Musi Online https://musionline.co.id 09 May 2026 @15:00 17 x dibaca 
Ambulans Tak Bisa Melintas Karena Banjir di Muratara, Jenazah Warga Karang Dapo Dievakuasi Pakai Perahu Karet.
Musionline.co.id, Muratara – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, tidak hanya melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga menghambat akses transportasi dan pelayanan darurat.
Salah satu peristiwa yang menyita perhatian publik terjadi pada Jumat siang, 8 Mei 2026, ketika jenazah seorang warga Desa Karang Dapo harus dievakuasi menggunakan perahu karet lantaran ambulans tidak dapat melintas akibat tingginya genangan air.
Peristiwa tersebut terjadi saat jenazah seorang remaja bernama Dani Pedroza Erwin (16), warga Desa Karang Dapo, hendak dipulangkan dari RSUD Rupit menuju rumah duka.
Korban sebelumnya menjalani perawatan medis dan operasi usus buntu di rumah sakit tersebut sebelum akhirnya meninggal dunia.
Namun proses pemulangan jenazah tidak berjalan seperti biasanya. Tingginya banjir yang merendam akses jalan menuju Kecamatan Karang Dapo membuat mobil ambulans tidak mampu mencapai lokasi tujuan.
Genangan air bahkan dilaporkan mencapai lebih dari satu meter dari permukaan jalan, sehingga kendaraan roda empat tidak dapat melintas dengan aman.
Kondisi darurat itu membuat tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muratara bersama warga mengambil langkah cepat. Jenazah akhirnya dipindahkan dari ambulans ke perahu karet atau viber untuk kemudian diantarkan menuju rumah duka melalui jalur banjir.
Kabid BPBD Muratara, Mugono, mengatakan proses evakuasi dilakukan sekitar pukul 14.20 WIB. Menurutnya, keputusan menggunakan perahu merupakan satu-satunya cara agar jenazah tetap bisa segera sampai ke pihak keluarga.
“Mobil ambulans tidak bisa masuk karena jalan terendam lebih dari satu meter. Jadi kami dari tim BPBD mengambil inisiatif langsung mengantar jenazah menggunakan perahu,” ujar Mugono.
Ia menjelaskan, perjalanan menuju Desa Karang Dapo dilakukan melalui kawasan yang terendam banjir cukup tinggi. Meski medan cukup berat, proses evakuasi berlangsung lancar dengan pengawalan petugas BPBD dan bantuan warga sekitar.
Perjalanan dari titik keberangkatan menuju rumah duka diperkirakan mencapai sekitar 12 kilometer. Dengan menggunakan perahu karet, tim membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit untuk tiba di lokasi tujuan.
Dalam video dan dokumentasi yang beredar di media sosial, terlihat sejumlah petugas BPBD dan warga berjibaku di tengah genangan banjir sambil menjaga posisi jenazah agar tetap aman selama perjalanan. Arus air yang menggenangi permukiman dan jalan desa membuat proses evakuasi harus dilakukan secara hati-hati.
Peristiwa tersebut menjadi potret nyata dampak besar banjir yang kini melanda wilayah Muratara. Tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga mengganggu pelayanan penting seperti akses kesehatan, distribusi logistik, hingga proses evakuasi darurat.
Banjir yang terjadi dalam beberapa hari terakhir diketahui merendam sejumlah desa dan kecamatan di Kabupaten Muratara. Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut menyebabkan debit air sungai meningkat hingga meluap ke permukiman warga dan badan jalan.
Akibatnya, aktivitas masyarakat di sejumlah titik lumpuh total. Banyak kendaraan tidak dapat melintas karena jalan utama maupun jalan penghubung antar desa tertutup genangan air. Beberapa wilayah bahkan dilaporkan sempat terisolasi karena akses transportasi terputus.
Selain menghambat aktivitas warga, banjir juga berdampak terhadap roda perekonomian masyarakat. Aktivitas perdagangan, distribusi hasil pertanian, hingga transportasi umum mengalami gangguan serius. Banyak warga memilih bertahan di rumah karena sulit menjangkau pusat aktivitas.
Tidak sedikit pula warga yang harus menggunakan perahu kecil sebagai alat transportasi sementara untuk beraktivitas sehari-hari. Kondisi ini terutama dirasakan masyarakat di daerah dataran rendah yang menjadi langganan banjir saat intensitas hujan meningkat.
Di tengah situasi sulit tersebut, BPBD Muratara terus melakukan upaya penanganan dan pemantauan di sejumlah wilayah terdampak. Tim gabungan disiagakan untuk membantu proses evakuasi warga, distribusi bantuan, serta penanganan kondisi darurat lainnya.
Mugono mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait guna memastikan masyarakat terdampak tetap mendapatkan bantuan dan pelayanan yang dibutuhkan.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan mengingat kondisi cuaca masih berpotensi hujan dengan intensitas cukup tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Sementara itu, warga Desa Karang Dapo mengaku banjir kali ini cukup parah dibandingkan sebelumnya. Tingginya debit air menyebabkan banyak akses desa tidak dapat dilalui kendaraan biasa.
“Kami berharap ada solusi jangka panjang supaya akses jalan tidak mudah terputus saat banjir datang,” ujar salah seorang warga setempat.
Peristiwa pengantaran jenazah menggunakan perahu karet ini pun menjadi perhatian masyarakat luas. Banyak warga menilai kejadian tersebut menggambarkan betapa berat kondisi yang dihadapi masyarakat Muratara saat musim hujan dan banjir melanda.
Meski penuh keterbatasan, proses pemulangan jenazah Dani Pedroza Erwin akhirnya berhasil dilakukan hingga tiba di rumah duka. Pihak keluarga kemudian langsung mempersiapkan proses pemakaman.
Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya kesiapan infrastruktur dan akses transportasi di wilayah rawan banjir. Sebab ketika bencana datang, bukan hanya aktivitas ekonomi yang terganggu, tetapi juga pelayanan kemanusiaan yang sangat mendesak.
Pemerintah daerah diharapkan dapat terus meningkatkan langkah mitigasi bencana, mulai dari perbaikan drainase, pembangunan akses jalan yang lebih tahan banjir, hingga penyiapan sarana transportasi darurat di wilayah rawan terdampak.
Dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu, masyarakat di wilayah Muratara diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan segera melapor kepada petugas apabila terjadi kondisi darurat yang membutuhkan penanganan cepat. (***)
0 Komentar