Musi Online https://musionline.co.id 01 October 2025 @17:31 97 x dibaca 
Festival Randik ke-XXI di Muba: Bupati Toha Tohet Ajak Warga Lestarikan Warisan Budaya.
Musionline.co.id, Musi Banyuasin – Semarak perayaan budaya tahunan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) kembali menggema.
Festival Randik ke-XXI Tahun 2025 resmi dibuka di Halaman Kantor Camat Sungai Lilin pada Selasa (30/9/2025), menandai dimulainya rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga 2 Oktober 2025.
Perhelatan akbar ini diawali dengan pemukulan tambo secara simbolis oleh Bupati Muba, H. M. Toha Tohet, S.H., sebuah tradisi yang sudah melekat sebagai tanda pembuka Festival Randik.
Dengan tema besar “Menjaga Warisan Budaya sebagai Identitas Daerah”, festival ini kembali menegaskan komitmen Muba untuk merawat seni dan budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi.
Pertama Kali Digelar di Kecamatan
Ada yang berbeda dengan penyelenggaraan tahun ini. Untuk pertama kalinya, Festival Randik dilaksanakan di salah satu kecamatan, bukan di ibu kota kabupaten Sekayu seperti biasanya.
Sungai Lilin terpilih sebagai tuan rumah perdana, sebuah keputusan yang disambut antusias oleh masyarakat setempat.
Plt. Camat Sungai Lilin, Irfan Afriadi, S.IP., M.Si., menjelaskan bahwa pemindahan lokasi festival merupakan langkah strategis untuk mendekatkan seni dan budaya kepada masyarakat akar rumput.
“Kita ingin masyarakat di kecamatan juga merasakan langsung atmosfer festival ini. Selain itu, kegiatan ini juga sekaligus menjadi bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Muba,” ujarnya.
Festival sebagai Ruang Edukasi
Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muba, Drs. Syafarudin, M.Si., dalam laporannya mengungkapkan kebanggaannya.
Menurutnya, Festival Randik bukan sekadar panggung hiburan, melainkan juga ruang edukasi bagi generasi muda.
Festival tahun ini mempertandingkan lima cabang utama: vokal solo, senjang, tari kreasi, irama Batang Hari Sembilan, dan monolog. Syafarudin menekankan bahwa setiap daerah di Muba memiliki kekhasan dalam irama, bait, maupun nada, sehingga festival ini menjadi ajang memperkenalkan keanekaragaman budaya lokal.
“Kami berharap kegiatan ini bisa menanamkan rasa cinta budaya sejak dini, agar anak-anak kita tidak tergerus arus digitalisasi yang sering kali lebih menonjolkan budaya kebaratan,” kata Syafarudin.
Apresiasi dari Pemerintah Pusat
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI Sumatera Selatan, Kristanto Januardi, S.S., M.M., juga hadir memberi dukungan.
Ia menilai Festival Randik merupakan bukti nyata antusiasme masyarakat Muba dalam melestarikan seni tradisi.
“Fakta bahwa festival ini sudah berlangsung 21 kali membuktikan konsistensi dan kesungguhan pemerintah daerah serta masyarakat dalam menjaga warisan budaya,” ujarnya.
Kristanto juga menyampaikan kabar menggembirakan. Setelah Tari Stabik ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun lalu, akan ada lima lagi karya budaya dari Muba yang sedang diproses untuk mendapat pengakuan serupa di tingkat nasional.
Rangkaian Lomba dan Hiburan
Festival Randik ke-XXI tidak hanya menampilkan pertunjukan seni, tetapi juga berbagai lomba yang menggabungkan kreativitas, inovasi, dan semangat kebersamaan.
Ajang ini menjadi etalase bagi pelajar, seniman, hingga pelaku UMKM untuk menunjukkan kemampuan mereka.
1. Lomba Film dan Video Profil Sekolah
Pada kategori Video Profil Sekolah tingkat SMP, SMP Negeri 1 Babat Toman berhasil meraih Juara 1.
