Musi Online https://musionline.co.id 13 October 2025 @18:56 179 x dibaca 
Santri 13 Tahun Ditemukan Tewas Gantung Diri di Ponpes Muara Enim, Sempat Izin Beristirahat di Kamar.
Musionline.co.id, Muara Enim – Warga Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, digemparkan oleh peristiwa tragis meninggalnya seorang santri berinisial GP (13) yang ditemukan tewas diduga akibat gantung diri di salah satu pondok pesantren (Ponpes) di Kecamatan Lubai, Sabtu (11/10/2025) sekitar pukul 15.30 WIB.
Dari keterangan sejumlah saksi, sebelum peristiwa nahas itu terjadi, korban sempat meminta izin kepada teman-temannya untuk tidak mengikuti kegiatan sore karena merasa kurang enak badan.
Ia pun memilih untuk beristirahat di kamar asrama.
Namun, sekitar pukul 17.45 WIB, tiga rekan sekamar korban—masing-masing berinisial MH, MU, dan RE—terkejut saat mendapati korban sudah dalam posisi tergantung di palang atap kamar dengan menggunakan kain sarung.
Sontak, para santri langsung panik dan melaporkan kejadian tersebut kepada pimpinan pondok pesantren.
Bersama pengurus Ponpes, mereka segera menurunkan korban dan berupaya memberikan pertolongan.
Namun, kondisi korban sudah tidak bernyawa.
Pihak Ponpes kemudian melaporkan peristiwa ini ke Pemerintah Desa setempat dan berkoordinasi dengan aparat kepolisian.
Jenazah GP dibawa ke RSUD Pratama Lubai Ulu untuk dilakukan pemeriksaan medis.
Kapolres Muara Enim AKBP Jhoni Eka Putra, melalui Kasi Humas AKP RTM Situmorang, membenarkan kejadian tersebut.
“Benar, telah ditemukan seorang santri yang meninggal dunia diduga akibat gantung diri. Personel kepolisian telah mendatangi lokasi kejadian, melakukan olah TKP, serta meminta keterangan sejumlah saksi,” jelasnya, Senin (13/10/2025).
AKP Situmorang menambahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan medis tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain di tubuh korban.
“Hanya terdapat bekas jeratan melingkar di leher korban. Korban dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 19.20 WIB,” ujarnya.
Lebih lanjut, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengetahui motif dan latar belakang kejadian tersebut.
Dari keterangan awal yang diperoleh, korban dikenal sebagai santri yang pendiam dan tidak memiliki masalah pribadi baik dengan teman maupun pengurus pondok.
“Untuk sementara belum ada indikasi penyebab pasti. Kami masih menunggu hasil penyelidikan lanjutan serta pemeriksaan psikologis lingkungan sekitar,” pungkas AKP Situmorang.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi lingkungan pendidikan dan keagamaan agar memperkuat pendampingan psikologis bagi para santri, terutama yang masih berusia remaja.
Dukungan emosional dan komunikasi terbuka diharapkan dapat mencegah terulangnya tragedi serupa di kemudian hari. (***)
0 Komentar