Musi Online https://musionline.co.id 03 September 2025 @19:30 172 x dibaca 
Usai Insiden Siswa Keracunan MBG, Pemkab OKI Langsung Investigasi dan Sampel Makanan Dikirim ke BBPOM.
Musionline.co.id, Ogan Komering Ilir - Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, bergerak cepat dalam menangani kasus gangguan kesehatan yang dialami puluhan siswa SD dan SMP di Kecamatan Pedamaran setelah mengonsumsi makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Insiden ini terjadi pada Selasa (2/9/2025) dan langsung mendapatkan perhatian serius dari Pemkab OKI.
Sekretaris Daerah (Sekda) OKI, Ir. Asmar Wijaya, M.Si, mewakili Bupati OKI menyampaikan rasa prihatin sekaligus menegaskan bahwa keselamatan anak-anak adalah prioritas utama pemerintah daerah.
Hal ini disampaikan usai dirinya meninjau langsung penanganan medis di Puskesmas dan Posko SPPG Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran, Rabu (3/9/2025).
“Program makanan bergizi ini merupakan inisiatif yang sangat baik untuk mendukung kesehatan dan tumbuh kembang anak-anak. Namun, keselamatan anak-anak tetap menjadi prioritas kami. Kami memastikan seluruh siswa yang terdampak mendapatkan layanan kesehatan terbaik hingga pulih sepenuhnya,” ujar Asmar.
80 Siswa Terkena Gangguan Kesehatan
Hingga siang Rabu (3/9), pihak Puskesmas Pedamaran mencatat setidaknya 80 siswa mengalami gejala gangguan pencernaan usai menyantap makanan dari program MBG.
Sebagian siswa masih menjalani perawatan intensif, sementara yang lain sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik.
Kepala Puskesmas Pedamaran, Hasanul, memastikan bahwa pihaknya tetap melakukan pemantauan terhadap siswa yang sudah kembali ke rumah. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi lanjutan.
“Anak-anak yang masih dalam masa pemulihan terus kami pantau. Kami ingin memastikan kondisi mereka benar-benar sehat sebelum kembali beraktivitas penuh di sekolah,” ungkap Hasanul.
Penyebab Diduga Karena Jeda Waktu Konsumsi
Berdasarkan hasil pemantauan awal Satgas MBG OKI, insiden keracunan ini diduga terjadi akibat jeda waktu konsumsi makanan yang terlalu lama.
Makanan yang telah dibagikan sejak pukul 11.00 WIB baru dikonsumsi sebagian siswa pada sore hari, sehingga kualitas makanan menurun dan memicu gangguan pencernaan.
Ketua Satgas MBG OKI, H. M. Lubis, S.Km., M.Kes, menjelaskan bahwa Pemkab sudah mengambil langkah investigasi.
Sampel makanan dan sampel medis telah dikirimkan ke Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) untuk diuji lebih lanjut.
“Tujuannya agar penyebab utama bisa dipastikan secara ilmiah, sehingga kejadian serupa tidak terulang. Kami juga tengah mengevaluasi sistem distribusi makanan agar lebih aman, efisien, dan sesuai standar kesehatan,” jelas Lubis.
Pengawasan Bersama dan Evaluasi Program
Selain evaluasi sistem, Pemkab OKI juga mengajak berbagai pihak, termasuk guru, kepala sekolah, serta orang tua siswa untuk aktif melakukan pengawasan.
Edukasi terkait penyimpanan dan konsumsi makanan bergizi juga akan terus digalakkan.
“Kami ingin memastikan program ini benar-benar membawa manfaat, bukan menimbulkan mudarat. Dengan kerja sama semua pihak, kami yakin persoalan ini bisa diatasi sekaligus menjadi pembelajaran untuk ke depan,” tegas Lubis.
Meski terjadi insiden, Pemkab OKI menegaskan program MBG tetap menjadi salah satu program penting bagi peningkatan kualitas gizi anak-anak, khususnya di daerah pedesaan dan tertinggal.
Hanya saja, pelaksanaannya harus selalu mengutamakan standar kesehatan, keamanan pangan, serta manajemen distribusi yang baik.
“Program MBG adalah investasi masa depan untuk mencetak generasi sehat dan cerdas. Namun pelaksanaannya harus ketat sesuai standar agar keamanan anak-anak terjamin,” tutup Lubis.
Dengan langkah cepat Pemkab OKI, diharapkan kepercayaan masyarakat tetap terjaga dan program MBG bisa terus berjalan dengan lebih baik serta aman bagi semua siswa penerima manfaat. (***)
0 Komentar