Di kategori Film Dokumenter Umum, film “Puyang Putri Rinai Munai” tampil sebagai pemenang utama, disusul oleh “Buai” (Juara 2) dan “Warisan Rasa” (Juara 3).
Sementara pada kategori Film Fiksi Umum, film “Tomprengan Beras” keluar sebagai Juara 1, mengalahkan “Rumpun” (Juara 2) dan “Senandung Rindu” (Juara 3).
Tingkat sekolah dasar juga tidak ketinggalan. SD Negeri 1 Muara Teladan merebut Juara 1 lewat video profil bertajuk “Di Sini Aku Menemukan Harta Karunku.” Juara 2 diraih SD Negeri 2 Senawar, dan Juara 3 oleh SD Negeri 3 Sekayu.
2. Lomba Memasak Kuliner Khas Muba
Festival juga menggelar lomba memasak dengan peserta para guru se-Kabupaten Muba.
Untuk tingkat SD/MI, Kecamatan Jirak Jaya menjadi Juara 1, diikuti Kecamatan Keluang (Juara 2) dan Sungai Lilin (Juara 3).
Untuk tingkat SMP/MTs, Jirak Jaya kembali berjaya dengan merebut Juara 1, disusul Sanga Desa (Juara 2) dan Babat Toman (Juara 3).
Selain lomba, festival juga dimeriahkan dengan bazar dan stand UMKM dari berbagai kecamatan.
Berbagai produk kerajinan, kuliner tradisional, hingga inovasi makanan modern diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Ajang ini menjadi ruang promosi penting bagi para pelaku usaha kecil untuk memperluas pasar mereka.
Festival untuk Ekonomi Kreatif
Festival Randik tidak hanya menghidupkan kembali tradisi, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal.
Ribuan pengunjung yang hadir menjadi peluang bagi pedagang makanan, pengrajin, hingga pelaku wisata untuk meraup rezeki.
Menurut pengamatan panitia, setiap kali Festival Randik digelar, terjadi peningkatan transaksi ekonomi di sekitar lokasi acara.
Hal ini sejalan dengan visi pemerintah daerah menjadikan kebudayaan sebagai salah satu motor penggerak ekonomi kreatif.
Bupati Muba: Budaya adalah Identitas Kita
Dalam sambutannya, Bupati Muba H. M. Toha Tohet, S.H., menegaskan pentingnya festival ini sebagai simbol identitas masyarakat Muba.
Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga dan melestarikan tradisi lokal, mulai dari musik, tari, hingga kuliner khas daerah.
“Budaya adalah identitas kita. Tanpa budaya, kita akan kehilangan jati diri. Karena itu, Festival Randik akan terus kita laksanakan, bahkan secara bergilir di setiap kecamatan, agar seluruh masyarakat bisa terlibat,” tegasnya.
Bupati juga menyampaikan rasa bangga bahwa Festival Randik telah menjadi ikon Muba yang dikenal hingga ke tingkat nasional.
Ia berharap ke depan, festival ini bisa semakin berkembang dan menembus panggung internasional.
Warisan untuk Generasi Muda
Seiring berjalannya waktu, banyak warisan budaya tradisional yang terancam punah. Festival Randik hadir sebagai benteng untuk memastikan nilai-nilai budaya tidak hilang ditelan zaman.
Masyarakat Muba, terutama generasi muda, diharapkan dapat terlibat aktif dalam setiap kegiatan festival. Dengan begitu, mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku yang meneruskan estafet budaya daerah.
Festival Randik ke-XXI menegaskan satu pesan penting: budaya adalah warisan yang tak ternilai, yang harus dijaga bersama.
Pemerintah daerah, komunitas budaya, hingga masyarakat umum perlu berkolaborasi agar tradisi tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman.
Dengan semangat gotong royong, kreativitas, dan kebanggaan lokal, Festival Randik bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga simbol perlawanan terhadap arus homogenisasi budaya global.
Dari Sungai Lilin, gema Festival Randik 2025 menyebar ke seluruh penjuru Muba, menyatukan masyarakat dalam cinta budaya dan kebersamaan. (***)
0 Komentar