Musi Online https://musionline.co.id 27 September 2025 @19:49 224 x dibaca 
Sertifikasi Halal Dukung Pariwisata Ramah Muslim di Indonesia, Makanan Halal Jadi Prioritas Utama.
Musionline.co.id, Tangerang – Pariwisata ramah muslim atau halal tourism kini semakin menjadi sorotan dunia internasional, termasuk Indonesia.
Dengan jumlah populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia dipandang memiliki potensi besar menjadi pusat pariwisata halal global.
Salah satu kunci keberhasilannya adalah ketersediaan makanan dan minuman halal yang sudah tersertifikasi resmi.
Survei terbaru dari Vero dan GMO-Z.com Research mengungkap bahwa sertifikasi halal, khususnya dalam aspek food and beverage (F&B), menjadi daya tarik utama yang mendorong perkembangan pariwisata ramah muslim.
Penelitian tersebut sekaligus menegaskan bahwa sektor ini tidak hanya relevan di Indonesia, tetapi juga di kancah global.
Secara internasional, potensi industri pariwisata halal menunjukkan tren pertumbuhan positif.
Data memperkirakan nilai pasar pariwisata global akan naik dari USD 256,5 miliar pada 2023 menjadi USD 410,9 miliar pada 2032.
Angka fantastis ini mengindikasikan bahwa wisata halal menjadi salah satu subsektor strategis yang mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi negara, termasuk Indonesia.
Makanan Halal Jadi Pertimbangan Utama Wisatawan Muslim
Hasil studi yang melibatkan 509 responden Muslim Indonesia berusia 18–45 tahun menunjukkan fakta menarik: sebanyak 89 persen responden menempatkan ketersediaan makanan halal sebagai prioritas utama saat bepergian.
Temuan ini menegaskan bahwa aspek kuliner halal bukan hanya sekadar kebutuhan, melainkan faktor penentu dalam memilih destinasi wisata.
“Dari sisi aspek food and beverage, sertifikasi halal tentu sangat penting. Ini bukan hanya soal aturan agama, tetapi juga bagian dari daya tarik pariwisata. Terutama bagi wisatawan yang sangat memegang teguh keyakinannya,” ujar Executive Director Vero Indonesia, Diah Andrini Dewi, dalam diskusi pariwisata halal yang berlangsung di BSD City, Tangerang, Kamis (25/9/2025).
Diah menambahkan, ketika negara-negara non-muslim turut menyediakan fasilitas halal, pengalaman yang dirasakan wisatawan muslim menjadi lebih berkesan.
“Kehadiran fasilitas halal dipandang sebagai bentuk kepedulian budaya dan rasa menghargai, yang membuat wisatawan muslim merasa lebih diterima,” ucapnya.
Hal ini terbukti dari semakin tingginya minat wisatawan muslim terhadap destinasi non-muslim seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.
Negara-negara tersebut kini bersaing ketat dengan Malaysia dan Arab Saudi dalam menarik wisatawan muslim internasional.
Infrastruktur Halal sebagai Penunjang Ekonomi dan Industri Pariwisata
Selain makanan halal, Diah juga menekankan pentingnya infrastruktur ramah muslim sebagai faktor penunjang industri pariwisata.
“Pelaku industri bisa menyediakan fasilitas seperti tempat ibadah di bandara, pusat perbelanjaan, atau objek wisata. Transportasi publik juga bisa didesain agar lebih mendukung kebutuhan ibadah wisatawan muslim,” katanya.
Menurutnya, pariwisata halal bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan umat muslim, melainkan menawarkan nilai universal seperti kebersihan, kenyamanan, dan transparansi informasi terkait kandungan makanan.
Nilai-nilai tersebut juga diapresiasi wisatawan non-muslim karena mencerminkan kualitas layanan yang lebih baik.
“Dengan cara ini, wisata halal bisa dikomunikasikan tidak hanya untuk muslim, tetapi juga untuk wisatawan global. Prinsip halal-friendly bisa membuat semua orang merasa nyaman,” imbuhnya.
Dorongan Pemerintah: Halal Tourism Sebagai Prioritas Nasional
Pemerintah Indonesia juga menyadari peluang besar dari pariwisata ramah muslim.
Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata, Hariyanto, menegaskan bahwa sertifikasi halal merupakan salah satu instrumen penting dalam memperkuat daya saing destinasi wisata Indonesia.
“Kalau dari sisi pariwisata, peluangnya sangat besar. Karena itu, kami mendorong industri pariwisata, baik hotel, restoran, maupun pelaku usaha lainnya, untuk menyediakan layanan halal agar bisa dipilih wisatawan muslim,” kata Hariyanto.
Menurutnya, konsep pariwisata ramah muslim bukan hanya soal label halal, melainkan pengalaman menyeluruh yang dirasakan wisatawan.
''Menjadi halal-friendly tidak cukup hanya dengan stempel sertifikasi. Harus ada layanan nyata yang mendukung kenyamanan wisatawan, baik dari makanan, tempat ibadah, hingga pelayanan di hotel,” jelasnya.
Hariyanto menambahkan bahwa wisatawan muslim kini semakin mendominasi pasar global, dengan tren perjalanan yang terus meningkat.
Salah satu tren terbesar adalah sektor wellness tourism atau wisata kesehatan.
“Gaya hidup sehat kini menjadi tren global. Wisatawan muslim juga banyak mencari layanan wellness, misalnya spa atau terapi, yang ramah terhadap kebutuhan mereka,” ungkapnya.
Ia mencontohkan, pelaku industri wellness bisa menyediakan ruang ganti khusus wanita, atau memisahkan terapis pria dan wanita agar sesuai dengan aturan syariah. “Ini peluang besar yang harus dimanfaatkan,” tegasnya.
Sinergi dan Kolaborasi Lintas Sektor
Hariyanto menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan pariwisata halal.
Menurutnya, keberhasilan tidak bisa dicapai hanya oleh Kementerian Pariwisata, melainkan harus melibatkan kementerian lain, lembaga sertifikasi, pelaku industri, dan pemerintah daerah.
“Kami menyadari ekspektasi wisatawan terus berkembang. Karena itu, inovasi layanan harus dilakukan secara berkelanjutan, melalui kemitraan yang lebih kuat serta pengembangan destinasi ramah muslim,” jelasnya.
Pemerintah sendiri telah menempatkan sertifikasi halal sebagai standar nasional dalam industri pariwisata dan kuliner.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global sekaligus memperkuat identitas sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia.
Indonesia Berpeluang Jadi Pemimpin Pariwisata Halal Dunia
Dengan segala potensi yang dimiliki, Indonesia berpeluang besar menjadi pemain utama dalam industri pariwisata halal global.
Dari segi destinasi, Indonesia menawarkan keragaman budaya, kuliner, hingga keindahan alam yang sudah mendunia.
Sementara dari segi pasar, populasi muslim domestik sendiri sudah cukup besar untuk menjadi basis utama pengembangan pariwisata halal.
Namun, tantangan tetap ada. Di antaranya adalah konsistensi dalam menjaga standar halal, memperluas jangkauan sertifikasi hingga ke pelosok daerah, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata.
“Jika Indonesia mampu memadukan potensi alam, budaya, dan sertifikasi halal yang kuat, maka kita bisa memimpin pasar pariwisata halal dunia. Bahkan, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi destinasi utama wisata halal global,” ujar Diah optimistis.
Sertifikasi halal kini bukan hanya persoalan kepatuhan terhadap aturan agama, melainkan sudah menjadi strategi global dalam memenangkan pasar wisatawan muslim.
Dengan proyeksi pertumbuhan pariwisata halal yang signifikan, Indonesia perlu memperkuat peran sertifikasi halal sebagai prioritas utama dalam pariwisata ramah muslim.
Kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat sangat penting untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai destinasi halal terdepan di dunia.
Lebih dari itu, pariwisata halal juga membawa nilai universal yang bisa dinikmati oleh semua wisatawan, tanpa memandang latar belakang agama dan budaya.
Dengan komitmen kuat dan langkah nyata, Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah bagi wisatawan muslim, tetapi juga bisa menjadi teladan dalam menghadirkan pariwisata yang inklusif, ramah, dan berdaya saing tinggi di kancah global. (***)
0 Komentar