Musi Online | Semangat Anak-anak Kabupaten OKU Menjaga Warisan Budaya di Rumah Belajar Sekaa Nguda
Hut
Home        Berita        Ruang Seni Budaya

Semangat Anak-anak Kabupaten OKU Menjaga Warisan Budaya di Rumah Belajar Sekaa Nguda

Musi Online
https://musionline.co.id 14 August 2026 @19:19
Semangat Anak-anak Kabupaten OKU Menjaga Warisan Budaya di Rumah Belajar Sekaa Nguda
Semangat Anak-anak Kabupaten OKU Menjaga Warisan Budaya di Rumah Belajar Sekaa Nguda.

Musionline.co.id, Ogan Komering Ulu – Semangat generasi muda di Desa Makarti Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, dalam menjaga warisan budaya patut mendapat perhatian. 
Di tengah perkembangan zaman dan penggunaan gawai yang semakin lekat dengan kehidupan anak-anak, hadirnya Rumah Belajar Sekaa Nguda menjadi ruang positif bagi anak-anak dan remaja untuk belajar, berkesenian, sekaligus mengenal kembali budaya leluhur.
Rumah Belajar Sekaa Nguda lahir dari keresahan sederhana seorang pemuda bernama Komang Ngurah Subawa. 
Pada 2018, ketika usianya baru 22 tahun, Komang melihat banyak anak-anak dan remaja di Desa Makarti Jaya memiliki potensi besar, tetapi belum memiliki wadah yang tepat untuk menyalurkan kreativitas dan energi mereka.
Sepulang sekolah, sebagian anak muda kala itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan nongkrong tanpa kegiatan yang terarah. 
Mereka bisa berjam-jam duduk di pinggir jalan atau bermain gawai bersama, bahkan tidak jarang hingga larut malam.
Kondisi tersebut membuat Komang merasa perlu melakukan sesuatu. 
Ia kemudian berdiskusi dengan tokoh masyarakat setempat untuk mencari solusi yang dapat memberikan kegiatan positif bagi generasi muda.
Dari proses tersebut, lahirlah Rumah Belajar Sekaa Nguda. Nama Sekaa Nguda memiliki arti anggota pemuda. 
Rumah belajar ini kemudian berkembang menjadi pusat pembelajaran kreatif sekaligus wadah pelestarian seni dan budaya Hindu Bali di Desa Makarti Jaya.
Desa Makarti Jaya sendiri memiliki latar belakang budaya yang cukup kuat. 
Sebagian masyarakatnya merupakan keturunan transmigran asal Bali yang datang melalui program transmigrasi pemerintah puluhan tahun silam. 
Warisan budaya Bali pun terus hidup di tengah masyarakat dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Belajar Tari dan Gamelan Sejak Usia Remaja
Di Rumah Belajar Sekaa Nguda, anak-anak dan remaja mendapatkan kesempatan untuk mempelajari berbagai kesenian tradisional.
Para pemudi diajarkan tari-tarian yang biasa dipentaskan sebagai bagian dari kegiatan persembahan di Pura, salah satunya Tari Rejang Dewa.
Sementara itu, para pemuda mendapatkan pembelajaran seni gamelan. Anggota awal rumah belajar ini didominasi anak-anak usia SMP dan SMA.
Kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan seni. Lebih jauh, Rumah Belajar Sekaa Nguda menjadi ruang bagi anak-anak dan remaja untuk membangun kedisiplinan, rasa tanggung jawab, kerja sama, serta kecintaan terhadap budaya leluhur.
Semangat tersebut kemudian mendapatkan perhatian dari Pertamina Hulu Energi (PHE) Ogan Komering pada 2023. Perusahaan memberikan dukungan terhadap pengembangan Rumah Belajar Sekaa Nguda, antara lain melalui perbaikan alat-alat seni, pengadaan seragam anggota, serta berbagai perlengkapan pendukung kegiatan.
Dukungan tidak berhenti pada aspek kesenian. PHE Ogan Komering juga memberikan pelatihan kewirausahaan agar rumah belajar tersebut tidak hanya menjadi tempat pelestarian budaya, tetapi juga dapat berkembang menjadi wadah yang memberikan manfaat ekonomi bagi anggotanya.
Membuka Ruang Belajar untuk Anak-anak
Dengan adanya dukungan tersebut, Komang bersama rekan-rekannya kemudian memperluas kegiatan Rumah Belajar Sekaa Nguda. Mereka membuka pendaftaran bagi anak-anak berusia 8 hingga 12 tahun secara gratis.
Respons masyarakat cukup positif. Sekitar 20 anak bergabung dan kemudian masuk dalam kelompok bernama Sekaa Rare, yang berarti anggota anak-anak.
Kehadiran Sekaa Rare menjadi langkah penting dalam memperluas proses pewarisan budaya. Anak-anak tidak harus menunggu hingga remaja untuk mengenal seni tradisional. Sejak usia dini, mereka sudah diperkenalkan dengan kesenian dan nilai-nilai budaya yang berkembang di lingkungan masyarakat.
Selain tari dan gamelan, kegiatan Rumah Belajar Sekaa Nguda juga berkembang ke berbagai aktivitas lain. Anak-anak dan remaja mendapatkan kesempatan mengikuti pengembangan kerajinan tangan, pelatihan kewirausahaan kreatif, pelestarian seni dan budaya lokal, hingga pendampingan pemasaran produk kreatif.
Bagi Komang, perubahan yang terjadi di lingkungan anak-anak dan remaja merupakan salah satu hasil yang paling terasa.
