Musi Online | Pulau Jawa Masih Dominasi Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia, Capai 12,56 Juta Jiwa
Hut
Home        Berita        Nasional

Pulau Jawa Masih Dominasi Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia, Capai 12,56 Juta Jiwa

Musi Online
https://musionline.co.id 20 September 2025 @20:04
Pulau Jawa Masih Dominasi Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia, Capai 12,56 Juta Jiwa
Pulau Jawa Masih Dominasi Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia, Capai 12,56 Juta Jiwa.

Musionline.co.id, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) kembali merilis laporan terbaru mengenai Profil Kemiskinan Indonesia Maret 2025. 
Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan nasional terus mengalami penurunan, meskipun ketimpangan antarwilayah masih sangat tajam.
Secara nasional, persentase penduduk miskin pada Maret 2025 tercatat sebesar 8,47%, menurun dibandingkan September 2024 (8,57%) maupun Maret 2024 (9,03%). 
Dalam jumlah, penduduk miskin mencapai 23,85 juta orang, berkurang sekitar 200 ribu jiwa dibanding periode September 2024.
Jika melihat tren sejak 2014, angka kemiskinan di Indonesia cenderung menurun. Namun, beberapa kali terjadi lonjakan, terutama pada Maret 2015, Maret 2020, September 2020, serta tahun 2022. 
Puncaknya tercatat pada Maret 2015, di mana jumlah penduduk miskin mencapai 28,59 juta orang atau 11,22% dari total populasi.
Pulau Jawa Masih Menjadi Episentrum Kemiskinan
Meskipun provinsi-provinsi di kawasan Papua dan Maluku mendominasi daftar wilayah dengan persentase kemiskinan tertinggi, jumlah penduduk miskin terbesar justru masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.
BPS mencatat, Pulau Jawa menyumbang 12,56 juta jiwa penduduk miskin, hampir setengah dari total penduduk miskin nasional. Rinciannya:
Jawa Timur : 3,88 juta jiwa
Jawa Barat : 3,65 juta jiwa
Jawa Tengah : 3,37 juta jiwa
Sementara itu, provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di luar Jawa antara lain Sumatera Utara (1,14 juta jiwa) dan Nusa Tenggara Timur (1,09 juta jiwa).
Sebaliknya, Pulau Kalimantan menjadi wilayah dengan angka kemiskinan terendah, baik dari segi persentase (5,15%) maupun jumlah (hanya 0,89 juta jiwa). 
Hal ini menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar antarwilayah di Indonesia.
Provinsi dengan Persentase Kemiskinan Tertinggi
Jika dilihat dari sisi persentase, daerah-daerah di kawasan timur Indonesia masih menempati posisi teratas.
Papua Pegunungan : 30,03%
Papua Tengah : 28,90%
Papua Barat : 20,66%
Papua Selatan : 19,71%
Nusa Tenggara Timur : 18,60%
Data ini menegaskan bahwa meskipun jumlah absolut penduduk miskin lebih besar di Pulau Jawa, tingkat keparahan kemiskinan justru lebih tinggi di Papua dan sebagian wilayah Maluku serta Nusa Tenggara.
Faktor Pendorong Penurunan Kemiskinan
BPS menjelaskan sejumlah faktor yang memengaruhi tren penurunan kemiskinan pada Maret 2025.
Pertumbuhan Ekonomi Positif
Ekonomi Indonesia pada triwulan I-2025 tumbuh 4,87%, didukung oleh peningkatan konsumsi rumah tangga sebesar 4,89% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kesejahteraan Petani Meningkat
Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 123,45, artinya harga panen lebih baik dibanding harga kebutuhan yang harus dibeli petani.
Penurunan Tingkat Pengangguran
Khususnya di wilayah perdesaan, lapangan kerja semakin terbuka sehingga menekan angka pengangguran.
Inflasi Relatif Terkendali
Harga sejumlah bahan pangan strategis sempat naik, seperti minyak goreng, cabai, dan bawang putih. Namun, turunnya harga beras, ayam ras, dan bawang merah, ditambah kebijakan diskon tarif listrik 50%, ikut menjaga daya beli masyarakat.
Tantangan ke Depan
Meskipun angka kemiskinan nasional terus turun, tantangan besar masih menghadang, terutama terkait ketimpangan wilayah. 
Pulau Jawa menanggung jumlah penduduk miskin terbanyak, sementara Papua dan Maluku menghadapi tingkat kemiskinan yang masih sangat tinggi secara persentase.
Para pengamat menilai, pemerintah perlu lebih fokus pada kebijakan berbasis wilayah. 
Di Jawa, kebijakan harus diarahkan pada pengentasan kemiskinan perkotaan dan peningkatan lapangan kerja sektor industri. 
Sedangkan di Papua dan Maluku, intervensi harus menyasar pembangunan infrastruktur dasar, akses pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Dengan strategi yang tepat, tren penurunan kemiskinan diharapkan terus berlanjut dan sekaligus mampu mengurangi kesenjangan antarwilayah yang selama ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. (***)



Tinggalkan Komentar Anda


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *



0 Komentar

Maroko
Top