Musi Online https://musionline.co.id 29 March 2026 @19:01 45 x dibaca 
Pemkab OKI dan TP PKK Luncurkan Bank Sampah PKK Lestari, Ubah Sampah Jadi Rupiah dan Dorong Ekonomi Warga.
Musionline.co.id, Ogan Komering Ilir - Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) bersama Tim Penggerak PKK resmi meluncurkan program Bank Sampah PKK Lestari sebagai langkah konkret dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah rumah tangga.
Kegiatan peluncuran ini digelar di Aula PKK Kabupaten OKI pada Jumat, 27 Maret 2026, dan diharapkan menjadi titik awal gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan.
Program ini hadir sebagai jawaban atas meningkatnya volume sampah yang menjadi tantangan serius, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Melalui konsep bank sampah, masyarakat diajak untuk mengubah kebiasaan lama membuang sampah menjadi budaya baru yang lebih produktif, yakni memilah dan menabung sampah bernilai ekonomis.
Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, menegaskan bahwa persoalan sampah saat ini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan. Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan semua pihak untuk mengatasinya secara bersama-sama.
“Kita sedang menghadapi kondisi darurat sampah. Tidak bisa hanya pemerintah saja yang bergerak, tetapi perlu kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa perubahan besar harus dimulai dari lingkungan internal pemerintah dan organisasi. Dengan demikian, langkah tersebut dapat menjadi contoh nyata bagi masyarakat luas.
“Gerakan ini harus dimulai dari instansi dan organisasi terlebih dahulu. Jika sudah berjalan baik, maka akan menular ke masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK OKI, Ike Muchendi, menjelaskan bahwa Bank Sampah PKK Lestari tidak hanya diperuntukkan bagi anggota PKK, tetapi terbuka untuk seluruh masyarakat.
“Kami mengajak semua lapisan masyarakat untuk menjadi nasabah bank sampah. Ini bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga peluang ekonomi,” katanya.
Menurut Ike, kegiatan menabung sampah secara rutin diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Selain itu, program ini juga dapat memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya menjaga lingkungan tetap bersih, tetapi juga mendapatkan nilai tambah secara ekonomi bagi keluarga,” jelasnya.
Dalam praktiknya, bank sampah ini menerapkan sistem seperti perbankan pada umumnya. Masyarakat yang telah memilah sampah seperti plastik, kertas, dan logam dapat menyetorkannya untuk ditimbang. Hasil timbangan tersebut kemudian dicatat sebagai tabungan yang dapat diuangkan atau ditukar dengan berbagai kebutuhan lainnya.
Untuk memudahkan masyarakat, layanan penukaran sampah dibuka secara rutin di beberapa lokasi. Di Kantor PKK Kabupaten OKI, layanan tersedia setiap Selasa dan Kamis pukul 10.00 hingga 12.00 WIB. Sementara di Kantor Dinas Lingkungan Hidup OKI, layanan dibuka setiap Jumat pukul 09.00 hingga 11.30 WIB.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup OKI, Muktaqid, menuturkan bahwa program ini dirancang untuk mengubah pola pengelolaan sampah yang selama ini masih menggunakan metode lama, yakni kumpul, angkut, dan buang.
“Melalui bank sampah, kita dorong perubahan menjadi kumpul, pilah, angkut, baru dibuang. Dengan cara ini, beban tempat pembuangan akhir bisa berkurang secara signifikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pemkab OKI berharap Bank Sampah PKK Lestari dapat menjadi model percontohan yang bisa direplikasi di berbagai tingkat, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), sekolah, desa, hingga kecamatan.
Dengan adanya program ini, pengelolaan sampah diharapkan tidak hanya berfokus pada pengurangan volume limbah, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Selain itu, keberadaan bank sampah juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pengelolaan limbah yang lebih bijak.
Program ini sejalan dengan semangat kampanye “Cerdas Kelola Sampah, Keluarga Lestari” yang terus digaungkan oleh Pemkab OKI. Ke depan, gerakan ini diharapkan dapat menjadi budaya baru di tengah masyarakat, di mana sampah tidak lagi dianggap sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. (***)
0 Komentar