Musi Online https://musionline.co.id 05 May 2025 @17:53 1314 x dibaca 
BPS: Jumlah Pengangguran di Indonesia Capai 7,28 Juta per Februari 2025, TPT Justru Turun.
Musionline.co.id, Jakarta — Badan Pusat Statistik (BPS) kembali merilis data terbaru terkait kondisi ketenagakerjaan Indonesia per Februari 2025.
Salah satu sorotan utama adalah jumlah pengangguran yang mencapai 7,28 juta orang.
Namun menariknya, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) justru mengalami penurunan, mencerminkan dinamika kompleks dalam struktur ketenagakerjaan nasional.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi persnya pada Senin (05/05/2025) menyebut bahwa angka pengangguran tersebut setara dengan 4,76% dari total angkatan kerja nasional yang berjumlah 153,05 juta orang.
Dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, jumlah pengangguran mengalami peningkatan sebesar 83.000 orang atau naik 1,11%.
“Jumlah orang menganggur per Februari 2025 sebanyak 7,28 juta orang. Dibanding Februari 2024, terjadi peningkatan sebanyak 83.000 orang atau naik 1,11%,” ujar Amalia.
Meski demikian, TPT justru menurun dari 4,82% pada Februari 2024 menjadi 4,76% pada Februari 2025.
Ini mengindikasikan bahwa meskipun jumlah pengangguran naik secara nominal, peningkatan jumlah penduduk yang bekerja jauh lebih tinggi, sehingga secara proporsional TPT turun.
Kenaikan Pengangguran dan Penurunan TPT: Apa Artinya?
Fenomena ini cukup unik dan sering kali membingungkan publik.
Bagaimana mungkin pengangguran bertambah tetapi TPT menurun? Amalia menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh peningkatan signifikan dalam jumlah penduduk yang bekerja, yakni naik 2,52%, jauh lebih tinggi dibandingkan peningkatan jumlah pengangguran yang hanya 1,11%.
Artinya, pasar kerja Indonesia tetap menyerap tenaga kerja baru dalam jumlah besar, walaupun tetap ada sebagian kecil yang belum mendapatkan pekerjaan.
Gambaran Umum Angkatan Kerja Indonesia Februari 2025
Dari total 153,05 juta angkatan kerja, mayoritas masih bekerja di sektor informal, pertanian, perdagangan, serta industri manufaktur.
Namun, tekanan ekonomi global, digitalisasi, dan perubahan pola konsumsi masyarakat turut memengaruhi dinamika pasar kerja Indonesia.
Berikut adalah beberapa data penting terkait ketenagakerjaan nasional per Februari 2025:
Jumlah angkatan kerja: 153,05 juta orang
Jumlah penduduk bekerja: ±145,77 juta orang
Jumlah pengangguran: 7,28 juta orang
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT): 4,76%
Perbandingan TPT: Laki-Laki vs Perempuan
Data BPS juga memaparkan bahwa terdapat perbedaan tren antara pengangguran laki-laki dan perempuan.
TPT perempuan mengalami penurunan sebesar 0,19 basis poin, menjadi 4,41% pada Februari 2025.
Sebaliknya, TPT laki-laki justru meningkat sebesar 0,02 basis poin menjadi 4,98%.
Ini bisa diartikan bahwa akses kerja untuk perempuan membaik, kemungkinan karena semakin luasnya ruang bagi perempuan di sektor jasa dan digital, termasuk UMKM berbasis daring.
Sedangkan laki-laki masih mendominasi sektor-sektor tradisional seperti konstruksi dan manufaktur yang relatif lebih terdampak oleh ketidakpastian global.
Penurunan TPT di Perkotaan dan Pedesaan
Satu lagi kabar positif datang dari persebaran geografis pengangguran. Baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan, TPT mengalami penurunan.
TPT di perkotaan tercatat sebesar 5,73%, turun 0,16 basis poin dibanding Februari 2024. Di sisi lain, TPT di pedesaan juga turun menjadi 3,33%, turun 0,04 basis poin dari 3,37%.
Penurunan ini mencerminkan bahwa kebijakan pemerataan ekonomi dan pemberdayaan desa yang dicanangkan pemerintah cukup berhasil membuka akses kerja di pedesaan.
Selain itu, perkembangan teknologi juga memungkinkan masyarakat desa menjalankan usaha berbasis internet, seperti jual beli online atau jasa daring.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tren Pengangguran
1. Transformasi Digital
Transformasi digital di berbagai sektor telah mengubah pola rekrutmen dan kebutuhan tenaga kerja.
Perusahaan lebih banyak mencari tenaga kerja dengan keterampilan digital, menyebabkan ketimpangan antara kebutuhan industri dan keterampilan pencari kerja.
2. Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi
Meskipun Indonesia sudah keluar dari fase darurat pandemi COVID-19, pemulihan sektor-sektor terdampak seperti pariwisata, transportasi, dan UMKM masih berjalan secara bertahap.
3. Perubahan Iklim dan Urbanisasi
Perubahan iklim juga berdampak pada sektor pertanian, sementara urbanisasi menyebabkan migrasi besar-besaran dari desa ke kota yang tidak diimbangi oleh kesiapan pasar kerja di wilayah perkotaan.
4. Pendidikan dan Pelatihan
Ketidaksesuaian antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri (mismatch) turut menjadi masalah utama.
Banyak lulusan belum siap masuk ke dunia kerja atau tidak memiliki keterampilan praktis.
Upaya Pemerintah Menekan Angka Pengangguran
Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Kementerian Pendidikan, serta Kementerian UMKM telah menggulirkan berbagai program untuk menekan angka pengangguran:
Program Kartu Prakerja yang terus diperbarui untuk pelatihan digital dan soft skills.
Revitalisasi pendidikan vokasi dan politeknik agar sesuai dengan kebutuhan industri.
Insentif bagi investor dan pelaku UMKM yang mampu membuka lapangan kerja baru.
Peningkatan konektivitas infrastruktur desa untuk mendukung ekonomi lokal.
Tantangan ke Depan: Bonus Demografi dan Revolusi Industri 5.0
Indonesia akan memasuki puncak bonus demografi pada 2030, di mana jumlah usia produktif (15–64 tahun) mendominasi populasi.
Jika tidak dikelola dengan baik, ini bisa menjadi bencana demografi karena jumlah pengangguran bisa melonjak tajam.
Oleh sebab itu, Indonesia harus bersiap menghadapi Revolusi Industri 5.0 yang menekankan pada kolaborasi manusia dan mesin.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi satu-satunya solusi jangka panjang.
Optimisme Disertai Kewaspadaan
Laporan BPS tentang kondisi pengangguran Februari 2025 membawa pesan ganda: ada optimisme karena TPT menurun, namun kewaspadaan tetap diperlukan karena jumlah penganggur secara nominal masih meningkat.
Pemerintah perlu mengintensifkan program penciptaan lapangan kerja yang inklusif dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah, peran swasta, dan kesadaran masyarakat dalam mengembangkan keterampilan baru, diharapkan angka pengangguran dapat ditekan lebih jauh dan Indonesia siap menghadapi era global yang penuh tantangan. (***)
0 Komentar