Musi Online | Religiusitas Rakyat dan Dinamika Konflik Sosial
Home        Berita        Ruang Seni Budaya

Religiusitas Rakyat dan Dinamika Konflik Sosial

Musi Online
https://musionline.co.id 15 September 2023 @08:56 194 x dibaca
Religiusitas Rakyat dan Dinamika Konflik Sosial

Oleh : Sabarnuddin

(Mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Padang)
 
 
Pengamalan nilai beragama ditengah kehidupan masyarakat majemuk semakin meningkat. Peningkatan menjalankan nilai agama menjadi satu nilai plus bagi keberlangsungan keberagaman dan kenyamanan hidup terlebih saat ini menuju masa keretakan sosial karena pemilu. Paradigma berpikir untuk kehidupan di masa datang setelah berakhir kehidupan di dunia menjadi landasan masyarakat menguatkan bathin dan keseharian nya sesuai tuntunan agama. Dukungan dari para pemuka agama dan bekerja sama dengan pemerintah menggebrak semangat keagamaan untuk menyatukan multikultural masyarakat. 
 
Implikasi yang langsung terasa dalam suasana nasional ialah semangat persatuan dan efektifitas kemajuan bersama. Kemajemukan merupakan modal yang besar bila dikelola dengan baik. Dilansir dari data hasil sigi Lembaga Survei Indonesia(LSI) yang dilakukan pada 3.090 responden dengan metode multistage random sampling pada 16-29 mei 2022 mayoritas tingkat Religiusitas atau tingkat kesalehan masyarakat Indonesia cukup tinggi. Hal itu tergambar dari 74, 8% warga yang menilai dirinya religius dalam kehidupan sehari-hari.
 
Secara rinci, ada 68,1% responden yang mengatakan dirinya cukup religius atau saleh.sebanyak 6,7% responden bahkan menganggap dirinya sangat religius. Sedangkan ada 21,8% responden yang tingkat religiusnya kurang. Sebanyak 2,2% responden menyatakan tidak religius sama sekali. Sisanya 1,1% responden tidak tahu atau tidak menjawab. Dalam mempertimbangkan keputusan dalam hidup 81,7% mejawab melihat ajaran agama. Sementara, 15,6% responden jaran melakukan hal tersebut. Lalu 1,8% responden yang tidak pernah mempertimbangkan nilai agama dalam hidupnya. 
 
Data yang senada juga dirilis oleh Pew Researc Center dalam survei nya “The Global God Divide” (2020) dengan peringkat kereligiusan seseorang dipengaruhi oleh ekonomi, tingkat pendidikan, dan usia. Survei yang terbit 21 juli lalu dengan mewawancarai 38.426 orang di 34 negara. Hasilnya, rata-rata 45% penduduk dunia percaya seseorang harus beriman kepada tuhan untuk menjadi bermoral. Rata- rata 62% orang juga merasa Tuhan, agama dan ibadah juga berperan penting dalam hidup.
 
Menariknya, Indonesia berada di peringkat teratas denga 96% responden indonesia menganggap seseorang harus beriman kepada tuhan dan 98% berpendapat agama penting dalam hidup mereka. Terakhir Presiden Joko Widodo mengungkap masyarakat dunia mulai tidak religius namun berdasarkan survei IPSOS Global Religion tahun 2023 terhadap 19.731 orang dari 26 negara menunjukkan 29% menyatakan mereka agnostik dan ateis. Indonesia menempati peringkat pertama paling percaya Tuhan menurut Yurizard Center yaitu 96%  responden.
 
Pemaparan data-data diatas menggambarkan betapa kuatnya penanaman nilai agama yang gencar dilakukan oleh pemuka agama di seluruh penjuru negeri. Esensi beragama yang difahami masyarakat menghantarkan kedamaian bagi pemeluknya dan menjadi tujuan dari seluruh negara di dunia mendamaikan dunia dari konflik apapun.
 
Solusi yang ditawarkan oleh agama merefleksikan bahwa agama bukan sumber perpecahan dan peperangan di muka bumi, justru para pemeluk agama yang tidak menjalankan agama dengan benar yang mempropagandakan kepentingan atas dasar agama. Penjelasan agama sangat lengkap dalam mewujudkan kedamaian bagi seluruh ummat nya, namun kepentingan berbagai pihaklah yang menganulir ayat atau panduan agama untuk memuluskan tujuan tertenntu. 
 
 Alamiah Kehidupan Masyarakat
 
Dalam menjalani aktivitasnya, masyrakat sudah berkecimpung dengan nilai religius atau hal mistis sejak dahulu kala. Hal ini menjadi faktor yang membuat tingginya angka religiusitas masyarakat. Disamping itu kepercayaan pada Tuhan yang kuat menjadikan ada kekuatan tersendiri bagi mereka bahwa setiap hal yang terjadi atas kehendak tuhan dan sebagai ummat harus mampu menerima dan mengintropeksi atas hal tersebut.
 
