Musi Online https://musionline.co.id 23 July 2026 @09:01 16 x dibaca 
Warga OKU Ramai-ramai Mendulang Emas di Sungai Ogan, Manfaatkan Musim Kemarau.
Musionline.co.id, Ogan Komering Ulu – Fenomena menarik terlihat di aliran Sungai Ogan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.
Puluhan warga tampak memadati kawasan sungai di belakang Gudang Garam untuk mencoba mendulang emas secara tradisional dengan memanfaatkan material endapan pasir dan kerikil yang berada di dasar sungai.
Aktivitas warga mendulang emas tersebut terpantau pada Rabu, 22 Juli 2026. Sejak pagi hari, sejumlah warga terlihat berkumpul di tepian hingga bagian dangkal Sungai Ogan.
Dengan menggunakan peralatan sederhana, mereka menciduk pasir dan kerikil dari dasar sungai untuk kemudian diproses secara manual dengan harapan menemukan butiran emas yang masih tersimpan di dalam endapan material sungai.
Pemandangan tersebut sontak menarik perhatian masyarakat yang melintas di sekitar kawasan Jembatan Ogan IV, Desa Tanjung Baru. Sejumlah pengguna jalan bahkan terlihat menghentikan kendaraan mereka di sekitar jembatan untuk menyaksikan aktivitas warga yang tengah berupaya mencari emas secara tradisional.
Kegiatan mendulang emas di Sungai Ogan ini disebut mulai dilakukan sejumlah warga ketika musim kemarau tiba. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat mencoba memanfaatkan peluang dari endapan material sungai untuk mendapatkan tambahan penghasilan, meski hasil yang diperoleh belum dapat dipastikan.
Salah seorang warga yang menyaksikan aktivitas tersebut dari atas jembatan, Ito, mengatakan kegiatan mendulang emas di kawasan itu mulai terlihat sejak musim kemarau.
“Sejak kemarau inilah baru ada yang coba-coba mendulang emas,” ujar Ito.
Warga Kelurahan Baturaja Lama tersebut menuturkan, aktivitas serupa sebelumnya juga pernah terlihat di sejumlah lokasi lain di sekitar wilayah Baturaja. Namun, berdasarkan pengamatannya, kegiatan mendulang emas di lokasi tersebut tidak memberikan hasil yang diharapkan.
“Dak ada emasnya di situ,” katanya.
Bagi warga yang kini mencoba mendulang emas di Sungai Ogan, kegiatan tersebut lebih banyak dilakukan sebagai upaya mencari penghasilan tambahan. Mereka tidak memiliki kepastian berapa banyak emas yang bisa diperoleh setiap hari. Bahkan, tidak menutup kemungkinan para pendulang pulang tanpa mendapatkan hasil.
Meski demikian, harapan untuk menemukan butiran emas yang memiliki nilai jual membuat mereka tetap bertahan. Dengan peralatan seadanya, para pendulang mengandalkan ketelitian, kesabaran, dan pengalaman dalam memisahkan material sungai yang dianggap berpotensi mengandung emas.
Aktivitas tersebut dilakukan dengan cara tradisional. Material berupa pasir dan kerikil yang diambil dari dasar sungai kemudian diproses menggunakan nampan atau alat sejenis untuk memisahkan material yang lebih ringan dari material yang memiliki berat jenis lebih tinggi.
Dalam prosesnya, para pendulang harus bekerja dengan hati-hati. Kondisi Sungai Ogan yang tampak berwarna coklat keruh menjadi salah satu tantangan tersendiri. Air sungai yang keruh tersebut diduga dipengaruhi oleh hujan yang mengguyur wilayah hulu dalam beberapa hari terakhir.
Selain air yang keruh, arus sungai juga terlihat sedikit lebih deras. Kondisi itu membuat para pendulang harus memperhatikan keselamatan ketika berada di bagian sungai yang dangkal maupun ketika mengambil material dari dasar aliran sungai.
Informasi yang beredar di tengah masyarakat menyebutkan bahwa kegiatan tersebut dilakukan warga sebagai upaya mencari tambahan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aktivitas itu bukan merupakan kegiatan penambangan dengan menggunakan peralatan berat, melainkan dilakukan secara manual dengan peralatan sederhana.
“Informasinya yang mendulang emas di sungai, hanya coba-coba cari tambahan uang buat dapur,” terang Ito.
