Musi Online https://musionline.co.id 05 November 2025 @18:01 223 x dibaca 
Film Dokumenter “Mother Earth” Angkat Budaya Tunggu Tubang, Bupati Muara Enim Dukung Kebangkitan Seni Lokal.
Musionline.co.id, Muara Enim — Sebuah karya film dokumenter bertajuk “Mother Earth” berhasil menarik perhatian publik dan menjadi simbol kebanggaan baru bagi masyarakat Muara Enim.
Film garapan sineas lokal, Muhammad Tohir dari Komunitas Ghompok, ini menyoroti nilai-nilai luhur budaya tunggu tubang yang tumbuh dan hidup di tanah Semende Raya.
Pemutaran perdana film tersebut berlangsung meriah di Halaman Gedung Kesenian Putri Dayang Rindu, Senin malam (3/11/2025), dan dihadiri langsung oleh Bupati Muara Enim H. Edison beserta Ketua TP PKK Hj. Heni Pertiwi Edison.
Turut hadir pula sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), tokoh masyarakat, akademisi, hingga pelaku seni dan budaya daerah.
Karya Anak Daerah yang Membangkitkan Rasa Cinta Budaya
Dalam sambutannya, Bupati Edison menyampaikan apresiasi tinggi terhadap karya sineas muda Muara Enim yang mampu menghadirkan pesan mendalam melalui medium visual.
Menurutnya, “Mother Earth” bukan sekadar tontonan, tetapi merupakan cermin kearifan lokal masyarakat Semende Raya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Budaya tunggu tubang merupakan warisan leluhur yang sangat berharga. Tradisi ini mengajarkan tanggung jawab sosial dan kecintaan terhadap tanah kelahiran, bukan membatasi ruang gerak seseorang untuk berkembang,” ujar Edison dalam pidatonya.
Ia menegaskan, di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, masyarakat harus mampu menjaga jati diri dan kearifan lokal.
Film dokumenter ini diharapkan mampu membuka ruang dialog budaya antar generasi dan membangkitkan semangat anak muda untuk lebih mengenal akar budayanya.
Makna Mendalam dari Budaya Tunggu Tubang
Budaya tunggu tubang merupakan sistem adat yang dikenal luas di wilayah Semende Raya, di mana hak waris keluarga biasanya diberikan kepada anak perempuan tertua.
Tradisi ini tidak sekadar mengatur kepemilikan tanah dan rumah, tetapi juga menegaskan peran perempuan sebagai penjaga nilai-nilai keluarga serta simbol keberlanjutan hubungan antara manusia dan alam.
Dalam film Mother Earth, nilai-nilai tersebut dikemas secara sinematik dengan latar indah pegunungan Semende dan narasi yang menggugah kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara manusia dan bumi. Sang sutradara, Muhammad Tohir, menyebut film ini sebagai bentuk persembahan untuk tanah kelahirannya.
“Melalui film ini, kami ingin menunjukkan bahwa Semende bukan hanya tempat yang kaya alam, tetapi juga kaya makna. Budaya tunggu tubang adalah filosofi hidup yang menjaga keharmonisan antara manusia, keluarga, dan alam semesta,” ungkap Tohir.
Bupati Edison Dorong Kebangkitan Ekosistem Seni Muara Enim
Bupati Edison memanfaatkan momentum pemutaran film ini untuk menegaskan kembali komitmennya terhadap penguatan ekosistem seni dan budaya di Kabupaten Muara Enim.
Ia menyebut, Gedung Kesenian Putri Dayang Rindu akan dikembalikan ke fungsi utamanya sebagai pusat aktivitas seni daerah.
“Gedung ini harus menjadi rumah bagi para seniman Muara Enim — tempat mereka berlatih, berkolaborasi, dan menampilkan karya. Kami ingin menjadikannya titik temu bagi ide-ide kreatif yang lahir dari masyarakat sendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Edison mengungkapkan rencana pembangunan Taman Mini Kebudayaan Muara Enim di kawasan Pelita Sari seluas empat hektare.
Kawasan tersebut akan dilengkapi dengan rumah-rumah adat, auditorium pertunjukan, dan ruang terbuka sebagai wadah ekspresi seni masyarakat.
“Melalui pembangunan ini, kami ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya menampilkan budaya, tetapi juga menghidupkannya. Muara Enim memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kebudayaan di Sumatera Selatan,” tambahnya.
Film dan Budaya Sebagai Sarana Pemersatu
Pemutaran Mother Earth menjadi bukti bahwa seni dan film dapat berfungsi sebagai sarana edukasi dan pemersatu masyarakat.
Pesan-pesan yang terkandung dalam budaya tunggu tubang dinilai sangat relevan dengan tantangan zaman, terutama dalam menumbuhkan kembali rasa gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan.
Bupati Edison berharap film ini tidak berhenti hanya sebagai tontonan, melainkan menjadi inspirasi bagi lahirnya karya-karya baru dari sineas muda Muara Enim.
Ia juga mengajak pelaku seni untuk terus menggali nilai-nilai budaya lokal sebagai sumber kekuatan identitas daerah.
“Muara Enim bukan hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga kaya ide dan talenta. Saya ingin melihat film, musik, tari, dan teater lokal tumbuh berdampingan dengan pembangunan ekonomi daerah. Karena budaya adalah jiwa dari kemajuan,” pungkasnya. (***)
0 Komentar