Musi Online | SATU HARI LEBIH DEKAT BERSAMA ADHA (ANAK DENGAN HIV/AIDS)
HDCU
Hut sumsel
Home        Berita        Seputar Musi

SATU HARI LEBIH DEKAT BERSAMA ADHA (ANAK DENGAN HIV/AIDS)

Musi Online
https://musionline.co.id 12 May 2021 @15:29
SATU HARI LEBIH DEKAT BERSAMA ADHA (ANAK DENGAN HIV/AIDS)

Oleh: Sindy Oktatiara, Afifah Alfiyyah Ardhani,  Dwi Santri, Nyimas Fatimah, Debrina Octavia Lestari, Fison Hepiman, Poppy Fujianti, dkk


Ramadhan ke 26, Kaki kami melangkah untuk berkumpul disatu tempat, sebelum mengunjungi ADHA- anak dengan HIV, dari rumah ke rumah, di Kota Palembang. Kali ini perjalanan kami ditemani Cek Maria, artis Palembang, yang berhati Malaikat. Kami belajar apa arti peduli dan menyayangi ADHA dari Cek Maria, yang riang gembira bermain, mewarnai hingga memeluk ADHA, tanpa ada sekat jarak untuk menjaga jarak karena status HIV sang anak. Ini cerita kami, satu hari lebih dekat bersama ADHA. Bulan Ramadhan yang akan berakhir dalam hitungan hari, tapi kebaikan ini akan terus diteruskan oleh kita yang peduli dengan ADHA.
 
Kok, anak tak berdosa bisa tertular HIV?
 
Itu menjadi pertanyaan penasaran kami, para sukarelawan Gerakan 10.000 ADHA, ketika turun ke lapangan. Berinteraksi dengan ADHA, membuat kami bertanya, kenapa anak-anak tidak berdosa ini harus mengidap HIV? Kenapa mereka harus mengkonsumsi obat antiretroviral (ARV) seumur hidup? Kenapa sang bunda terus berikhtiar untuk merayu sang anak minum obat ARV, dengan sebutan lain Vitamin, obat untuk gemuk, obat biar tidak mudah sakit, setiap hari?
 
Menurut sang ibu ADHA, mereka percaya, anak mereka tertular HIV melalui Air Susu Ibu. Rata-rata sang ibu tidak tahu status HIV mereka ketika melahirkan dan menyusui sang anak. Mereka tahu status HIV sang anak, ketika sang anak sakit-sakitan dan pada fase ini, rumah sakit menawarkan tes HIV untuk diagnosa penyakit sang anak, yang tak kunjung sembuh. Ya, sang ibu tahu status HIV dirinya sendiri, setelah sang anak didiagnosa HIV. Sungguh terlambat, setelah sang anak sakit-sakitan hingga setelah sang ayah meninggal dunia.
 
HIV kerap dianggap sebagai virus yang hanya menular melalui hubungan seksual tanpa pengaman, atau jarum suntik yang dipakai bersama. Padahal HIV menginfeksi lewat berbagai cairan tubuh seperti, sperma, cairan vagina, darah, termasuk air susu ibu. Dalam kata lain, HIV bisa menular dari ibu hamil yang positif HIV kepada bayinya, baik pada masa kehamilan, saat persalinan dan bahkan selama menyusui. Sedihnya, jika sang ibu melahirkan di bidan dan jika bidan tidak tau status HIV sang ibu dan alat-alat medis tidak disterilkan dengan standar Ultraviolet, sang bidan dan ibu yang mungkin menggunakan alat medis yang sama, tanpa sterilisasi sesuai standar, dari ibu sebelumnya yang sudah tertular HIV, beresiko tertular HIV.  
 
“Andai aku tahu status HIV lebih awal, HIV bisa dicegah ke anak kami”, ujar beberapa ibu yang kami kunjungi. Penularan HIV dari ibu ke anak bisa dicegah hingga 95 %, jika ibu mengkonsumsi ARV secara rutin selama kehamilan, memilih melahirkan dengan metode operasi sesar, dan tidak menyusui ASI sang anak. Sang anak pun perlu mengkonsumsi obat propilaksis selama 6 minggu hingga 3 bulan, hingga dinyatakan bebas HIV. Namun, untuk ADHA yang kami kunjungi, hal ini sudah sangat terlambat, karena tidak semua ibu mendapatkan kesempatan yang sama untuk akses tes HIV selama kehamilan. 
 
