Musi Online https://musionline.co.id 15 April 2026 @18:29 30 x dibaca 
Ratusan Rumah Terendam Banjir di Muara Enim, Warga Soroti Drainase dan Kolam Retensi Belum Optimal.
Musionline.co.id, Muara Enim - Hujan deras yang mengguyur wilayah Muara Enim pada Selasa (14/4/2026) dini hari menyebabkan ratusan rumah warga terendam banjir.
Peristiwa ini kembali menyoroti lemahnya sistem drainase serta fungsi kolam retensi yang dinilai belum berjalan optimal dalam menanggulangi luapan air.
Berdasarkan pantauan di lapangan, banjir terparah terjadi di Kelurahan Pasar II dan Kelurahan Air Lintang, Kecamatan Muara Enim.
Selain itu, genangan air juga meluas ke sejumlah titik strategis di pusat kota, seperti di depan GOR Pancasila, Jalan Jenderal Sudirman tepatnya di depan Panca Motor, kawasan depan Kantor Bupati, hingga Jalan Pangeran Danal.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Muara Enim, Abdurrozieq Putra, mengungkapkan bahwa banjir terjadi sekitar pukul 04.00 WIB akibat tingginya curah hujan dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut membuat sistem drainase tidak mampu menampung debit air yang meningkat secara drastis.
“Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan air meluap hingga masuk ke permukiman warga. Ketinggian air sempat mencapai antara 60 hingga 100 sentimeter,” ujar Rozieq.
Ia menambahkan, banjir juga dipicu oleh meluapnya Sungai Aur yang berdampak signifikan terhadap kawasan padat penduduk.
Data sementara mencatat sebanyak 450 kepala keluarga (KK) terdampak di Kelurahan Pasar II dan 202 KK di Kelurahan Air Lintang.
Mendapat laporan dari masyarakat, tim BPBD Muara Enim langsung bergerak cepat melakukan penanganan darurat.
Upaya ini dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), aparat kelurahan, serta dukungan dari TNI dan Polri.
Petugas gabungan diterjunkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi warga menggunakan perahu viber dan mesin jinjing, sekaligus melakukan kaji cepat bencana.
Selain evakuasi, petugas juga membantu warga membersihkan rumah dari sisa lumpur dan material yang terbawa arus banjir.
“Kami juga terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat kondisi cuaca masih berpotensi hujan dengan intensitas tinggi,” tambah Rozieq.
Di tengah upaya penanganan tersebut, warga terdampak justru mengeluhkan kondisi infrastruktur penanggulangan banjir yang dinilai belum efektif.
Salah satunya terkait sistem drainase dan kolam retensi yang seharusnya mampu mengendalikan aliran air saat hujan deras.
Fitra (42), warga Pandawa Lima, Kelurahan Air Lintang, mengaku banjir justru lebih sering terjadi sejak dibangunnya kolam retensi di wilayah tersebut.
Ia menduga kapasitas pintu air yang terlalu kecil menjadi penyebab utama air tidak dapat mengalir dengan lancar.
“Sejak ada kolam retensi, banjir malah jadi lebih sering. Kemungkinan pintu keluar air terlalu kecil, sehingga air tertahan dan akhirnya meluap ke permukiman,” ungkapnya.
Fitra juga menyebutkan bahwa banjir kali ini merupakan yang terparah selama ia tinggal di kawasan tersebut selama 10 tahun terakhir.
Jika sebelumnya ketinggian air hanya sebatas mata kaki, kini air bisa mencapai dada orang dewasa, bahkan mencapai 1 hingga 1,5 meter di beberapa titik.
“Padahal hujan derasnya tidak lama, hanya beberapa jam, tapi air bisa setinggi itu. Ini jelas ada masalah pada sistem penanganannya,” katanya.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase dan kolam retensi yang ada.
Perbaikan infrastruktur dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
“Kami berharap pintu air kolam retensi diperbesar atau diperbaiki agar aliran air lancar. Jangan sampai setiap hujan deras, warga selalu jadi korban banjir,” tegas Fitra.
Saat ini, kondisi banjir di Muara Enim dilaporkan telah berangsur surut setelah berlangsung sekitar 10 jam.
Aktivitas masyarakat perlahan mulai kembali normal, termasuk arus lalu lintas yang sebelumnya sempat terganggu kini sudah kembali lancar.
Meski demikian, peristiwa ini menjadi pengingat penting akan perlunya peningkatan sistem pengelolaan air di kawasan perkotaan, terutama dalam menghadapi intensitas cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. (***)
0 Komentar