Musi Online | GERAKAN 10.000 ADHA: Upaya Menyalakan Suluh di Dalam Gelapnya Hidup Anak-Anak Penderita HIV di Kota Palembang
HDCU
Home        Berita        Seputar Musi

GERAKAN 10.000 ADHA: Upaya Menyalakan Suluh di Dalam Gelapnya Hidup Anak-Anak Penderita HIV di Kota Palembang

Musi Online
https://musionline.co.id 27 April 2021 @06:56
GERAKAN 10.000 ADHA: Upaya Menyalakan Suluh di Dalam Gelapnya Hidup Anak-Anak Penderita HIV di Kota Palembang

Oleh: Lisye Mela Sari, Koni Azbaldo, Najmah, Annisa Rahmawaty dkk Tim Gerakan 10.000 Adha

 
ADHA adalah Anak Dengan HIV Aids dan sebagai info di Kota Palembang saat ini terdapat sekitar 15 ADHA, yang tercatat. Rata-rata dari mereka hidup memprihatinkan, banyak yang di telantarkan, sebagian lain hidup dengan keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi. Sebagian kecil yang beruntung masih di rawat orang tua mereka, selebihnya di rawat oleh orang lain baik keluarga maupun orang tua asuh.
 
Sayangnya stigma negatif dari masyarakat untuk pengidap HIV tidak pandang bulu. Anak-anak tidak berdosa ini pun mendapatkan stigma yang sama dengan penderita HIV lainnya, sehingga meskipun kenyataannya mereka layak mendapatkan kehidupan yang sama dengan anak-anak lainnya tetapi Masyarakat cenderung enggan mengulurkan tangan untuk membantu.
 
Maka dari itu dibentuklah gerakan 10.000 ADHA yang di harapkan dengan ini ada orang yang berhati malaikat yang ingin menjadi donator dan mau mengulurkan tangannya untuk membantu anak-anak tersebut. Gerakan 10.000 ADHA ini sendiri di inisiasi oleh IKA IKM UNSRI (Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya) yang di mulai pada tahun 2018. 
 
Dari tahun 2018 kurang lebih IKA IKM UNSRI mengasuh 5 orang anak, dengan organisasi pendukung dari Sriwijaya Plus. Kenapa harus 10.000?  Karena uang 10.000 bisa keluar dengan udah dari kantong kalangan manapun, sehingga siapa saja bisa ikut berdonasi.
 
Tim Gerakan 10.000 ADHA belanja bingkisan Ramadhan untuk Anak Dengan HIV-AIDS (ADHA).
 
Gerakan 10.000 ADHA merupakan gerakan yang bertujuan untuk mengubah stigma masyarakat tentang ADHA (Anak Dengan HIV-AIDS). Harapan kami dengan adanya gerakan ini di harapkan dapat mengubah cara pandang Masyarakat yang sebagian masih menghakimi ADHA sebagai korban kenakalan Orang tua mereka. 
 
Padahal Masyarakat religious seperti Kota Palembang harusnya sudah mampu menginsafi doktrin agama bahwa setiap anak itu lahir tidak membawa dosa orang tuanya, dia lahir suci seperti kertas putih.  ADHA juga anak-anak yang hebat, yang tetap dan berhak untuk kita cintai dan sayangi, karena mereka juga membutuhkan support dari semua orang disekitarnya. 
 
Cerita Jasmine, Rose, dan Elang, Anak positif HIV di Palembang
 
Salah satu anak-anak ADHA adalah Jasmine (nama samaran), singkat cerita jasmine di temukan pada tahun 2018 oleh seseorang berhati malaikat di dalam bakul barang bekas di bawah jembatan Ampera Kota Palembang. Pada saat itu Jasmine dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, badannya kurus kering, terlihat seperti anak yang terlantar, bahkan saat ditemukan Jasmine sulit untuk berdiri dan berjalan. Tapi bersyukurnya sekarang Jasmine ditemukan dan dirawat oleh seorang malaikat. 
 
Jasmine dirawat seperti anaknya sendiri,sehingga sekarang Jasmine yang sudah berumur enam tahun mengalami perubahan yang cukup baik dari sebelumnya. Jasmine tumbuh menjadi anak yang mandiri, pintar dan aktif, Jasmine sangat ceria dan ramah pada siapapun yang menyapanya.  Bahkan dengan kekurangannya Jasmine tidak pernah patah semangat untuk mengejar cita-citanya.
 
Selain Jasmine, ada Rose (nama samaran), anak empat tahun yang mengidap penyakit ADHA. Rose terdiagnosa ADHA saat berumur empat bulan. Rose adalah salah satu anak ADHA yang berlatar belakang keluarga dengan ekonomi yang kurang mampu, tapi beruntungnya Rose dia masih bisa hidup dan tumbuh dalam asuhan kedua orang tuanya. Meskipun dengan segala kekurangan Rose, orang tuanya masih tetap menyayangi Rose dengan tulus.
 
"Dia adalah satu-satunya kebanggaan kami, saya tidak peduli orang mau berkata apa. Yang penting anak saya sehat, ya walaupun engan kekurangannya," ujar ibu Rose. 
 
