viral di media sosial.
Banyak warganet yang mengecam tindakan oknum guru sekaligus menyoroti respons pihak sekolah yang dianggap tidak transparan.
“Seharusnya pihak sekolah melindungi korban, bukan malah mencoba menutup-nutupi masalah. Ini soal masa depan anak-anak, jangan dianggap sepele,” ujar salah satu wali murid yang enggan disebut namanya.
Kasus Al ini bukanlah yang pertama di Lubuklinggau. Baru-baru ini, masyarakat juga digegerkan oleh kasus serupa yang melibatkan oknum guru di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dua kasus dalam waktu berdekatan ini semakin memperburuk citra dunia pendidikan di kota tersebut.
Masyarakat menilai perlu ada pengawasan lebih ketat terhadap tenaga pendidik, khususnya yang berhubungan langsung dengan siswa. Banyak pihak mendesak agar pemerintah daerah dan dinas pendidikan bertindak cepat untuk memastikan kasus serupa tidak terulang.
“Harus ada langkah konkret dari dinas terkait. Kalau terus dibiarkan, orang tua pasti akan khawatir menitipkan anaknya di sekolah,” kata seorang tokoh masyarakat Lubuklinggau.
Polisi Janji Proses Transparan
Menanggapi sorotan publik, Polres Lubuklinggau berjanji akan menangani kasus ini secara transparan dan profesional. Kurniawan menegaskan bahwa proses hukum tetap mengedepankan perlindungan terhadap korban, apalagi usianya masih di bawah umur.
“Kami minta dukungan masyarakat untuk bersama-sama mengawal proses hukum ini. Jangan ada lagi yang coba-coba melindungi pelaku, karena ini menyangkut hak anak yang harus dijaga,” tegasnya.
Saat ini, Al masih berstatus terlapor dan ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Polisi terus mengumpulkan bukti tambahan, termasuk keterangan saksi lain dan hasil visum korban. Kasus ini dipastikan akan menjadi atensi utama pihak kepolisian mengingat dampaknya yang luas bagi dunia pendidikan di Lubuklinggau.
Dengan adanya kasus ini, masyarakat berharap aparat penegak hukum dapat memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku agar menjadi efek jera.
Selain itu, publik juga meminta pemerintah daerah serta sekolah-sekolah memperketat sistem pengawasan internal demi melindungi anak-anak dari predator seksual yang bersembunyi di balik profesi pendidik. (***)
0 Komentar