Musi Online https://musionline.co.id 06 March 2026 @13:43 56 x dibaca 
Safari Ramadan Bupati OKI: Kisah Aisyah, Gadis 13 Tahun yang Kembali Bangkit dan Siap Melanjutkan Sekolah.
Musionline.co.id, Ogan Komering Ilir - Kegiatan Safari Ramadan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) tahun 2026 membawa cerita haru sekaligus harapan baru bagi seorang gadis remaja di Desa Tanjung Sari I, Kecamatan Lempuing.
Setelah tiga tahun meninggalkan bangku sekolah, seorang gadis berusia 13 tahun akhirnya mendapat kesempatan untuk kembali melanjutkan pendidikannya.
Gadis tersebut, sebut saja Aisyah (bukan nama sebenarnya), sebelumnya terpaksa berhenti sekolah setelah menghadapi berbagai persoalan hidup yang berat.
Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, ia tinggal bersama neneknya, Saimah (69), di sebuah rumah kayu sederhana yang kondisinya jauh dari kata layak.
Kisah Aisyah terungkap ketika Bupati Ogan Komering Ilir, H. Muchendi, bersama Ketua Tim Penggerak PKK OKI, Hj. Ike Muchendi, mengunjungi Desa Tanjung Sari I dalam rangka agenda Safari Ramadan pada Rabu, 4 Maret 2026.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan pemerintah daerah menyempatkan diri berbincang langsung dengan warga. Dari pertemuan sederhana di rumah kayu milik Saimah itulah diketahui bahwa Aisyah sudah lama tidak lagi bersekolah.
Tiga Tahun Putus Sekolah
Aisyah terakhir tercatat sebagai siswa kelas V sekolah dasar. Namun sejak ditinggal kedua orang tuanya, kehidupan sehari-harinya berubah drastis. Selain menghadapi keterbatasan ekonomi, ia juga mengalami tekanan sosial di lingkungan sekolah.
Dengan suara pelan, Aisyah mengaku bahwa salah satu alasan dirinya enggan kembali ke sekolah adalah karena sering menjadi bahan ejekan teman-temannya.
Rasa malu dan tidak percaya diri membuatnya perlahan menjauh dari lingkungan sekolah. Awalnya ia hanya jarang masuk kelas, tetapi lama-kelamaan ia benar-benar berhenti bersekolah.
Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa penyebab anak putus sekolah tidak selalu berkaitan dengan faktor ekonomi semata. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka partisipasi sekolah untuk kelompok usia 13–15 tahun di Kabupaten OKI sebenarnya cukup tinggi, yakni mencapai 89,12 persen.
Meski demikian, masih ada sebagian anak yang terpaksa meninggalkan pendidikan akibat faktor sosial, psikologis, maupun kondisi keluarga.
Pada usia remaja awal, penerimaan sosial memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan mental anak. Ketika seorang anak merasa tidak diterima di lingkungannya, motivasi belajar dapat menurun bahkan hilang sama sekali.
Pemerintah Fasilitasi Pendidikan
Mengetahui kondisi tersebut, Bupati OKI H. Muchendi menegaskan bahwa pemerintah daerah akan membantu agar Aisyah dapat kembali mengenyam pendidikan.
Menurutnya, pendidikan tetap menjadi kunci utama bagi masa depan anak, terlepas dari kondisi keluarga yang sedang dihadapi.
“Pendidikan tetap penting, apa pun keadaan keluarga. Pemerintah akan memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan agar ia bisa kembali belajar,” ujar Muchendi.
Untuk mengejar ketertinggalannya, Aisyah akan didampingi mengikuti pendidikan kesetaraan melalui Program Paket A yang setara dengan sekolah dasar. Program ini diharapkan dapat membantu Aisyah menuntaskan jenjang pendidikan dasar sebelum melanjutkan ke tingkat berikutnya.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten OKI juga memastikan kebutuhan perlengkapan sekolahnya terpenuhi melalui program bantuan seragam sekolah gratis.
Rumah Nenek Aisyah Dipugar
Tak hanya fokus pada pendidikan, pemerintah daerah juga memperhatikan kondisi tempat tinggal Aisyah dan neneknya. Rumah kayu yang sebelumnya rapuh dan tidak layak huni kini diperbaiki melalui program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Program tersebut bertujuan agar keluarga Saimah memiliki hunian yang lebih aman, sehat, dan nyaman untuk ditempati.
Bagi Saimah, bantuan ini sangat berarti. Selama ini ia harus merawat cucunya seorang diri di tengah keterbatasan.
“Saya hanya ingin cucu saya sekolah lagi, supaya nasibnya bisa lebih baik dari kami,” ucap Saimah dengan mata berkaca-kaca.
Dukungan Psikologis bagi Anak
Ketua TP PKK OKI, Hj. Ike Muchendi, menilai bahwa dukungan keluarga dan lingkungan sangat penting bagi perkembangan anak, terutama bagi anak perempuan yang sedang memasuki masa remaja.
Menurutnya, anak pada usia tersebut sedang berada pada fase pencarian jati diri sehingga membutuhkan perhatian dan pendampingan dari orang dewasa.
“Anak-anak di usia ini sedang mencari jati diri. Mereka perlu didengar, dipahami, dan didampingi. Kita ingin memastikan ia tumbuh dengan percaya diri dan tidak merasa sendirian,” kata Ike Muchendi.
Ia juga menambahkan bahwa TP PKK OKI akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, pemerintah desa, serta pihak sekolah untuk memberikan pendampingan secara berkelanjutan kepada Aisyah.
Pendampingan tersebut tidak hanya berkaitan dengan proses belajar, tetapi juga kesiapan psikologis agar Aisyah dapat kembali beradaptasi dengan lingkungan pendidikan.
Harapan Baru untuk Masa Depan
Saat ditanya mengenai keinginannya, Aisyah mengaku sebenarnya masih memiliki cita-cita untuk melanjutkan sekolah seperti teman-temannya.
“Saya sebenarnya ingin sekolah lagi,” ujarnya singkat.
Kisah Aisyah menjadi gambaran bahwa upaya mengembalikan anak putus sekolah ke bangku pendidikan memerlukan pendekatan yang menyeluruh.
Tidak hanya bantuan ekonomi atau fasilitas pendidikan, tetapi juga dukungan sosial, psikologis, dan lingkungan yang positif.
Melalui kombinasi program pendidikan kesetaraan, bantuan seragam sekolah, serta perbaikan rumah melalui program RTLH, Pemerintah Kabupaten OKI berharap Aisyah dapat kembali menata masa depannya.
Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik angka statistik pendidikan, masih ada cerita nyata tentang anak-anak yang membutuhkan perhatian dan dukungan agar tidak tertinggal dalam meraih masa depan yang lebih baik. (***)
0 Komentar