Musi Online | Sampaikan Aspirasi Berbasis Ilmiah, Willy Aditya: Jangan Seolah-olah Semua yang Baru Dibuat Salah
HDCU
Home        Berita        Nasional

Sampaikan Aspirasi Berbasis Ilmiah, Willy Aditya: Jangan Seolah-olah Semua yang Baru Dibuat Salah

Musi Online
https://musionline.co.id 28 September 2025 @18:25
Sampaikan Aspirasi Berbasis Ilmiah, Willy Aditya: Jangan Seolah-olah Semua yang Baru Dibuat Salah
Sampaikan Aspirasi Berbasis Ilmiah, Willy Aditya: Jangan Seolah-olah Semua yang Baru Dibuat Salah.

Musionline.co.id, Jakarta — Ketua Komisi XIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Willy Aditya, mengajak generasi muda Indonesia untuk lebih bijak dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah maupun parlemen. 
Menurutnya, aspirasi yang baik bukan hanya lahir dari pengalaman atau empirik semata, tetapi juga harus didasarkan pada pendekatan ilmiah yang terukur.
Hal tersebut disampaikan Willy saat menghadiri acara Festival HAM 2025 di Jakarta, Sabtu (27/09/2025). 
Dalam forum yang dihadiri ratusan aktivis muda, akademisi, hingga komunitas masyarakat sipil itu, ia menekankan pentingnya pola pikir berbasis riset dalam membangun demokrasi yang sehat.
“Aspirasi itu sebuah kebutuhan, tapi tidak selalu merupakan kebenaran. Jadi, jangan hanya empiris, tapi scientific approach. Saya sebagai aktivis '98, Ketua Dewan Mahasiswa UGM, penyesalan saya yang paling fundamental adalah bertindak empiris, seolah-olah semua yang baru dibuat itu salah,” kata Willy.
Aspirasi Muda Harus Berdasar Kajian
Willy menuturkan, anak muda punya ruang besar dalam memengaruhi arah kebijakan bangsa. Namun, aspirasi tersebut sebaiknya tidak sebatas pada luapan emosi atau kemarahan. 
Harus ada argumentasi yang dilandasi data, penelitian, dan analisis objektif agar bisa diterima sebagai bagian dari pengambilan keputusan.
Ia mencontohkan, demokrasi Indonesia saat ini berdiri di atas dua pilar utama, yaitu representasi dan pelembagaan. 
Representasi tercermin melalui keberadaan partai politik dan pemilihan umum, sementara pelembagaan demokrasi diwujudkan lewat sistem serta peraturan yang mengikat.
“Partai politik itu penting dalam sistem demokrasi. Tapi kelangsungannya tetap bergantung pada generasi penerus. It's depend on you, mau bubarkan atau tidak, terserah kalian. Tapi ingat, hasilnya bukan sekadar dari kemarahan semata. Harus ada pendekatan ilmiah, bukan empiricism,” tegasnya.
Dorong Kebijakan Berbasis Riset
Sebagai legislator, Willy mengaku dirinya berupaya mendorong agar setiap kebijakan yang dihasilkan parlemen memiliki basis riset yang kuat. 
Menurutnya, keputusan politik yang lahir dari emosi atau kepentingan sesaat hanya akan merugikan masyarakat di kemudian hari.
“Setidaknya, saya selalu mendorong agar 10 persen kebijakan yang diterbitkan parlemen berbasis pada riset. Karena kebenaran pada hari ini, belum tentu pada 20 tahun mendatang masih relevan sebagai kebenaran,” jelasnya.
Willy menegaskan bahwa proses legislasi di DPR harus mampu menampung aspirasi masyarakat, namun tetap melalui kerangka berpikir ilmiah. 
Dengan begitu, kebijakan yang dilahirkan dapat memberi manfaat luas, berjangka panjang, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Bekerja Sama dengan Anak Muda
Lebih jauh, Willy menekankan bahwa dirinya tidak ingin dipandang sebagai sosok yang berseberangan dengan generasi muda. 
Ia mengaku justru berada pada posisi yang sama, karena memiliki kepentingan bersama untuk memperbaiki kualitas demokrasi Indonesia.
“Saya sama dengan kalian, kita satu frekuensi. We work hand in hand for the better future, for our democracy,” ujarnya.
Ia juga berharap masyarakat tidak menyamaratakan seluruh anggota DPR jika ada satu atau dua orang wakil rakyat yang dianggap tidak menjalankan amanah dengan baik. 
Menurutnya, masih banyak anggota parlemen yang konsisten berjuang bersama rakyat, khususnya dalam bidang reformasi hukum dan HAM yang menjadi fokus kerja Komisi XIII DPR.
Aspirasi sebagai Pilar Demokrasi
Pernyataan Willy tersebut menjadi refleksi penting di tengah dinamika politik nasional. 
Di era digital, suara anak muda semakin terdengar lantang di ruang publik, baik melalui media sosial maupun aksi lapangan. 
Namun, aspirasi yang berbasis pada data dan penelitian tentu akan lebih kuat daya dorongnya, baik dalam memengaruhi opini maupun dalam memengaruhi kebijakan negara.
Festival HAM 2025 sendiri menjadi momentum pertemuan antara wakil rakyat, pemerintah, dan komunitas masyarakat sipil untuk berdiskusi mengenai masa depan demokrasi di Indonesia. 
Pesan utama yang ingin ditegaskan adalah pentingnya peran generasi muda dalam menjaga, mengawal, sekaligus memperbarui demokrasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Dengan semangat itu, Willy Aditya menutup pesannya: “Jangan seolah-olah semua yang baru dibuat itu salah. Mari kita kritisi, iya, tapi dengan dasar ilmiah agar bangsa ini semakin maju”. (***)



Tinggalkan Komentar Anda


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *



0 Komentar

Maroko
Top