Fenomena warga mendulang emas secara tradisional di Sungai Ogan pun menjadi pemandangan tersendiri bagi masyarakat Baturaja. Aktivitas tersebut dapat terlihat dari kawasan Jembatan Ogan IV, sehingga sejumlah warga yang melintas memilih berhenti sejenak untuk melihat langsung kegiatan para pendulang.
Keberadaan para pendulang di kawasan Sungai Ogan juga mendapat perhatian dari pihak kelurahan. Lurah Saung Naga, Kecamatan Baturaja Barat, Muhammad Reza Nurahman, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan peninjauan ke lokasi bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas.
Peninjauan tersebut dilakukan setelah pihak kelurahan mendapatkan informasi mengenai adanya aktivitas pendulangan emas di aliran Sungai Ogan. Pada awalnya, pihaknya sempat menduga bahwa kegiatan tersebut dilakukan dengan menggunakan alat berat.
Namun, setelah dilakukan pengecekan langsung ke lokasi, dugaan tersebut tidak terbukti. Para warga yang melakukan aktivitas pendulangan emas diketahui masih menggunakan peralatan sederhana berupa nampan.
“Iyo kak, tapi bukan yang pake alat berat. Masi pake nampan,” ujar Muhammad Reza Nurahman saat dikonfirmasi.
Dari hasil peninjauan tersebut, diketahui bahwa warga yang melakukan aktivitas mendulang emas berasal dari Kelurahan Saung Naga dan Kelurahan Pasar Baru.
Pihak kelurahan juga telah memberikan imbauan kepada para pendulang agar tetap memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Aktivitas pengambilan material sungai, meskipun dilakukan secara tradisional, tetap diharapkan tidak menimbulkan kerusakan terhadap aliran Sungai Ogan maupun kawasan di sekitarnya.
“Sudah kami imbau, agar menjaga lingkungan,” tegasnya.
Imbauan tersebut menjadi penting mengingat sungai merupakan salah satu bagian penting dari ekosistem dan kehidupan masyarakat. Aktivitas pengambilan material dari dasar sungai perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan tidak mengganggu aliran air maupun struktur tepian sungai.
Fenomena pendulangan emas tradisional di Sungai Ogan juga memperlihatkan bagaimana sebagian masyarakat memanfaatkan potensi lingkungan sekitar untuk mencari tambahan penghasilan. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah, aktivitas seperti ini menjadi salah satu pilihan bagi warga, meski hasilnya tidak menentu.
Namun, aktivitas tersebut tetap perlu mendapat perhatian agar tidak berkembang menjadi kegiatan penambangan yang berpotensi merusak lingkungan. Pengawasan dan edukasi kepada masyarakat menjadi penting untuk memastikan kegiatan yang dilakukan tetap memperhatikan keselamatan serta kelestarian sungai.
Hingga saat ini, aktivitas warga mendulang emas di kawasan Sungai Ogan tersebut masih dilakukan secara tradisional. Belum ada kepastian mengenai jumlah emas yang berhasil diperoleh para pendulang dari kegiatan tersebut.
Para warga yang turun ke sungai masih mengandalkan keberuntungan dan ketelitian dalam mencari butiran emas dari endapan pasir serta kerikil. Bagi mereka, setiap butiran yang ditemukan memiliki arti tersendiri karena dapat menjadi tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Dengan musim kemarau yang menjadi salah satu faktor munculnya aktivitas pendulangan tersebut, fenomena warga mencari emas di Sungai Ogan menjadi perhatian masyarakat Baturaja. Dari atas Jembatan Ogan IV, aktivitas itu dapat disaksikan sebagai gambaran kehidupan masyarakat yang berusaha memanfaatkan peluang ekonomi di tengah keterbatasan.
Meski demikian, keberlanjutan kegiatan tersebut tetap diharapkan berjalan dengan memperhatikan aspek keselamatan dan lingkungan. Terlebih, kondisi Sungai Ogan merupakan bagian penting bagi masyarakat di sepanjang alirannya.
Aktivitas mendulang emas secara tradisional pada akhirnya bukan hanya menjadi upaya warga mencari tambahan penghasilan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pemanfaatan sumber daya alam harus dilakukan secara bijak. Masyarakat diharapkan tetap menjaga kebersihan dan kelestarian Sungai Ogan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. (***)
0 Komentar