Musi Online | Sambut 10 Muharram, Warga Karang Raja Muara Enim Lestarikan Tradisi Melemang Warisan Leluhur yang Sarat Makna Kebersamaan
Hut
Home        Berita        Ruang Seni Budaya

Sambut 10 Muharram, Warga Karang Raja Muara Enim Lestarikan Tradisi Melemang Warisan Leluhur yang Sarat Makna Kebersamaan

Musi Online
https://musionline.co.id 26 June 2026 @19:45
Sambut 10 Muharram, Warga Karang Raja Muara Enim Lestarikan Tradisi Melemang Warisan Leluhur yang Sarat Makna Kebersamaan
Sambut 10 Muharram, Warga Karang Raja Muara Enim Lestarikan Tradisi Melemang Warisan Leluhur yang Sarat Makna Kebersamaan.

Musionline.co.id, Muara Enim – Tradisi Melemang, warisan budaya leluhur yang telah berlangsung selama ratusan tahun, kembali semarak dilaksanakan masyarakat Desa Karang Raja, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim, menjelang malam 10 Muharram 1448 Hijriah atau Hari Asyura. 
Tradisi tahunan ini tidak hanya menjadi agenda budaya yang selalu dinantikan masyarakat setempat, tetapi juga berhasil menarik perhatian para perantau dan wisatawan yang ingin merasakan suasana khas perayaan tersebut.
Setiap tahun, menjelang datangnya 10 Muharram, Desa Karang Raja berubah menjadi pusat aktivitas masyarakat. Jalan-jalan desa dipenuhi kendaraan, sementara warga dari berbagai daerah berdatangan untuk berkumpul bersama keluarga sekaligus menikmati cita rasa lemang yang menjadi ikon kuliner khas desa tersebut.
Tradisi Melemang merupakan kegiatan memasak lemang, makanan tradisional berbahan dasar beras ketan putih maupun ketan hitam yang dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang, kemudian dibakar hingga matang. Meskipun terlihat sederhana, proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan dan kerja sama yang baik antaranggota keluarga.
Pembuatan lemang dimulai dari menyiapkan bahan-bahan utama seperti bambu, daun pisang, beras ketan, dan santan. Selanjutnya, beras ketan melalui proses mengaron, dikukus, dimasukkan ke dalam bambu, kemudian dibakar selama beberapa jam hingga menghasilkan aroma khas yang menggugah selera.
Selain varian lemang original, masyarakat Karang Raja juga menghadirkan berbagai variasi rasa seperti lemang udang, pisang, hingga durian yang semakin menambah daya tarik tradisi tersebut.
Lebih dari sekadar kegiatan memasak makanan tradisional, Melemang menjadi simbol kuat kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.
Seluruh anggota keluarga, mulai dari anak-anak hingga orang tua, biasanya terlibat dalam proses pembuatan lemang. Suasana penuh kehangatan dan canda tawa menjadi pemandangan yang selalu menghiasi setiap rumah warga menjelang malam 10 Muharram.
Warga Dusun I Desa Karang Raja, Gustandi Putra (42), mengatakan tradisi Melemang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Karang Raja sejak ratusan tahun lalu dan hingga kini tetap dijaga keberlangsungannya.
"Setiap keluarga melaksanakan tradisi Melemang ini di rumah masing-masing ataupun bergabung bersama-sama," ujarnya saat ditemui pada Rabu malam, 24 Juni 2026.
Menurut Gustandi, bahan utama yang digunakan dalam proses pembuatan lemang tetap mempertahankan cara-cara tradisional yang diwariskan oleh nenek moyang.
"Untuk bahannya yang paling utama tentu bambu, daun pisang, beras ketan, dan santan. Sedangkan varian lemang umumnya udang, pisang, dan durian," jelasnya.
Ia menuturkan, tradisi Melemang bukan hanya bertujuan mempertahankan budaya, tetapi juga menjadi momentum berkumpulnya keluarga besar yang selama ini tinggal berjauhan.
"Jadi keluarga-keluarga jauh berkumpul di momen Melemang 10 Muharram ini. Kita juga mengundang kerabat dan rekan kerja untuk bersama-sama menikmati lemang," katanya.
Menurutnya, suasana yang tercipta saat tradisi Melemang berlangsung hampir menyerupai perayaan hari raya karena seluruh anggota keluarga pulang kampung untuk berkumpul bersama.
Hal tersebut menjadikan tradisi ini sebagai salah satu momen yang paling dinantikan masyarakat Karang Raja setiap tahunnya.
Gustandi berharap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini tetap dilestarikan oleh generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.
"Utamanya agar tetap mengingat leluhur dan menjalin silaturahmi dengan keluarga-keluarga yang jauh," harapnya.
Antusiasme terhadap tradisi Melemang juga dirasakan para perantau. Salah satunya Jaya (30), warga Kota Palembang, yang sengaja datang ke Desa Karang Raja untuk mengikuti tradisi tersebut bersama keluarganya.
Menurut Jaya, Melemang telah menjadi agenda tahunan yang tidak pernah ia lewatkan karena selain menikmati lemang, dirinya juga dapat mempererat hubungan dengan keluarga besar.
"Karena memang sudah jadi tradisi sekaligus kita silaturahmi dengan keluarga yang ada di Desa Karang Raja," ujarnya.
Ia mengungkapkan suasana Melemang bahkan terasa seperti Hari Raya Idulfitri karena hampir seluruh keluarga berkumpul di kampung halaman.
"Momennya bahkan lebih ramai sampai membuat jalanan padat dan macet panjang karena antusiasme tradisi Melemang ini," ungkapnya.
Ramainya masyarakat yang datang setiap tahun menunjukkan bahwa Melemang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya Kabupaten Muara Enim.
Kehadiran para pengunjung dari luar daerah turut memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Banyak warga memanfaatkan momentum tersebut untuk menjual lemang maupun berbagai makanan tradisional lainnya sehingga meningkatkan pendapatan keluarga.
Tradisi ini sekaligus menjadi bukti bahwa pelestarian budaya lokal mampu berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Karang Raja menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga identitas budaya daerah. Nilai gotong royong, kebersamaan, saling membantu, serta penghormatan kepada leluhur tetap menjadi ruh utama dalam setiap pelaksanaan tradisi Melemang.
Melalui tradisi ini pula, generasi muda diperkenalkan secara langsung kepada budaya daerahnya sehingga diharapkan mampu melanjutkan estafet pelestarian warisan leluhur di masa mendatang.
Jaya berharap pemerintah bersama masyarakat terus mendukung pelaksanaan tradisi Melemang agar semakin dikenal luas sebagai salah satu kekayaan budaya Kabupaten Muara Enim.
"Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, tradisi Melemang tidak hanya menjadi perayaan menyambut 10 Muharram, tetapi juga menjadi simbol kuatnya ikatan kekeluargaan dan penghormatan masyarakat Karang Raja terhadap warisan budaya leluhur," pungkasnya.
Tradisi Melemang membuktikan bahwa sebuah warisan budaya tidak hanya hidup melalui cerita, tetapi juga melalui praktik yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Di Desa Karang Raja, tradisi tersebut tetap menjadi perekat hubungan sosial, penguat nilai kekeluargaan, sekaligus identitas budaya yang patut dijaga dan dilestarikan untuk masa depan. (***)



Tinggalkan Komentar Anda


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *



0 Komentar

Maroko
Top