Musi Online | Anak Sungai di Palembang Sebagai Nadi Kehidupan Kota Dibiarkan Mati, Sejarawan Unsri Bilang Begini
Hut
Home        Berita        Ruang Seni Budaya

Anak Sungai di Palembang Sebagai Nadi Kehidupan Kota Dibiarkan Mati, Sejarawan Unsri Bilang Begini

Musi Online
https://musionline.co.id 15 July 2025 @18:18
Anak Sungai di Palembang Sebagai Nadi Kehidupan Kota Dibiarkan Mati, Sejarawan Unsri Bilang Begini
Anak Sungai di Palembang Sebagai Nadi Kehidupan Kota Dibiarkan Mati, Sejarawan Unsri Bilang Begini.

Musionline.co.id - Kota Palembang yang dahulu dielu-elukan sebagai “Venesia dari Timur”, kini terancam kehilangan jantungnya sendiri. 
Anak-anak sungai Musi yang sejak abad ke-7 menjadi denyut kehidupan kota, satu per satu lenyap — tertutup beton, berubah menjadi saluran limbah, atau mengering mati. 
Di tengah gegap gempita modernisasi, suara sejarah dan lingkungan nyaris tenggelam.
“Palembang itu kota sungai,” tegas Dr. Dedi Irwanto, M.A., sejarawan Universitas Sriwijaya sekaligus Ketua Pusat Kajian Sejarah Sumatera Selatan (Puskass). 
Pernyataannya itu ia sampaikan dalam Focus Group Discussion bertema “Sungai: Jejak Sejarah, Realita Hari Ini, dan Masa Depan Kota Palembang” yang digelar Senin (14/7/2025) di Utopia Palembang.
Bagi Dedi, sungai bukan hanya soal air yang mengalir. Sungai adalah nadi kehidupan, ruang budaya, jalur ekonomi, hingga arena diplomasi.
Pada abad ke-17, misalnya, Sungai Tengkuruk menjadi jalur utama menuju Kraton Cinde Belang — pusat pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam. 
“Kini sungai itu tinggal nama. Yang ada hanya pasar, beton, dan kemacetan lalu lintas,” ujar Dedi getir.
Dalam catatan kolonial Belanda, Palembang memiliki lebih dari 117 anak sungai yang menganyam kota layaknya jala raksasa. 
Bahkan jika ditarik ke masa lebih lampau, berdasarkan rekonstruksi peta kuno dan catatan I-Tsing abad ke-7, jumlahnya mencapai 700 sungai besar dan kecil yang memeluk Palembang.
Kolonialisme dan Modernisasi: Awal dari Petaka
Namun, gemilang masa lampau perlahan meredup sejak awal abad ke-20. Pemerintah kolonial Hindia Belanda menilai sungai justru biang penyakit. 
Pada 1913, mereka mengundang ahli sungai asal Belanda, Rudolf A. van Sandick, untuk memetakan sistem perairan Palembang. 
Alih-alih memperkuat, pemerintah kolonial justru menimbun banyak sungai untuk memperluas pelabuhan, pasar, dan membangun jalan raya.
“Kekuasaan membentuk ruang. Kolonialisme membawa zonasi dan pembangunan, tetapi sekaligus menghapus sistem ruang lokal yang berbasis air,” jelas Dedi. 
Ironi ini terus berlanjut hingga masa republik. Proyek urbanisasi dan pelebaran kota membuat sungai ditimbun demi kawasan bisnis, mall, dan perumahan.
Kini, data Koalisi Kawali (2025) menunjukkan hanya tersisa 114 sungai aktif di Palembang. Itu pun sebagian besar berubah wujud menjadi kanal mati atau got tertutup yang menebar bau busuk di musim panas.
Dari Jalur Kehidupan Menjadi Tempat Sampah
Dr. Kemas A.R. Panji, sejarawan UIN Raden Fatah Palembang yang juga anggota Puskass, mengungkapkan lebih pilu lagi. 
Menurutnya, Sungai Musi memang masih terlihat berkilau dari kejauhan, tapi kilau itu bukan lagi pantulan kejernihan air, melainkan pantulan minyak dan limbah domestik.
“Palembang bukan kota biasa. Ia lahir dari air. Sungai Musi dan anak-anaknya bukan sekadar jalur lalu lintas, melainkan ruang hidup yang membentuk lanskap budaya, sosial, hingga ekonomi,” katanya.