Apa yang bisa kita lakukan untuk mendukung secara moral dan psikososial untuk ADHA, yang tidak bisa memilih dari Rahim siapa mereka dilahirkan? 
 
Matahari: Bermain mobil-mobilan dari kardus
 
Kunjungan kegiatan Gerakan 10.000 ADHA Anak Dengan HIV/AIDS (ADHA) pertama bernama Matahari (Nama Samaran). Dia gadis kecil yang berumur 2 tahun. Saat ditemui, kondisi dan penampilan Matahari seperti gadis kecil pada umumnya, lucu, riang, dan sedikit pemalu. Matahari gadis kecil bermata indah dengan ciri khas lesung pipi nya yang membuat kesan semakin manis. Dia bisa membaur dengan kakak-kakak dari Tim Gerakan 10.000 ADHA dan Cek Maria meskipun masih agak sedikit canggung untuk banyak berinteraksi. Teman-teman dari Tim nampak cepat berbaur dan sangat senang bertemu dengan Matahari. 
 
Kami pun mengeluarkan isi bingkisan Ramadhan dari kardus bersama Matahari, tebak apa yang Matahari lakukan kemudian? Ya, Melati yang belum bisa berbicara dengan jelas, mengeluarkan isi bingkisan satu per satu, dan meminta ibunya masuk ke dalam kotak kardus ini. 
 
Cek Maria secara spontan, mendorong kardus yang ditumpangi Matahari dan dibantu oleh kakak-kakak lainnya, untuk bermain mobil-mobilan. Waktu 60 menit berlalu, lalu kami harus melanjutkan perjalanan kami ke rumah ADHA lainnya. Matahari tak mau dilepas dari gendongan Cek Maria, dan menangis tersedu-sedu ketika kami harus melanjutkan perjalanan kami. “Nanti kita ketemu lagi ya Matahari," ujar Cek Maria.
 
 
Gilang: Mewarnai hingga main tembak-tembakan bersama Cek Maria hingga cita-cita ingin jadi POLISI
 
Lima orang dari kami menjadi volunteer pertama kalinya dalam kegiatan gerakan 10.000 ADHA. Diawal sempat berpikir bahwa mereka yang menderita HIV AIDS ini berbeda dari orang lainnya terutama dalam visual fisik. Namun, setelah melihat dan komunikasi secara langsung kepada anak dengan penderita HIV AIDS (ADHA) ternyata mereka tidak ada bedanya dari anak pada umumnya. Kegiatan dimulai dengan mengunjungi rumah ADHA untuk memberikan bingkisan sembako dan alat tulis. 
 
Salah satu rumah ADHA yang kami kunjungi selanjutnya yaitu rumah Gilang, 4 tahun (nama samaran). Gilang adalah anak laki-laki yang baru akan menginjakan kaki nya di taman kanak-kanak. Gilang anaknya aktif, terlihat dari pada saat kegiatan lomba mewarnai. Setelah selesai mewarnai, ia sangat antusias dan bersemangat bermain tembak-tembakan air bersama cek Maria. “Basah Gilang Cek Maria, ampun…..," ujar Cek Maria. 
 
Dibalik itu semua, rasanya sedih ketika mendengar cerita bagimana anak sekecil gilang sudah mengidap HIV dan ditambah adanya keterbatasan ekonomi dalam keluarganya. Saat ini, Gilang sudah mendaftar ke salah satu sekolah, dan ibunya berkata, daftar sekolah cukup mahal sekarang ya, pendaftaran saja dan baju, sang ibu harus mengeluarkan Rp 1,5 juta. Sang ayah pun merantau, dan tidak bisa pulang pada lebaran kali ini, karena larangan mudik antar kota dan provinsi. Gilang, kangen ayah, Tanya kakak-kakak volunteer, dia mengangguk dan menundukkan wajahnya.
 
Ketika cek Maria bertanya, “na jadi apo pas besak gek?,” Jawab Gilang: Jadi POLISI. 
 
