Musi Online https://musionline.co.id 25 September 2025 @18:44 169 x dibaca 
Dukung Indonesia Tingkatkan Penanganan Kanker Serviks dengan Program ACTIVE 2.0.
Musionline.co.id, Jakarta - Program ACTIVE 2.0 Dukung Indonesia Tingkatkan Penanganan Kanker Serviks.
Upaya Indonesia dalam memperkuat layanan kesehatan khususnya penanganan kanker serviks mendapat dukungan nyata melalui peluncuran Program ACTIVE 2.0 (Enhancing Cervical Cancer Treatment & Patient Recovery Across Southeast Asia).
Program ini lahir dari kerja sama bilateral antara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dengan Kementerian Kerja Sama Ekonomi Federal Jerman (BMZ), Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, serta sejumlah mitra internasional di bidang onkologi.
Program ACTIVE 2.0 secara resmi diluncurkan dengan tujuan menyempurnakan prosedur radioterapi, meningkatkan kualitas perawatan pasien, dan memperkuat sistem layanan kanker secara nasional.
Dukungan diberikan oleh Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft (DEG), perusahaan teknologi medis Elekta, The Federation of Asian Organizations for Radiation Oncology (FARO), dan difasilitasi oleh Asia Society for Social Improvement and Sustainable Transformation (ASSIST).
Empat Rumah Sakit Jadi Center of Excellence
Sebagai langkah awal, empat rumah sakit besar di Indonesia telah ditunjuk sebagai Center of Excellence (CoE).
Keempat rumah sakit tersebut adalah RS Kanker Dharmais, RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), RS Sardjito Yogyakarta, dan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
Rumah sakit ini akan menjadi pusat pelatihan, pengembangan infrastruktur, serta dukungan pemulihan pasien kanker serviks.
Mereka akan melatih tenaga medis dari rumah sakit lain di wilayah masing-masing, menyediakan fasilitas dengan peralatan modern, serta memastikan transfer pengetahuan berstandar internasional.
“Program ini merupakan kolaborasi penting yang akan berlangsung selama tiga tahun. Harapannya, setelah proyek berakhir, Indonesia memiliki sistem layanan kanker yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” jelas Paul Lee, Project Director ACTIVE 2.0.
Tantangan Kanker Serviks di Indonesia
Kanker serviks masih menjadi salah satu penyakit mematikan dengan beban besar di Indonesia.
Data Kemenkes menyebutkan, setiap tahun terdapat sekitar 36 ribu kasus baru dengan prevalensi sekitar 23 kasus per 100 ribu perempuan.
Rendahnya kesadaran deteksi dini, terbatasnya akses radioterapi modern, serta kurangnya tenaga medis terlatih menjadi faktor yang membuat angka kematian akibat kanker serviks tetap tinggi.
Melalui program ini, rumah sakit di Indonesia akan mendapat akses ke teknologi radioterapi mutakhir, bimbingan langsung dari pakar internasional, serta kurikulum pelatihan yang terintegrasi.
Dukungan Pemerintah dan Mitra Internasional
Direktur Pelayanan Klinis Kemenkes, Dr. Obrin Parulian, M.Kes., menegaskan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan agenda Transformasi Kesehatan yang dicanangkan pemerintah.
“Kemenkes menyambut baik kerja sama ini. Selain memperkuat layanan onkologi, program ini juga akan meningkatkan kapasitas tenaga medis di berbagai rumah sakit nasional. Kami ingin memastikan bahwa masyarakat memiliki akses terhadap perawatan kanker yang lebih baik, cepat, dan berkualitas,” ujarnya.
Sementara itu, Benjamin Knödler, Head of Cooperation with the Private Sector BMZ, menyampaikan kebanggaannya atas kemitraan ini.
Menurutnya, ACTIVE 2.0 merupakan contoh nyata bagaimana transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membantu negara-negara Asia Tenggara meningkatkan daya tahan sistem kesehatan.
“Kolaborasi seperti ini menjadi kunci dalam membangun layanan kesehatan yang tangguh. Kami ingin memastikan bahwa pengetahuan dan praktik terbaik internasional dapat diadopsi oleh tenaga profesional lokal,” terangnya.
Transfer Pengetahuan dan Teknologi
Sebagai bagian dari program, sejumlah pakar medis internasional, termasuk ahli onkologi radiasi dari Jepang dan Eropa, akan hadir memberikan pendampingan langsung.
Jadwal pelatihan akan disusun bersama rumah sakit di Indonesia, sehingga program dapat disesuaikan dengan kebutuhan lokal dan mendorong peningkatan kualitas tenaga kesehatan.
Selain transfer ilmu, infrastruktur rumah sakit juga akan ditingkatkan dengan peralatan radioterapi modern yang mampu memberikan hasil lebih efektif serta mempercepat proses pemulihan pasien.
Program ACTIVE 2.0 bukan sekadar proyek tiga tahun, melainkan investasi jangka panjang dalam pembangunan sistem kesehatan.
Dengan adanya pusat pelatihan yang tersebar di empat kota besar, diharapkan kapasitas layanan kanker di Indonesia akan meningkat secara signifikan.
Lebih jauh, keberhasilan program ini dapat menjadi model kolaborasi internasional yang bisa diterapkan untuk penanganan penyakit lainnya.
“Kami bangga dapat mendukung pengembangan teknologi radioterapi di Indonesia bersama dengan Kementerian Kesehatan dan berbagai rumah sakit,” tambah Paul Lee.
Dengan kolaborasi lintas negara, dukungan teknologi, serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan, Program ACTIVE 2.0 diharapkan menjadi tonggak baru dalam penanganan kanker serviks di Indonesia.
Tidak hanya memperpanjang harapan hidup pasien, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan kesehatan nasional menuju standar internasional. (***)
0 Komentar