Musi Online https://musionline.co.id 07 April 2026 @17:46 67 x dibaca 
Kisah Haru Keluarga Jalan Kaki 3 Bulan dari Surabaya ke Muba, Diselamatkan Polisi di OKU.
Musionline.co.id, Ogan Komering Ulu - Perjalanan panjang penuh haru dan perjuangan dialami satu keluarga yang nekat berjalan kaki selama lebih dari tiga bulan demi pulang kampung.
Kisah ini terjadi di ruas Jalan Lintas Sumatera, tepatnya di Desa Batu Kuning, Kecamatan Baturaja Barat, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), dan kini menjadi perhatian publik.
Keluarga tersebut terdiri dari Widodo (50), istrinya Naila (32), serta putri mereka Aluna (8).
Mereka ditemukan oleh jajaran Polres OKU dalam kondisi memprihatinkan pada Minggu sore (5/4/2026) sekitar pukul 15.30 WIB.
Saat itu, ketiganya tampak kelelahan sambil membawa dua tas besar di tengah cuaca panas yang menyengat.
Penemuan ini berawal ketika tiga personel Polres OKU, yakni Erwinsyah, M. Anwar, dan Gilang, tengah dalam perjalanan kembali ke Mapolres usai menangani kasus pencurian kendaraan bermotor.
Di tengah perjalanan, mereka melihat keluarga tersebut berjalan kaki dengan kondisi mencurigakan dan terlihat sangat lelah.
Merasa prihatin, petugas langsung menghentikan kendaraan dan mendekati keluarga tersebut untuk memastikan kondisi mereka.
Setelah dilakukan komunikasi, terungkap kisah pilu yang telah mereka jalani selama berbulan-bulan.
Widodo menjelaskan bahwa mereka sebenarnya hendak pulang ke kampung halaman di Kabupaten Musi Banyuasin, tepatnya di wilayah Sungai Lilin.
Namun, perjalanan itu menjadi sangat berat setelah mereka mengalami musibah kehilangan uang dan identitas.
“Saat kami tanya, Pak Widodo menjelaskan bahwa mereka sudah berjalan kaki selama 3 bulan 11 hari. Awalnya mereka dari Semarang, lalu berusaha pulang ke Sungai Lilin,” ungkap Ipda M. Anwar saat dikonfirmasi pada Senin (6/4/2026).
Lebih lanjut, Widodo menceritakan bahwa dirinya sempat pergi ke Semarang untuk memenuhi undangan pekerjaan membuat patung. Namun setibanya di sana, pekerjaan tersebut batal karena terkendala anggaran.
Situasi semakin memburuk ketika seluruh uang dan identitas mereka hilang, diduga dicuri saat berada di sebuah masjid.
Tanpa bekal dan dokumen, keluarga ini tidak memiliki pilihan lain selain berjalan kaki untuk pulang.
Selama perjalanan, mereka mengandalkan bantuan warga dan menjadikan masjid sebagai tempat beristirahat.
Tidak jarang mereka harus menahan lapar dan menghadapi kondisi kesehatan yang menurun akibat kelelahan.
Perjalanan panjang itu akhirnya terhenti di OKU ketika petugas kepolisian menemukan mereka.
Melihat kondisi keluarga tersebut, jajaran Polres OKU langsung mengambil langkah cepat dengan memberikan bantuan.
Keluarga Widodo kemudian dibawa ke agen travel untuk diberangkatkan menuju Palembang.
Selain itu, petugas juga memberikan bantuan berupa biaya perjalanan dan uang makan agar mereka dapat melanjutkan perjalanan dengan lebih layak.
“Kami memastikan mereka tidak lagi berjalan kaki. Ini adalah bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat yang membutuhkan bantuan,” ujar Erwinsyah.
Tidak hanya itu, petugas juga berkoordinasi dengan sopir travel agar keluarga tersebut mendapatkan perhatian khusus selama perjalanan menuju tujuan berikutnya.
Diharapkan, mereka dapat melanjutkan perjalanan dengan aman hingga tiba di kampung halaman.
Kapolres OKU, AKBP Endro Aribowo, turut mengapresiasi tindakan cepat dan empati yang ditunjukkan anggotanya di lapangan.
Ia menegaskan bahwa kehadiran Polri harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat, terutama dalam situasi darurat seperti ini.
“Ini merupakan wujud nyata Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Kami akan selalu hadir membantu siapa pun yang membutuhkan,” tegasnya.
Saat ini, keluarga tersebut telah melanjutkan perjalanan menuju Palembang menggunakan travel, dan rencananya akan terus dibantu hingga sampai ke kampung halaman mereka di Sungai Lilin, Musi Banyuasin.
Momen haru pun terlihat saat keluarga tersebut hendak berangkat. Aluna, yang sebelumnya tampak takut saat pertama kali melihat polisi, akhirnya menunjukkan senyum ceria dan melambaikan tangan. Senyuman itu menjadi simbol harapan baru setelah perjalanan panjang penuh ujian yang mereka lalui.
Kisah ini menjadi pengingat akan pentingnya kepedulian sosial di tengah masyarakat. Di balik kerasnya kehidupan, masih ada tangan-tangan yang siap membantu, menghadirkan harapan bagi mereka yang sedang berjuang. (***)
0 Komentar