 
Cerita Chila: ADHA dan Anak Yatim Piatu
 
Mengenal lebih dekat sosok Chila (nama samaran), ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara, gadis kecil yang lucu itu terdiagnosis positif HIV sementara kelima saudaranya dinyatakan negatif, “oh tuhan mengapa ia harus menanggung semua ini, ia dilahirkan suci dan tidak berdosa sama seperti bayi-bayi lainnya”. Kenapa Chila bisa dinyatakan positif HIV sedangkan saudaranya yang lain negatif?, sebelum Chila dilahirkan dulu ayah Chila merupakan ayah dan suami yang baik, sampai pada suatu ketika ia memiliki hubungan dengan beberapa perempuan, selain sang istri (ibu Chila) dan tidak menggunakan pengaman seperti kondom.
 
Kenapa ia harus menanggung akibat dari perbuatan ayahnya? Oh tidak, ternyata bukan hanya Chila, tapi ibunya pun juga terkena imbasnya. Padahal ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak tahu apa-apa kalau suaminya ternyata “jajan” diluar. Saat ini Chila menjadi anak yatim piatu, ayahnya meninggal ketika ia berusia 4 tahun dan tak lama dari itu ketika ia berumur 8 tahun ibunya pun meninggal dunia.
 
Belum lama ia merasakan kasih sayang orang tuanya padalah anak-anak seusianya masih sangat membutuhkan perhatian dan cinta kasih dari sosok ayah dan ibu, tapi Chila tidak patah semangat. Ketika ditanya tentang cita-citanya ingin menjadi apa, ia menjawab dengan lantang “aku ingin menjadi Polwan” sontak Tim Gerakan 10.000 ADHA yang hadir pada saat itu mengucapkan “Aamiin” sebagai bentuk doa dan dukungan moril agar Chila benar-benar dapat mewujudkan cita-citanya kelak dikemudian hari dibawah asuhan kakak-kakaknya, tanpa sosok kedua orang tua.
 
Chila kini tumbuh sehat sama seperti anak-anak lainnya hanya saja bedanya ia harus rutin mengonsumsi obat ARV setiap hari. Hingga usianya sekarang, Chila belum tahu status HIVnya.  
 
Chila pun tumbuh menjadi gadis yang pintar dan kreatif, ia sangat suka menggambar, jari-jemarinya dengan sigap memadukan warna-warna dari pensil warna dan menggoreskannya diatas kertas, semangat positifnya menjadi motivasi bagi kami dan tim gerakan 10.000 ADHA agar lebih giat lagi dan pantang menyerah untuk terus belajar karena sejatinya sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain dan memiliki kemauan terus belajar untuk menggapai cita-cita. 
 
 
Alesya: Butuh perhatian khusus

Saat berkunjung ke sekretariat Sriwijaya Plus, gerakan pekerja social yang fokus membantu ODHA dan ADHA di Kota Palembang, kami bertemu dengan salah satu ADHA yang cantik, lucu, dan sangat aktif. Sebut saja namanya Alesya (nama samaran). Alesya diketahui positif HIV pada saat berusia 4 bulan ketika di rumah sakit, Alesya tertular dari ibunya, mungkin ketika melahirkan, atau melalui ASI. Alesya mengetahui status HIV-nya ketika dia didiagnosa Pneumonia pada usia 4 bulan. 
 
Alhamdulillah, Sekarang Alesya sudah berusia 4 tahun. Alesya suka mencari perhatian orang lain di sekitarnya, namun dibalik keramahannya, Alesya juga sangat pemalu. Disaat saya duduk didekat Alesya, dia menyentuh tangan saya tetapi disaat kami menoleh kearahnya, Alesya malah membuang muka dan langsung memeluk ibunya karena malu. Sungguh lucu sekali anak itu, sangat berkesan di ingatan kami. Namun ada hal yang sedikit menyedihkan, Alesya memiliki keterlambatan dalam pertumbuhannya. Di usia ke empat tahunnya, Alesya masih belum berbicara dengan jelas. Namun, Alesya berinteraksi dengan baik dengan teman-teman sebayanya dan sangat sayang ibu dan ayahnya, walau ekonomi mereka sangat terbatas. 
 