“Sekarang mereka sudah jarang nongkrong tak terarah karena ada wadah latihan tari dan gamelan seminggu tiga kali,” kata Komang.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana sebuah ruang belajar sederhana dapat memberikan perubahan dalam kehidupan sehari-hari anak-anak. Waktu yang sebelumnya banyak dihabiskan tanpa kegiatan terarah kini dapat digunakan untuk berlatih, berkarya, berinteraksi dengan teman sebaya, dan mengenal budaya.
Tidak Hanya Belajar, Tetapi Juga Tampil di Tengah Masyarakat
Kegiatan Rumah Belajar Sekaa Nguda tidak berhenti di ruang latihan. Anak-anak dan remaja diberi kesempatan mempraktikkan kemampuan mereka melalui berbagai pentas.
Mereka tampil dalam kegiatan di Pura maupun acara masyarakat. Ketika terdapat kegiatan keagamaan di Pura, anggota Rumah Belajar Sekaa Nguda dapat tampil secara sukarela.
Meski tampil secara sukarela, para anggota tetap mendapatkan fee. Dana tersebut kemudian dikelola untuk kepentingan bersama, termasuk masuk ke kas Pura dan kas anggota.
Rumah Belajar Sekaa Nguda juga telah menggelar festival budaya sebanyak empat kali. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat sekitar untuk menikmati pertunjukan seni sekaligus melihat secara langsung perkembangan anak-anak dan remaja dalam mempelajari budaya.
Festival budaya juga menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan melibatkan masyarakat secara luas.
Orang Tua Merasakan Dampak Positif
Keberadaan Rumah Belajar Sekaa Nguda turut dirasakan manfaatnya oleh para orang tua. Komang Muliawan Purnawan, orang tua dari Gede Tinggal Astawe, menilai kegiatan tersebut membantu anak mengenal kembali budaya leluhur sekaligus memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan positif.
“Anak saya menjadi lebih mengenal budaya leluluhurnya. Dia juga dapat memanfaatkan waktu luang setelah jam sekolah untuk kegiatan yang lebih positif, baik untuk mengasah mental, kedisiplinan dan tanggung jawab,” ujarnya.
Bagi keluarga, manfaat tersebut menjadi nilai penting. Anak tidak hanya memperoleh keterampilan dalam bidang seni, tetapi juga belajar bertanggung jawab terhadap tugas, menghargai budaya, bekerja bersama, dan berani tampil di hadapan masyarakat.
PHE Ogan Komering Dorong Pelestarian Budaya
Kegigihan Komang dalam membangun ruang positif bagi generasi muda turut menginspirasi PHE Ogan Komering untuk memberikan dukungan.
Dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat di sekitar wilayah operasinya. Melalui Rumah Belajar Sekaa Nguda, perusahaan melihat adanya potensi besar yang dapat dikembangkan dari sisi sosial, budaya, pendidikan informal, hingga ekonomi kreatif.
Manager Community Involvement and Development Pertamina Hulu, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan program tersebut diharapkan dapat menciptakan ruang yang memungkinkan anak-anak dan remaja mengembangkan potensi diri sekaligus menjaga warisan budaya.
“Melalui program ini, PHE Ogan Komering ingin menciptakan ruang bagi anak-anak dan remaja untuk bisa mengembangkan potensi diri sekaligus melestarikan budaya. Perusahaan berharap bisa menularkan semangat Komang ke wilayah lain,” ujarnya.
Kisah Rumah Belajar Sekaa Nguda menunjukkan bahwa menjaga budaya tidak selalu harus dimulai dari kegiatan besar. Langkah sederhana yang lahir dari kepedulian seorang anak muda terhadap lingkungannya ternyata mampu membuka ruang baru bagi puluhan anak dan remaja.
Di Desa Makarti Jaya, seni tari dan gamelan bukan hanya menjadi warisan masa lalu. Keduanya menjadi bagian dari proses pembentukan karakter generasi muda hari ini.
Semangat Komang dan anak-anak Rumah Belajar Sekaa Nguda juga menjadi pengingat bahwa keberadaan ruang kreatif sangat penting bagi generasi muda. Ketika anak-anak mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkarya dan tampil, potensi mereka dapat tumbuh secara lebih terarah.
Pelestarian budaya pun akhirnya bukan sekadar menjaga tradisi agar tidak hilang. Lebih dari itu, pelestarian budaya menjadi cara untuk membangun rasa percaya diri, kedisiplinan, tanggung jawab, kebersamaan dan kebanggaan terhadap identitas leluhur.
Rumah Belajar Sekaa Nguda kini menjadi salah satu contoh bagaimana generasi muda di Kabupaten OKU dapat mengambil peran dalam menjaga warisan budaya. Dari sebuah keresahan pada 2018, tumbuh sebuah ruang belajar yang terus memberi manfaat hingga kini.
Dengan dukungan masyarakat dan berbagai pihak, semangat tersebut diharapkan dapat terus berkembang. Anak-anak Desa Makarti Jaya pun memiliki ruang untuk bermimpi, belajar, berkarya dan pada saat yang sama menjadi generasi penerus yang menjaga kekayaan budaya Indonesia. (***)



Tinggalkan Komentar Anda


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *



0 Komentar

Maroko
Top