Musi Online https://musionline.co.id 31 July 2025 @18:26 207 x dibaca 
Kolaborasi Global South Kunci Penguatan Ekosistem Informasi di Era AI Terungkap Dalam Konferensi Regional CTRL+J APAC 2025.
Musionline.co.id, Jakarta - Konferensi regional CTRL+J Asia-Pacific 2025 resmi ditutup pada Rabu, 24 Juli 2025, setelah berlangsung selama tiga hari penuh di Hotel Le Meridien, Jakarta.
Acara ini digelar oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan International Fund for Public Interest Media (IFPIM) sebagai upaya membangun sinergi antarnegara di kawasan Asia-Pasifik dan lebih luas lagi, negara-negara di kawasan Global South seperti Amerika Latin dan Afrika.
Dengan mengusung tema sentral tentang peran media dan jurnalisme berkualitas di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), konferensi ini menghadirkan ratusan peserta dari kalangan jurnalis, akademisi, pegiat media, dan pakar teknologi digital lintas negara.
Diskusi Tiga Hari yang Penuh Rekomendasi Strategis
Selama berlangsungnya forum, para peserta dan narasumber dari berbagai latar belakang melakukan diskusi intensif mengenai tantangan serta potensi teknologi dalam dunia media. Beberapa topik penting yang dibahas antara lain:
Dampak AI terhadap masa depan jurnalisme
Kesenjangan akses dan literasi digital di negara-negara berkembang
Pentingnya regulasi untuk perlindungan konten jurnalistik
Strategi bisnis media di tengah disrupsi digital
Panel-panel diskusi menghasilkan sejumlah rekomendasi konkret, termasuk perlunya regulasi tata kelola AI, pembuatan laboratorium digital lintas negara, serta penguatan ekosistem media independen yang bebas dari intervensi kekuatan politik dan ekonomi.
Kolaborasi Negara-Negara Global South Jadi Sorotan Utama
Salah satu momen penting dalam konferensi adalah sesi yang membahas kolaborasi strategis antarnegara Global South.
Dengan tantangan yang serupa – mulai dari keterbatasan infrastruktur digital, disinformasi, hingga dominasi platform teknologi global – kerja sama lintas kawasan dinilai sangat krusial.
Para peserta dibagi dalam kelompok untuk memetakan kesamaan ekosistem informasi di kawasan masing-masing dan menyusun rencana aksi jangka panjang.
Hasilnya, banyak ide inovatif yang mengemuka, termasuk gagasan untuk membangun platform teknologi lokal, serta pemanfaatan teknologi digital untuk membangun kapasitas media kecil dan menengah.
Tekanan Terhadap Jurnalis dan Pentingnya Model Bisnis Baru
Dalam diskusi lain, disepakati bahwa jurnalisme berkualitas tidak dapat berkembang tanpa dukungan ekonomi yang kuat.
Oleh karena itu, dibutuhkan model bisnis media yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga berkelanjutan dan adil bagi para jurnalis.
Para peserta juga mengkritisi praktik teknologi AI yang seringkali mengambil konten jurnalistik tanpa izin, dan mendesak regulasi yang melindungi kekayaan intelektual karya media.
Pesan-Pesan Penutup: Semangat Kolaborasi Jangan Padam
Arkka Dhiratara, Pengurus Nasional AMSI, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh peserta dan pembicara.
"Konferensi ini telah membuka mata kita bahwa AI adalah kenyataan yang tak bisa dihindari, dan kita perlu memperkuat solidaritas antarmedia lintas negara untuk menjawabnya."
Ketua AJI Indonesia, Nany Afrida, menambahkan bahwa peran jurnalis semakin krusial di tengah derasnya arus informasi dan maraknya disinformasi.
“Kita harus mempertahankan integritas profesi jurnalis di era ketika kebenaran semakin kabur karena algoritma,” ujarnya.
Sementara itu, Ivy Ong, Director for Asia and the Pacific IFPIM, menyatakan harapannya agar semangat kolaboratif tetap menyala setelah konferensi berakhir.
"Kita telah memulai sesuatu yang besar. Tantangan yang kita bahas tidak akan selesai dalam tiga hari, tapi langkah awal sudah kita bangun bersama di Jakarta."
CTRL+J APAC 2025 menjadi bukti bahwa kolaborasi antarnegara berkembang di bidang media bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak.
Dengan menghadirkan pemikiran-pemikiran segar, membangun jejaring, dan mendorong inovasi regulasi, konferensi ini menegaskan pentingnya solidaritas Global South dalam menghadapi tantangan teknologi informasi yang kompleks. (***)
0 Komentar