Musi Online https://musionline.co.id 03 October 2025 @18:28 193 x dibaca 
Akses Utama Desa Terancam Putus Akibat Longsor, Camat Sanga Desa: Rumah dan Balai Desa Tinggal 1 Meter dari Bibir Sungai.
Musionline.co.id, Musi Banyuasin – Peristiwa longsor kembali mengancam keselamatan warga di Dusun V, Desa Tanjung Raya, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan.
Kejadian yang terjadi pada Kamis (2/10/2025) sore ini membuat bahu jalan lintas provinsi Sekayu–Lubuklinggau semakin tergerus dan memicu kekhawatiran akses utama akan benar-benar terputus.
Camat Sanga Desa, Hendrik SH MSi, mengungkapkan longsor susulan itu dipicu curah hujan tinggi yang mengguyur kawasan tersebut sejak beberapa hari terakhir.
Menurutnya, kondisi tanah yang labil di tepi sungai semakin memperparah situasi.
“Dulu sudah ada tiga rumah warga yang habis terbawa longsor. Kini, satu rumah lagi terdampak, dan yang lebih memprihatinkan, balai desa sudah tinggal satu meter dari bibir sungai. Kalau longsor terus berlanjut, bukan hanya fasilitas umum yang hilang, tetapi akses jalan lintas provinsi ini juga bisa terputus total,” tegas Hendrik.
Ia menambahkan, masyarakat sekitar kini dilanda rasa cemas. Warga yang rumahnya masih berada di radius rawan longsor terpaksa bersiap-siap mengungsi sewaktu-waktu, mengingat kondisi cuaca di bulan Oktober masih didominasi hujan deras.
“Jika tidak ada penanganan segera, bukan hanya keselamatan warga yang terancam, tetapi juga roda perekonomian masyarakat bisa lumpuh karena jalan ini merupakan jalur vital yang menghubungkan Sekayu ke Lubuklinggau,” jelasnya.
Bupati Muba Turun Tangan
Menyikapi laporan tersebut, Bupati Muba, H. M. Toha Tohet SH, menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam.
Ia memastikan pemerintah kabupaten segera berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
“Untuk jalan longsor di Desa Tanjung Raya dan jalur lintas kabupaten arah ke Lubuklinggau, kami akan segera menyurati Gubernur Sumsel dan PUPR pusat agar penanganan cepat bisa dilakukan. Tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena risiko kerusakan lebih besar bisa mengganggu jalur transportasi regional,” ujar Toha.
Ia menambahkan, persoalan kerusakan jalan ini sebenarnya sudah menjadi perhatian bersama.
Sebelumnya, Gubernur Sumsel juga telah melayangkan surat resmi kepada PUPR pusat terkait rusaknya jalur Palembang–Betung hingga Sekayu–Lubuklinggau.
“Surat itu menjadi dasar kuat agar pemerintah pusat segera mengalokasikan anggaran untuk perbaikan. Kami di daerah terus mendorong agar langkah konkret segera terlihat,” tambahnya.
Tim Teknis PU PR Turun ke Lapangan
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU PR) Kabupaten Muba, Rudianto ST, mengatakan pihaknya sudah menurunkan tim teknis untuk melakukan pengecekan langsung ke lokasi.
“Tim kami sudah turun untuk mengevaluasi kondisi longsor, melakukan pengukuran, serta memetakan titik-titik rawan lainnya di sekitar lokasi. Dari hasil laporan sementara, longsoran ini memang terjadi di ruas jalan negara, sehingga kewenangan penanganan ada di pemerintah pusat,” terang Rudianto.
Meski begitu, pihaknya tetap menyiapkan langkah darurat seperti pemasangan tanda peringatan, pengaturan lalu lintas, hingga opsi pengerasan sementara pada titik rawan agar kendaraan tetap bisa melintas dengan aman.
Warga Berharap Penanganan Cepat
Di sisi lain, warga Desa Tanjung Raya mengaku resah dan berharap penanganan cepat dilakukan.
Salah seorang warga, Ahmad (47), menuturkan bahwa setiap kali hujan deras turun, mereka harus berjaga-jaga karena takut tanah kembali longsor.
“Anak-anak tidak bisa bermain bebas, bahkan tidur pun kami was-was. Kami berharap pemerintah segera membuat turap atau penahan tebing, supaya tidak ada lagi rumah yang hanyut terbawa longsor,” ujarnya.
Selain itu, akses jalan yang terancam putus juga membuat aktivitas ekonomi warga terganggu. Para petani dan pedagang kesulitan mengangkut hasil bumi ke pasar karena takut jalan tiba-tiba ambles.
Ancaman Bencana yang Harus Diantisipasi
Fenomena longsor di wilayah Muba, khususnya Sanga Desa, disebut sudah berulang kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi geografis berupa tepi sungai dengan tanah yang gembur menjadi faktor utama, ditambah intensitas hujan yang tinggi.
Jika tidak segera ada penanganan permanen, ancaman terputusnya akses utama bukan lagi sekadar prediksi, tetapi kenyataan yang akan melumpuhkan mobilitas masyarakat sekaligus perekonomian daerah.
Kini, seluruh mata tertuju pada langkah cepat pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat untuk bersama-sama mencari solusi terbaik.
Penanganan permanen seperti pembangunan turap beton, pelebaran jalan, dan penguatan struktur tanah di sekitar tebing sungai dinilai menjadi jawaban agar kejadian serupa tidak terus terulang. (***)
0 Komentar