Musi Online | Hujan Deras Picu Longsor di Lubuklinggau, Rumah Kontrakan Ambruk dan Jembatan Pertamina Terancam Roboh
Hut
Home        Berita        Seputar Musi

Hujan Deras Picu Longsor di Lubuklinggau, Rumah Kontrakan Ambruk dan Jembatan Pertamina Terancam Roboh

Musi Online
https://musionline.co.id 23 July 2026 @08:59
Hujan Deras Picu Longsor di Lubuklinggau, Rumah Kontrakan Ambruk dan Jembatan Pertamina Terancam Roboh
Hujan Deras Picu Longsor di Lubuklinggau, Rumah Kontrakan Ambruk dan Jembatan Pertamina Terancam Roboh.

Musionline.co.id, Lubuklinggau – Hujan deras yang mengguyur Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, pada Rabu dini hari, 22 Juli 2026, memicu bencana tanah longsor di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Lubuk Linggau Ilir, Kecamatan Lubuklinggau Utara II. 
Bencana tersebut menyebabkan satu unit rumah kontrakan yang digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus usaha penjualan buah ambruk.
Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tanah longsor tersebut. 
Namun, bencana mengakibatkan kerugian materi yang diperkirakan mencapai Rp8 juta hingga Rp10 juta. 
Kerugian tersebut terutama berasal dari rusaknya serta tertimbunnya buah-buahan dagangan yang menjadi sumber penghasilan keluarga penyewa bangunan.
Selain merobohkan bangunan, longsor juga menimbulkan kekhawatiran baru terhadap kondisi badan Jalan Jenderal Sudirman dan infrastruktur jembatan yang berada hanya beberapa meter dari titik longsor. 
Penggerusan tanah yang terus berlangsung dikhawatirkan semakin memperlebar longsoran dan mengancam konstruksi jembatan yang dikenal masyarakat sebagai Jembatan Pertamina.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena lokasi longsor berada di jalur utama yang setiap hari dilalui kendaraan. Kondisi tersebut semakin berisiko apabila hujan deras kembali mengguyur wilayah Kota Lubuklinggau dan menyebabkan tanah di sekitar lokasi terus mengalami pengikisan.
Rumah Kontrakan Ambruk Setelah Terdengar Suara Retakan
Rustam (40), warga asal Belitang yang mengontrak bangunan tersebut, mengaku sempat mendengar suara retakan sebelum rumah sekaligus tempat usahanya ambruk. Saat kejadian, bangunan itu ditempati Rustam bersama istri, anak dan seorang karyawan yang membantu menjalankan usaha penjualan buah.
Menurut Rustam, suara retakan pada bagian bangunan terdengar semakin jelas. Menyadari kondisi tersebut mulai membahayakan keselamatan, ia bersama karyawannya berupaya menyelamatkan buah-buahan yang masih berada di dalam bangunan.
"Bangunan ini saya kontrak untuk tempat usaha jualan buah sekaligus tempat tinggal bersama istri, anak dan satu orang karyawan," ujar Rustam.
Ia menjelaskan, upaya evakuasi barang dagangan dilakukan secepat mungkin karena kondisi bangunan semakin mengkhawatirkan. Namun, proses penyelamatan belum selesai ketika bangunan akhirnya ambruk sekitar pukul 10.30 WIB.
"Kami langsung memindahkan buah-buahan. Tapi belum sempat semuanya diselamatkan, bangunan sudah lebih dulu ambruk," katanya.
Reruntuhan bangunan kemudian menimpa dan menimbun sebagian barang dagangan. Rustam memperkirakan kerugian yang dialaminya berkisar antara Rp8 juta hingga Rp10 juta. Nilai tersebut belum termasuk kerusakan bangunan karena rumah yang digunakan untuk usaha tersebut merupakan bangunan kontrakan.
Untuk kerusakan fisik bangunan, Rustam mengaku tidak mengetahui secara pasti nilai kerugiannya karena bangunan tersebut bukan miliknya.
Pergerakan Tanah Sudah Lama Menjadi Perhatian
Lurah Lubuk Linggau Ilir, Ari Sumanti, mengatakan pergerakan tanah di sekitar lokasi sebenarnya telah lama menjadi perhatian pemerintah kelurahan. Bahkan, pihak kelurahan disebut telah beberapa kali mengajukan proposal penanganan kepada instansi terkait.
Namun, hingga bencana longsor terjadi dan menyebabkan bangunan ambruk, upaya penanganan permanen di lokasi tersebut belum terealisasi.
"Longsor ini sebenarnya sudah lama menjadi perhatian. Sejak awal tahun kami sudah empat kali mengajukan proposal ke Dinas Pekerjaan Umum, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut," ujar Ari.
Menurut Ari, hujan deras yang mengguyur Kota Lubuklinggau sepanjang malam menjadi salah satu faktor yang memperparah kondisi tanah. Air yang mengalir deras menyebabkan tanah di bawah badan jalan semakin labil hingga akhirnya terjadi longsor.
Ia memastikan tidak ada warga yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Kerusakan yang terjadi hanya berdampak pada bangunan kontrakan dan barang dagangan milik penyewa.
"Alhamdulillah tidak ada korban. Yang terdampak hanya bangunan dan buah-buahan dagangan milik penyewa," katanya.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, Ari mengingatkan adanya potensi bahaya yang lebih besar apabila kondisi tersebut tidak segera mendapatkan penanganan. Terlebih, lokasi longsor berada di jalur utama yang dilalui berbagai jenis kendaraan, termasuk kendaraan dengan muatan berat.
"Kalau kendaraan besar melintas, jembatan sudah terasa bergoyang. Kami khawatir jika tidak segera ditangani, longsor akan semakin parah dan bisa menimbulkan korban," tegasnya.
DPKPB Ungkap Tanah Terus Tergerus Air