Kunjungan terkahir di Sriwijaya Plus: Melawan Rasa Takut

Satu kata yang didalam pikiran kami pada saat berkunjung ke Sekretariat Sriwijaya Plus “takut”. Kakak-kakak yang bergerak di Sriwijaya Plus, rata-rata positif HIV, tapi mereka seperti layaknya kita, tidak menyeramkan seperti gambaran penderita HIV/AIDS di media-media.
 
Kami melawan rasa takut. Takut apakah mereka tampak berbeda dari yang lain, takut apakah kami juga dapat tertular hanya karena berkumpul ditempat yang sama. Lucu ya, padahal sudah tau kalau hal itu tidak akan terjadi, padahal sudah tau kalau kita tak akan tertular karena hanya didalam satu ruangan yang sama. Singkatnya, kami mulai berbagi cerita, berbagi pengalaman. 
 
Ada satu cerita yang sangat menarik dari kakak di Sriwijaya Plus, beliau salah satu ODHA dan memiliki anak dengan negatif HIV/AIDS. Kok bisa ya? Saat itu saya pun berpikir begitu kenapa bisa? 
Setelah diberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kenapa beliau memiliki anak yang negatif HIV/AIDS akhirnya saya mengerti kenapa hal tersebut dapat terjadi. Penularan HIV dari ibu ke bayi bisa dicegah sedini mungkin, jika pasangan terbuka status HIVnya kepada sang istri dan sang istri memberanikan diri untuk tes HIV di puskesmas terdekat.
 
Berkunjung ke Sekretariat Sriwijaya Plus merupakan salah satu pengalaman berharga bagi kami, dipertemukan dengan orang-orang hebat yang mampu mengubah pandangan saya mengenai ODHA dan juga ADHA. 
 
Pengalaman yang sangat berharga dari satu hari mengenal kehidupan ADHA adalah bahwa kita harus memperlakukan anak dengan HIV sama dengan anak-anak lain karena mereka tidak berbahaya, mereka sehat bahkan seharusnya kita mencontoh semangatnya berjuang untuk hidup, seharusnya anda generasi milenial yang mempunyai otak cerdas dan brilian bisa memanfaatkan tenaga dan semngat untuk menjadi manusia yang bermanfaat. 
 
Satu hari yang sangat mengesankan bagi kami, dimana hari itu saya mengunjungi beberapa ADHA adalah melawan rasa takut dan berani berinteraksi dengan ADHA. Berinterkasi dengan ADHA memberikan pengalamanan untuk meruntuhkan semua rasa takut itu. ADHA tidak semenakutkan yang ada dipikiran saya, bahkan mereka adalah anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Mereka tidak bersalah, mereka juga tidak bisa memilih akan dilahirkan dari orangtua yang seperti apa dan bagaimana kondisinya. 
 
Sehingga melalui gerakan ADHA ini dapat berkontribusi memberi bantuan dan semangat kepada mereka tangan kecil yang tak berdosa. Mengikuti gerakan 10.000 ADHA ini mampu mengetuk hati kita untuk selalu peduli dengan sesama kepada ADHA yang masa depan nya masih panjang. Penyakit HIV bukanlah suatu penyakit kutukan, bersama kita hentikan diskriminasi terhadap penderita HIV AIDS dan sayangi Adha. Jangan lupa follow instagram Gerakan 10000 Adha. Ayo para muda-mudi masa kini sekarang akhiri rebahan anda dirumah, mulailah peduli dan bergerakla, karena kekuatan dan kontribusi anda adalah harapan banyak umat manusia terutama Anak-anak dengan HIV/AIDS.
 
Tim Gerakan 10.000 Adha: Sindy Oktatiara, Afifah Alfiyyah Ardhani, Dwi Santri, Nyimas Fatimah, Lisye Mela Sari, Koni Azbaldo, Annisa Rahmawaty, Nazrah Noer Safirah A., Rizka Faliria Nandini, Putri Cahyani Damayanti, Debrina Octavia Lestari, Fison Hepiman, Poppy Fujianti, Mardiana, Dwi Septiawati, Desheila Andarini, Sariana & Najmah

Instagram:  gerakan10.000_adha



Tinggalkan Komentar Anda


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *



0 Komentar

Maroko
Top