Musi Online https://musionline.co.id 12 September 2025 @18:34 574 x dibaca 
20 Desa dan Kelurahan di Kota Prabumulih Terendam Banjir, Warga Minta Solusi Jangka Panjang.
Musionline.co.id, Prabumulih – Hujan deras yang mengguyur Kota Prabumulih sejak Kamis sore hingga malam hari, 11 September 2025, kembali menimbulkan bencana banjir di sejumlah wilayah.
Luapan Sungai Kelekar yang tak terbendung ditambah dengan buruknya sistem drainase membuat genangan air meluas hingga merendam permukiman warga di enam kecamatan.
Berdasarkan data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Prabumulih, setidaknya 20 desa dan kelurahan terdampak dengan ketinggian air bervariasi antara 50 hingga 70 sentimeter.
Dari jumlah tersebut, tercatat 17 kelurahan dan 3 desa yang mengalami genangan cukup parah.
“Total ada 20 wilayah yang terendam banjir. Saat ini tim gabungan masih melakukan pendataan jumlah rumah dan warga terdampak,” jelas Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Prabumulih, Roy Tauhid SH, mewakili Plt Kalaksa BPBD Sriyono SH, pada Jumat (12/9/2025).
Warga Masih Lakukan Evakuasi Mandiri
Roy menambahkan, proses pendataan dilakukan bersama lurah, kepala desa, RT, dan RW setempat.
Sejumlah warga terpaksa mengungsi sementara ke rumah kerabat atau posko darurat yang disiapkan.
Meski begitu, sebagian besar masih bertahan di rumah masing-masing sambil berusaha menyelamatkan perabotan dari genangan.
“Alhamdulillah, pada Jumat siang beberapa titik sudah mulai surut. Namun, personel BPBD dan aparat gabungan tetap siaga menghadapi kemungkinan hujan susulan,” ujar Roy.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi warga cukup memprihatinkan. Banyak perabot rumah tangga seperti kursi, kasur, hingga peralatan elektronik rusak terendam air. Seorang warga Kelurahan Mangga Besar mengaku panik ketika air naik dengan cepat.
“Air masuk tiba-tiba, tidak sampai satu jam rumah sudah terendam setinggi lutut. Kami hanya sempat menyelamatkan barang seadanya, sisanya basah semua,” ungkapnya dengan wajah lesu.
Hal serupa juga dialami warga Kelurahan Tugu Kecil. Mereka menilai penyebab utama banjir adalah drainase yang tersumbat dan tidak pernah diperbaiki.
“Setiap kali hujan deras, pasti air meluap. Saluran kecil dan penuh sampah. Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah,” keluh salah seorang warga.
Bencana banjir kali ini mendapat perhatian langsung dari Walikota Prabumulih, H Arlan, yang turun meninjau lokasi banjir bersama Sekretaris Daerah (Sekda) H Elman. Dengan menggunakan sepatu boot dan jas hujan, Walikota rela basah-basahan demi melihat kondisi warganya.
“Kami ingin melihat langsung apa yang terjadi di lapangan. Banjir ini tidak boleh dianggap sebagai bencana musiman yang dibiarkan begitu saja. Pemerintah Kota akan mencari solusi agar permasalahan drainase dan luapan sungai bisa ditangani secara menyeluruh,” tegas H Arlan.
Ia juga menyempatkan diri berdialog dengan warga yang terdampak. Aspirasi paling banyak adalah perbaikan saluran drainase serta pembersihan sungai dari sampah. Warga menilai, tanpa langkah konkret, banjir serupa akan terus berulang setiap musim hujan.
Selain kerugian materi, banjir juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan seperti penyakit kulit, diare, dan demam berdarah.
Oleh karena itu, BPBD mengimbau masyarakat tetap menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari genangan yang bisa menjadi sarang nyamuk.
Sejumlah pengamat lingkungan menilai banjir di Prabumulih tidak lepas dari alih fungsi lahan dan pertumbuhan permukiman yang tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur memadai.
Sungai Kelekar yang menjadi penopang utama aliran air kota, kini semakin dangkal akibat sedimentasi dan minimnya kegiatan normalisasi.
“Kalau hanya mengandalkan pompa dan bantuan darurat, masalah banjir tidak akan selesai. Perlu program jangka panjang berupa perbaikan drainase, pengerukan sungai, serta penertiban bangunan di daerah resapan air,” ujar seorang akademisi lokal.
Warga berharap pemerintah segera melakukan tindakan nyata. “Kami tidak ingin hanya mendapat janji, tapi perlu bukti nyata. Drainase harus dibenahi, sungai dibersihkan, dan sampah ditangani dengan baik,” kata warga Kelurahan Pasar Prabumulih.
Meski air mulai surut di sejumlah titik, trauma banjir masih dirasakan warga. Banyak di antara mereka yang tetap berjaga sepanjang malam, khawatir hujan deras kembali turun dan memperparah keadaan.
Dengan kondisi ini, jelas bahwa banjir di Kota Prabumulih bukan sekadar bencana alam, tetapi juga peringatan akan pentingnya perbaikan tata kelola lingkungan perkotaan. Tanpa langkah konkret, bukan tidak mungkin musibah serupa akan terus berulang di tahun-tahun mendatang. (***)
0 Komentar