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPKPB) Kota Lubuklinggau, Edny Eka Putrawijaya, menjelaskan bahwa longsor terjadi akibat derasnya aliran air yang terus mengikis tanah di bawah badan jalan.
Menurut Edny, bangunan yang ambruk berada di atas saluran air atau drainase yang lokasinya berdekatan dengan daerah aliran sungai (DAS). Kondisi tersebut membuat tanah di sekitar pondasi bangunan semakin mudah tergerus, terutama ketika hujan deras terjadi.
"Hujan semalam membuat tanah di bawah aliran air semakin tergerus. Di bawah jalan juga terdapat drainase yang sebagian tertutup bangunan, sehingga saat terjadi longsor pergerakan tanah menjadi semakin besar," jelas Edny.
Ia mengungkapkan, pihaknya bersama Dinas Pekerjaan Umum sebelumnya telah melakukan pengecekan terhadap kondisi tanah di bawah jembatan. Dari hasil pengecekan tersebut, ditemukan adanya pengikisan tanah yang berlangsung secara bertahap.
"Kami bersama PU pernah mengecek langsung ke bawah jembatan. Kondisi tanah memang terus tergerus setiap kali hujan deras," ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena apabila penggerusan terus berlangsung, bukan hanya bangunan yang berada di bawah badan jalan yang terancam. Struktur jalan dan jembatan di sekitar lokasi juga berpotensi terdampak.
Jembatan Pertamina Dikhawatirkan Ikut Terancam
Pascalongsor, petugas DPKPB bersama masyarakat langsung melakukan evakuasi terhadap barang-barang milik Rustam. Buah-buahan yang masih dapat diselamatkan segera dipindahkan dari lokasi untuk mengurangi kerugian yang dialami korban.
Petugas juga melakukan langkah antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya longsor susulan. Hal ini dilakukan mengingat kondisi tanah di sekitar lokasi masih rawan mengalami pergerakan, khususnya jika kembali diguyur hujan deras.
Namun, perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada bangunan yang telah ambruk. Kondisi Jembatan Pertamina yang berada di dekat titik longsor juga menjadi perhatian karena bagian pangkal jembatan disebut terus mengalami penggerusan.
Edny mengatakan, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi stabilitas konstruksi jembatan apabila tidak segera ditangani. Terlebih, jembatan tersebut dilintasi berbagai kendaraan, termasuk kendaraan bertonase besar.
"Kami akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mencari solusi, apakah perlu dilakukan pengalihan arus atau pembatasan kendaraan bertonase besar yang melintas," katanya.
Menurut Edny, kendaraan berat yang melintas memberikan beban tambahan terhadap struktur jembatan yang berada di dekat kawasan tanah yang mengalami pengikisan. Salah satu kendaraan yang menjadi perhatian adalah mobil tangki pengangkut bahan bakar milik Pertamina.
"Risiko kerusakan hingga ambruknya jembatan cukup besar apabila kondisi ini terus dibiarkan. Kami pernah mengusulkan agar kendaraan bertonase berat, khususnya mobil tangki Pertamina, jika memungkinkan menggunakan jalur alternatif," ungkapnya.
Pemerintah Siapkan Koordinasi Penanganan
Untuk mencegah kondisi semakin memburuk, DPKPB Kota Lubuklinggau akan melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi terkait. Koordinasi tersebut melibatkan Dinas Pekerjaan Umum, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), serta pihak kepolisian.
Langkah koordinasi diperlukan untuk menentukan bentuk penanganan yang paling tepat, baik untuk kebutuhan darurat maupun penanganan permanen. Selain itu, pengaturan lalu lintas juga dapat menjadi salah satu opsi apabila kondisi jembatan dinilai semakin berisiko.
"Kami segera berkoordinasi dengan PU, BPKAD dan kepolisian agar penanganan bisa dilakukan secepat mungkin sebelum terjadi kerusakan yang lebih besar," pungkas Edny.
Bencana longsor di Jalan Jenderal Sudirman ini menjadi pengingat pentingnya percepatan penanganan kawasan rawan bencana di Kota Lubuklinggau. Kondisi tanah yang terus tergerus air, ditambah intensitas hujan deras dan tingginya aktivitas kendaraan di jalur tersebut, berpotensi meningkatkan risiko kerusakan apabila tidak segera ditangani.
Masyarakat di sekitar lokasi juga diimbau tetap waspada, terutama ketika hujan deras berlangsung dalam waktu lama. Warga yang berada di sekitar tebing, drainase, maupun daerah yang mengalami retakan tanah diharapkan segera melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah setempat atau petugas penanggulangan bencana.
Dengan adanya koordinasi lintas instansi, diharapkan penanganan longsor dapat segera dilakukan. Upaya tersebut tidak hanya penting untuk membantu warga yang kehilangan tempat usaha dan tempat tinggal, tetapi juga untuk memastikan keselamatan pengguna Jalan Jenderal Sudirman serta mencegah potensi kerusakan yang lebih besar pada Jembatan Pertamina.
Kecepatan pemerintah dalam merespons kondisi tersebut menjadi sangat penting mengingat lokasi longsor berada di kawasan strategis dengan mobilitas kendaraan yang cukup tinggi. 
Penanganan permanen juga diharapkan dapat menghentikan penggerusan tanah sekaligus memperkuat struktur jalan dan kawasan sekitar jembatan sehingga risiko bencana lanjutan dapat diminimalkan. (***)



Tinggalkan Komentar Anda


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *



0 Komentar

Maroko
Top