Musi Online https://musionline.co.id 20 May 2026 @18:31 21 x dibaca 
UNSRI Perkuat Program 3R, Pabrik Pengolahan Sampah Plastik Beroperasi Penuh di Kampus Indralaya Ogan Ilir.
Musionline.co.id, Ogan Ilir - Universitas Sriwijaya atau UNSRI terus memperkuat komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui optimalisasi Program 3R (Reduce, Reuse, and Recycle) sebagai bagian dari strategi pengelolaan sampah terpadu di lingkungan kampus.
Langkah tersebut menjadi upaya nyata kampus dalam menciptakan kawasan pendidikan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan, terutama di Kampus Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir.
Komitmen tersebut semakin diperkuat dengan beroperasinya secara penuh Pabrik Pengolahan Sampah Plastik UNSRI pada tahun 2026.
Fasilitas ini dipusatkan di kawasan Unit Pengolahan Sampah UNSRI yang berdiri di atas lahan seluas 0,5 hektar di Kampus Indralaya dan diharapkan mampu menjadi pusat pengelolaan sampah modern berbasis keberlanjutan di lingkungan perguruan tinggi.
Rektor UNSRI, Prof. Dr. Taufiq Marwa melalui Kepala Bagian Humas dan Protokol, Dr. Nurly Meilinda menyampaikan bahwa penguatan Program 3R menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem pengelolaan limbah kampus yang lebih terintegrasi.
“Universitas Sriwijaya terus memperkuat komitmennya dalam pelestarian lingkungan melalui optimalisasi Program 3R untuk pengelolaan sampah di lingkungan kampus,” ujar Dr. Nurly Meilinda dalam keterangan tertulis.
Pengelolaan Sampah Dipusatkan di Kampus Indralaya
Dalam implementasinya, pengelolaan sampah UNSRI kini dipusatkan pada Unit Pengolahan Sampah yang berada di kawasan Kampus Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir.
Fasilitas ini tidak hanya menjadi tempat pengolahan limbah, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat terkait pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Unit tersebut saat ini dikelola secara profesional oleh total 16 personel yang memiliki pembagian tugas berbeda guna memastikan operasional berjalan optimal.
Tim tersebut terdiri dari satu kepala unit, tiga koordinator, empat staf administrasi, empat operator, satu pengemudi, serta tiga petugas keamanan.
Keberadaan tim yang lengkap itu dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung efektivitas pengelolaan sampah kampus, mulai dari proses pengumpulan, pemilahan, pengolahan, hingga distribusi hasil pengelolaan sampah plastik.
Menurut pihak kampus, pendekatan yang diterapkan bukan hanya berorientasi pada penanganan sampah semata, tetapi juga mengintegrasikan aspek edukasi, penguatan budaya lingkungan, serta pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Pabrik Pengolahan Sampah Plastik UNSRI Beroperasi Penuh
Memasuki tahun 2026, Pabrik Pengolahan Sampah Plastik UNSRI disebut telah beroperasi secara penuh dengan kapasitas pengolahan mencapai dua ton sampah plastik per hari.
Kehadiran fasilitas ini menjadi salah satu tonggak penting dalam penguatan sistem pengelolaan limbah kampus karena memungkinkan sampah plastik diproses secara lebih maksimal sebelum memasuki tahap pemanfaatan lanjutan.
Pabrik tersebut didukung gedung seluas 350 meter persegi dengan berbagai fasilitas modern untuk mendukung proses pengolahan.
Dr. Nurly Meilinda menjelaskan, fasilitas itu telah dilengkapi dua unit mesin pencacah plastik dengan kapasitas masing-masing satu ton per hari. Selain itu, terdapat satu unit mesin pengering, area pemilahan sampah, koridor pengunjung, serta dua ruang kantor operasional.
“Fasilitas ini dilengkapi dua unit mesin pencacah plastik dengan kapasitas masing-masing satu ton per hari, satu unit pengering, koridor pengunjung, dua ruang kantor, serta area pemilahan,” jelasnya.
Untuk mendukung kelancaran operasional, UNSRI juga menyediakan gudang penyimpanan seluas 144 meter persegi yang berfungsi menampung hasil pengolahan maupun material sampah sebelum diproses.
Keberadaan fasilitas tersebut memperlihatkan keseriusan UNSRI dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya responsif terhadap persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki daya dukung infrastruktur yang memadai.
Rencana Pengembangan Pabrik RDF untuk Sampah Campuran
Tidak berhenti pada pengolahan sampah plastik, UNSRI juga menyiapkan langkah inovatif lanjutan melalui rencana pembangunan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) di Kampus Indralaya.
Program RDF merupakan sistem pengolahan sampah campuran menjadi bahan bakar alternatif yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat lingkungan. Rencana ini menjadi bagian dari pengembangan jangka panjang pengelolaan limbah terpadu di lingkungan kampus.
Menurut Dr. Nurly Meilinda, fasilitas RDF nantinya akan didukung sejumlah peralatan penting seperti mesin Gibrik, konveyor, tangki pematangan, hingga gudang produk RDF.
Pembangunan fasilitas tersebut melengkapi gedung RDF seluas 192 meter persegi yang sebelumnya telah rampung pada tahun 2025.
“Sebagai langkah inovatif lanjutan di tahun 2026, UNSRI merencanakan pengadaan pabrik RDF untuk mengolah sampah campuran di Kampus Indralaya,” katanya.
Apabila terealisasi secara optimal, fasilitas RDF diyakini akan memperluas kapasitas pengelolaan limbah UNSRI, terutama terhadap sampah yang selama ini sulit dipilah atau memiliki tingkat pencampuran tinggi.
Pemberdayaan Staf Kantin dan Pensiunan UNSRI
Selain memperkuat aspek infrastruktur dan teknologi, UNSRI juga mengedepankan pendekatan sosial melalui pemberdayaan masyarakat di lingkungan kampus maupun warga sekitar.
Salah satu program yang dijalankan yakni pembinaan kepada para staf kantin di lingkungan kampus agar mengumpulkan sampah plastik yang masih memiliki nilai ekonomi. Sampah tersebut kemudian dapat dijual kembali kepada koordinator Unit Pengelolaan Sampah UNSRI untuk diolah lebih lanjut.
Tidak hanya itu, para pensiunan UNSRI yang tinggal di sekitar Kampus Indralaya juga dilibatkan sebagai pengumpul sampah. Mereka diberdayakan untuk membantu proses edukasi masyarakat mengenai pentingnya memilah sampah berdasarkan jenis plastik sebelum disetorkan ke unit pengolahan.
Langkah tersebut dinilai memberi dampak ganda, yakni membantu menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi berbasis pengelolaan sampah.
Pendekatan pemberdayaan ini juga menunjukkan bahwa Program 3R yang dijalankan UNSRI tidak hanya berfokus pada teknologi pengolahan, melainkan mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga dan lingkungan sekitar.
Melalui kombinasi antara penguatan fasilitas modern, sistem pengelolaan terintegrasi, serta keterlibatan masyarakat, UNSRI optimistis mampu menghadirkan ekosistem kampus yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
“Melalui integrasi antara fasilitas modern dan pemberdayaan masyarakat, UNSRI optimis dapat menciptakan ekosistem kampus yang berkelanjutan dan bersih,” tutup Dr. Nurly Meilinda. (***)
0 Komentar