Musi Online https://musionline.co.id 10 December 2025 @18:06 93 x dibaca 
Budidaya Kopi Liberika Terus Dikembangkan di OKU, Bupati Teddy: Cocok Ditanam Tumpang Sari.
Musionline.co.id, Ogan Komering Ulu - Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) semakin serius mengembangkan budidaya kopi liberika sebagai komoditas unggulan daerah.
Seiring meningkatnya permintaan pasar dan harga jual yang semakin menjanjikan, kopi jenis liberika kini menjadi salah satu tanaman favorit di kalangan petani setempat.
Bupati OKU, Teddy Meilwansyah, mengatakan bahwa pengembangan kopi liberika di wilayahnya terus digencarkan karena tanaman ini dinilai memiliki potensi ekonomi yang sangat besar.
“Budidaya kopi liberika saat ini sedang gencar dikembangkan oleh petani di Kabupaten OKU. Permintaannya juga semakin tinggi seiring meningkatnya budaya minum kopi di semua kalangan,” ujar Bupati Teddy saat memberikan keterangan, Selasa (9/12/2025).
Menurutnya, tren konsumsi kopi yang terus meningkat bukan hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga telah merambah hingga ke daerah.
Hal ini membuka peluang besar bagi petani lokal untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil panen.
OKU Masuk Lima Besar Penghasil Kopi di Sumsel
Kabupaten OKU tercatat sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Provinsi Sumatera Selatan. Luas lahan perkebunan kopi di wilayah ini mencapai sekitar 22.099 hektare, dengan total produksi rata-rata mencapai 20.665 ton biji kopi kering per tahun.
Perkebunan kopi tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Kecamatan Pengandonan, Ulu Ogan, Muara Jaya, Lengkiti, dan Sosoh Buay Rayap.
Jumlah petani kopi di OKU mencapai lebih dari 20.988 orang, yang sebagian besar membudidayakan kopi jenis liberika karena sangat cocok tumbuh di dataran rendah.
“Kopi liberika ini memang sangat sesuai dengan karakteristik lahan di wilayah kami, terutama daerah yang berada di dataran rendah,” jelas Teddy.
Didukung Pemkab Sejak 2022
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemerintah Kabupaten OKU sejak tahun 2022 telah menyalurkan sebanyak 2.250 bibit kopi liberika kepada para petani. Bantuan ini bertujuan untuk memperluas areal tanam sekaligus meningkatkan produktivitas.
Selain bantuan bibit, Bupati OKU juga menginstruksikan Dinas Pertanian setempat untuk melakukan pendampingan dan pembinaan intensif kepada petani, khususnya terkait pola tanam yang benar, pemupukan, hingga teknik pascapanen.
“Saya sudah menginstruksikan Dinas Pertanian OKU untuk terus membina petani agar mereka memahami pola tanam kopi liberika yang baik, sehingga hasil panen bisa lebih maksimal,” katanya.
Bisa Ditanam Tumpang Sari dengan Tanaman Lain
Salah satu keunggulan kopi liberika adalah kemampuannya untuk ditanam dengan sistem tumpang sari. Tanaman ini dapat berfungsi sebagai tanaman sela di antara tanaman lain, seperti karet atau tanaman perkebunan lainnya yang umum dibudidayakan masyarakat.
“Kopi liberika bisa ditanam secara tumpang sari, memanfaatkan ruang kosong di sela-sela tanaman utama, misalnya di antara pohon karet. Ini sangat menguntungkan karena lahan bisa produktif secara maksimal,” tambahnya.
Harga Capai Rp220 Ribu per Kilogram
Selain mudah dibudidayakan, kopi liberika juga memiliki karakter rasa dan aroma yang khas. Cita rasanya dikenal lebih kuat dibandingkan jenis kopi lainnya, sehingga memiliki segmen pasar tersendiri.
Di wilayah Baturaja, harga bubuk kopi liberika bahkan bisa mencapai Rp220.000 per kilogram, menjadikannya salah satu komoditas perkebunan yang sangat menjanjikan bagi peningkatan kesejahteraan petani.
“Potensi ekonomi kopi liberika ini sangat besar. Jika dikelola secara serius, komoditas ini bisa menjadi penopang ekonomi baru bagi petani di OKU,” tutupnya. (***)
0 Komentar