Problematika yang terjadi pada lingkungan masyarakat bawah dilatarbelakangi dengan runtuhnya nilai kemanusiaan walaupun pelaku nya merupakan pemeluk agama yang taat. Dalam konsep yang diajarkan agama, kebaikan merupakan intisari pengamalan yang benar sesuai panduan yang terdapat dalam kitab suci agama masing-masing. Namun, terjadi miskonsepsi bahwa kelompok tertentu memperolok ajaran agama atau aliran tertentu maka terjadilah keributan yang tidak berkesudahan. Dalam hal lain terdapat pelaku kejahatan yang jelas-jelas fanatik pada agama justru menjadi sponsor utama perusak dan pembuat skenario kerusuhan di masyarakat. 
 
Salah satu tugas dari pemuka agama meluruskan sekaligus menyatakan sikap atas para perusuh atau pelaku kejathatan atas nama agama yang mencoreng kemurnian agama dengan perilaku yang membuat pihak lain berpandandangan skeptis pada ajaran agama. Dalam realisasinya paradigma seseorang pada ajaran agam tertentu berpihak pada pemeluk agamanya, bila pada masyarakat mereka berbuat tidak mencerminkan pemeluk agama yang baik bagaimana meyakinkan bahkan mendemontrasikan betapa humanisnya ajaran agama yang ada.
 
Peran Pendidikan Mengarahkan Pada Agama
 
Peran penting pendidikan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan keberagamaan hidup masyarakat. Sejak awal perkembangan berpikir seseorang dimulai dari sekolah atau tempat ia menimba ilmu. Maka permulaan anak yang kelak akan tumbuh dewasa dan ikut serta sebaga masyarakat harus dibekali dan diajarkan nilai agama yang berkualitas. 
 
Penanaman nilai agama yang mencakup didalamnya mencintai negara dan bangsa serta menjaga keutuhan masyarakat, harus dilakukan dengan pengajaran yang moderat. Fanatisme pada ajaran agama hingga menyalahkan agama lain justru berakibat fatal, maka keseimbangan pengajaran agama harus sesuai dengan kultural dan kehudupan pada siswa di sekolah. 
 
Kemajemukan yang tidak diselaraskan dengan inovasi mengajar akan menimbulkan kebosanan dan tidak menambah semangat mendalami agama. Siswa sekolah hari ini merasakan nilai agama yang ia pelajari tidak kompatibel dengan tren yang tengah ia jalani, maka guru harus mampu menciptakan gaya baru untuk meningkatkan motivasi belajar serta tidak meninggalkan esensi nilai spiritual yang menjadi bekal dikemudian hari bagi anak. Tuntutan pendidikan hari ini memang sangat berat justru ini menjadi tantangan tersendiri untuk memunculkan gagasan baru dalam guru beradaptasi memulai babak baru sesuai permintaan siswa sekolah belajar. 
 
Efek Kesejahteraan yang Diterapakan Pemerintah
 
Dampak yang terasa pada masyarakat jika pemerintah mampu membuat sejahtera seluruh elemen masyarakat ialah meningkatnya kepercayaan pada pemerintahnya serta ketenangan menjalankan agamanya. Salah satu faktor yang membuat rakyat tidak berpihak atau berusaha menyudutkan pemerintah karena tidak sinkronnya antara harapan yang diberikan dengan realisasi dilapangan. Jika penempatan sumber daya alam dan sumber daya manusia sesuai dengan porsinya maka menjadikan negara ini sejahtera sangat mudah, tetapi pada kenyataannya adanya ketimpangan antara realisasi program pemerintah dengan rancangan awal program yang bersama direncanakan dengan usul masyarakat. 
 
Hal yang melatarbelakangi tidak yakinnya rakyat pada agamanya ialah masalah ekonomi pribadi, tidak jarang hal ini membuat banyak kejahatan yang terjadi hingga berujung ke aparat penegak hukum. Maka peran serta pemerintah memberikan rasa aman baik ekonomi, agama atau kesehatan serta pendidikan akan menjadikan rakyat fokus pada ajaran agamanya.rakyat yang taat pada ajaran agama akan menjadi pendorong kedamaian dunia di tengah gempuran konflik global karena perebutan sumber daya alam. Penyelesaian konflik masyarakat akan lebih mudah jika dilakukan dengan preventif menganjurkan masyarakat hidup sesuai ajaran agama nya demi terwujudnya kerukunan dan kemajuan bersama.



Tinggalkan Komentar Anda


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *



0 Komentar

Sumsel Maju
Maroko
Top