Sekarang rose tumbuh menjadi anak yang ceria dan aktif di dalam keluarganya, meskipun sedikit malu-malu ketika bertemu dengan orang yang baru dia kenal.
 
Ada juga Elang (nama samaran). Yang lagi-lagi membuat mata dan hati ini terbuka lebar. Elang adalah anak laki-laki yang tumbuh dengan sangat kuat, pintar, dan kreatif. Meskipun berbeda dengan Jasmine dan Rose, Elang memiliki kondisi fisik yang sehat. 
 
Elang adalah jagoan kecil keluarganya, dengan kekurangannya dia tetap menjadi seorang adik yang disayangi dan dibanggakan oleh saudara dan keluarganya. Elang anak yang pandai menggambar dan mewarnai, terlihat dari meja belajrnyanya yang penuh dengan buku-buku dan pensil warna.
 
Elang hobinya apa? Tanya salah satu volunteer gerakan 10.000 ADHA. Elang hobi menggambar dan mewarnai kak Jawab Elang. Selain menggambar dan mewarnai, Elang suka mainan apa? Tanya lagi salah satu volunteer gerakan 10.000 ADHA. Suka main tembak-tembakan air jawab Elang.
 
Mendengar jawaban Elang yang penuh antusisas dan semangat, kami pun berusaha untuk membatu dan mengabulkan permintaanya, yang inshaallah dalam waktu dekat ini kami akan memberikan hadiah kepada Elang berupa alat menggambar dan pistol air berwarna biru, sesuai permintaan Elang.
 
Stigma, Go Away: Pengalaman berinteraksi dengan ADHA
 
 “Dengan melihat semangat dari anak-anak ini tidak banyak alasan kami untuk ikut turun dalam Gerakan ADHA, kami ingin menguji diri anak milenials dan tenaga kesehatan sendiri sebagai lulusan ilmu kesehatan masyarakat untuk mengubah sigtma bahwa ADHA bukan anak yang berbahaya melainkan anak-anak hebat yang membutuhkan dukungan dan perhatian untuk tumbuh seperti anak pada umumnya, dan agar tim muda lebih terbuka dan lebih banyak mengetahui tentang kehidupan anak-anak tersebut, ujar Lisye Mela Sari, S.K.M (volunteer gerakan 10.000 ADHA).
 
Pendistribusian bingkisan paket Ramadhan tahap kedua untuk Anak Dengan HIV-ADIS (ADHA).
 
Ini adalah perjalanan pertama Lisye, Koni, dan Nazrah, tim milenials, dalam aksi sosial yang mendekatkan diri kepada anak-anak pengidap ADHA, awalnya mereka hanya ingin mengetahui seperti apa bahaya yang sesungguhnya ADHA, dan sedikit banyaknya pengalaman ini bisa membuat dan membantu pikiran Lisye dkk untuk lebih terbuka lagi terhadap sosial. 
 
Tapi, saat turun kelapangan langsung, sungguh ini adalah pengalaman yang luar biasa, secara cepat stigma kami sebagai masayarakat awam terhadap ADHA ternyata salah, mereka (anak-anak ADHA) adalah anak-anak yang hebat, anak-anak yang memang butuh support dari lingkungannya. Karena dengan menjauhi mereka adalah kesalahan terbesar. Siapa lagi yang mampu merangkul mereka kalau bukan dari kita, setidaknya jika tidak bisa membantu dalam segi materi, senyum dan tawa pun bisa saya bagi untuk mereka (anak-anak ADHA, ujar Koni Azbaldo S.I.Kom (volunteer gerakan 10.000 ADHA).
 
Sedikit pesan untuk teman-teman milenial, Ingat kamu bisa memilih siapa suami atau isterimu tapi anakmu kelak tidak bisa memilih siapa orangtuanya”.
 
Dengan adanya Gerakan 10.000 ADHA mari kita sama-sama belajar untuk lebih berhati-hati dan lebih selektif dalam memilih pasangan hidup, karena bukan hanya membuat dampat buruk terhadap diri sendiri tapi akan berdampak pada anak-anak dan masa depan kita nanti dan  ayo sama-sama kita merangkul adik-adik kita yang sangat  butuh dukungan dari kita, mungkin kita tidak bisa membantu secara ekonomi tapi mungkin kita bisa membantu dengan dukungan sosial. Jika uang menjadi permasalahan untuk membantu, maka ubahlah. Senyum, tawa, dan sapaanmu pun sangat berarti untuk adik-adik ADHA. 
 
Kalau bukan kita siapa lagi?
 
 
Tim Gerakan 10.000 Adha: Lisye Mela Sari,  Koni Azbaldo, Annisa Rahmawaty, Nazrah Noer Safirah A., Rizka Faliria Nandini, Putri Cahyani Damayanti, Debrina Octavia Lestari, Fison Hepiman, Poppy Fujianti, Mardiana, Dwi Septiawati, Desheila Andarini, & Najmah
 
Instagram: gerakan10.000_adha



Tinggalkan Komentar Anda


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *



0 Komentar

Maroko
Top