Ia pun menyinggung paradoks tragis Palembang: kota dengan sejarah sungai yang kaya, tetapi kini paling miskin pengelolaan. 
Rumah-rumah panggung yang dulu berjajar indah di tepian kini tinggal cerita. 
Anak-anak kota pun tak lagi mengenal nama sungai di kampungnya. 
“Sungai Aur, Prigi, Sekanak terdengar asing bagi generasi muda. Padahal itu identitas mereka,” ujar Kemas.
Revitalisasi: Harapan yang Masih Samar
Pemerintah Kota Palembang sejatinya tidak sepenuhnya diam. Proyek Sekanak Lambidaro Riverfront diharapkan bisa memulihkan ekosistem dan memoles wajah kota. 
Namun menurut Dedi, tanpa kesadaran sejarah dan partisipasi masyarakat, proyek itu hanya akan jadi lanskap tanpa jiwa. 
“Restorasi tanpa edukasi hanyalah mercusuar. Indah, tapi hampa,” katanya.
Dukungan lebih konkrit datang dari budayawan sekaligus konten kreator Palembang, Hidayatul Fikri. 
Menurutnya, harus segera dibentuk satgas percepatan normalisasi sungai. 
Salah satunya dengan memastikan Badan Pertanahan Nasional (BPN) memblokir penerbitan sertifikat tanah di atas koordinat sungai.
“Kalau tidak diblok, sungai habis. Rumah berdiri di atasnya, air menghilang,” tegasnya.
Ia juga mendesak segera diterbitkan Peraturan Daerah (Perda) yang tegas melarang pembuangan sampah ke sungai. 
Selain itu, perlu dibuat masterplan khusus transportasi sungai — bukan hanya speedboat wisata, tetapi moda sungai yang terintegrasi dengan pasar tradisional hingga terminal kota. 
“Kita ini kota sungai. Kenapa harus selalu macet di jalan darat?” katanya.
Sungai dan Masa Depan Palembang
Dedi Irwanto menegaskan, menyelamatkan sungai bukan sekadar merawat nostalgia. 
Ini soal bertahan hidup. Di tengah krisis iklim global, sungai menjadi koridor alami mitigasi banjir, penyimpanan air tanah, dan penjaga suhu kota. 
“Kalau sungai hilang, bukan hanya air yang tenggelam, tetapi juga identitas Palembang. Kita akan menjadi kota tanpa jiwa,” katanya.
Kemas pun menambahkan bahwa Palembang sebenarnya memiliki banyak regulasi — dari UU Sumber Daya Air, Perda, hingga Perwali — tapi hukum tanpa penegakan tak lebih dari lembaran kertas. 
Yang dibutuhkan hari ini adalah kesadaran kolektif. 
“Kalau kita gagal menjaga sungai hari ini, kita sedang menenggelamkan peradaban esok hari,” katanya.
Palembang punya modal sejarah yang luar biasa. Dari Benteng Kuto Besak yang dibangun di antara empat sungai (Kapuran, Sekanak, Tengkuruk, dan Musi), rumah Limas Cek Mas hingga rumah Baba Ong Boen Tjit yang dulunya adalah jantung perdagangan sungai. 
Jika dikelola serius, semua itu bisa menjadi koridor wisata sejarah sekaligus ekonomi hijau.
Harapan belum musnah. Penelitian menunjukkan bahwa sungai masih bisa dihidupkan kembali melalui revitalisasi anak-anak sungai, pemberdayaan komunitas tepian, promosi perahu ketek, hingga konservasi rumah limas. 
Semua itu harus dirangkai dalam satu visi besar: menata ulang narasi Palembang dari kota yang meminggirkan sungai menjadi kota yang merangkulnya kembali.
Karena pada akhirnya, menjaga sungai berarti menjaga sejarah, lingkungan, dan masa depan Palembang. Jika generasi hari ini gagal, maka mereka akan tercatat dalam sejarah bukan sebagai pewaris kota sungai, melainkan pengubur peradaban air. (***)



Tinggalkan Komentar Anda


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *



0 Komentar

Maroko
Top